Jakarta

Gonjang-ganjing Pemilu AS 2024, Joe Biden Mundur dari Pencalonan Presiden Usai Kalah Debat dari Donald Trump?

Saeful Anwar | 22 Juli 2024, 07:52 WIB
Gonjang-ganjing Pemilu AS 2024, Joe Biden Mundur dari Pencalonan Presiden Usai Kalah Debat dari Donald Trump?

AKURAT JAKARTA - Presiden Amerika Serikat, Joe Biden mengundurkan diri dari pemilihan Presiden Amerika Serikat pada Minggu, 21 Juli 2024.

Keputusan tersebut diumumkan Joe Biden dalam akun sosial media X dan mengatakan secara resmi tidak akan ikut dalam pemilihan presiden Amerika Serikat untuk melawan Donald Trump.

Selain memberikan informasi mengenai kemunduran dirinya, Joe Biden juga mengumumkan Kamala Harris sebagai penggantinya dalam pemilu kali ini.

Baca Juga: Resep dan Sejarah Nasu Palekko, Olahan Daging Bebek Khas Makassar, Rasanya Gurih Pedas dan Dijamin Bikin Ketagihan

Biden juga menyerukan dukungan penuh untuk Kamala Harris sebagai wakil dari partai Demokrat.

"Rekan-rekan Demokrat, saya telah memutuskan untuk tidak menerima nominasi tersebut dan memfokuskan seluruh energi saya pada tugas saya sebagai Presiden selama sisa masa jabatan saya. Keputusan pertama saya sebagai calon partai pada tahun 2020 adalah memilih Kamala Harris sebagai Wakil Presiden saya. Dan itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat. Hari ini saya ingin memberikan dukungan dan dukungan penuh saya agar Kamala menjadi calon partai kita tahun ini. Demokrat, inilah waktunya untuk bersatu dan mengalahkan Trump. Mari kita lakukan," tulis Joe Biden dalam akun sosial media X dikutip pada Senin, 22 Juli 2024.

Keputusan Joe Biden ini diambil setelah penampilan debat yang dinilai buruk dan angka survei dirinya yang menurun drastis.

Baca Juga: AWAS! Cuaca Ekstrem Bakal Melanda Sejumlah Wilayah Ini Besok, Akibat Adanya Bibit Siklon Tropis 91W dan 92W di Laut Filipina

Mundurnya Biden dalam pemilu AS pada saat-saat terakhir merupakan sesuatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah pemilu modern AS dan merupakan langkah yang sangat berisiko.

Saat menetapkan calon resmi, para delegasi dari 50 negara bagian menghadiri konvensi pencalonan musim panas partai mereka dan secara resmi menunjuk seorang kandidat berdasarkan hasil pemilihan pendahuluan.

Biden secara mutlak memenangkan suara pemilihan pendahuluan sekitar 3.900 delegasi partai yang akan menuju konvensi di Chicago pada bulan Agustus.

Baca Juga: Vokasi Fest 2024 Pamerkan Hasil Kreativitas Siswa SMK di Jakarta, Heru Budi Puji dan Janji Promosikan Terus Karya Mereka

Dengan mundurnya Biden tentu saja para delegasi harus mencari pengganti. Hal ini seperti melihat politik AS di masa lalu, ketika para petinggi partai bersaing untuk memilih calon melalui kesepakatan dan putaran pemungutan suara yang tak ada habisnya pad tahun 1968.

Presiden saat itu, Lyndon Johnson membuat pengumuman mengejutkan di tengah Perang Vietnam bahwa ia tidak akan mencalonkan diri kembali.

Langkah tersebut mengubah konvensi menjadi krisis politik dengan para pengunjuk rasa di jalanan dan para delegasi yang condong ke kiri marah terhadap sikap pro-perang dari calon pilihan partai, Hubert Humphrey.

Baca Juga: Apakah Namamu Sudah Masuk dalam Daftar Pemilih Pilkada 2024? KPU DKI Imbau Warga Jakarta Cek di Website Ini

Setelah kekacauan tersebut, negara bagian lebih banyak menerima proses pemilihan pendahuluan dan konvensi menjadi acara yang terorganisir dengan baik yang hasilnya diketahui di muka karena ditentukan oleh pemilihan pendahuluan.

Lalu dengan mundurnya Biden, apakah kandidat partai ketiga yang kuat bisa muncul? Sejauh ini, tidak ada calon independen yang mengancam dua partai dominan di Amerika Serikat.

Mundurnya Biden menciptakan kekosongan yang harus diisi oleh partai Demokrat dengan cepat dan strategis.

Baca Juga: Heboh Wanita Transgender Pakai Cadar Ikut Kajian Ustadz Hanan Attaki, Diduga Wanda Hara, Datang Bersama Rombongan Nagita Slavina

Dengan konvensi Demokrat yang dijadwalkan pada bulan Agustus di Chicago, para delegasi harus segera mencari pengganti yang kuat untuk menghadapi Trump dalam pemilihan presiden.

Langkah ini bisa menjadi momen krusial bagi partai untuk menyatukan kembali barisan mereka dan memastikan bahwa mereka siap untuk menghadapi tantangan besar di depan.

Konvensi ini kemungkinan akan menjadi ajang yang penuh ketegangan, mengingat banyaknya nama besar yang disebut-sebut sebagai calon potensial.

Meskipun Kamala Harris telah mendapat dukungan dari Biden, ia harus berjuang untuk memenangkan hati para delegasi dan pemilih.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.