Undip Akhirnya Akui Ada Praktik Perundungan di Lingkungan PPDS Anestesi, Termasuk Iuran Rp20-40 Juta Per Bulan

AKURAT JAKARTA - Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Yan Wisnu Praojoko kini akui adanya praktik perundungan di lingkungan internal PPDS.
Pernyataan itu ia ungkapkan saat kunjungan anggota Komisi IX Irma Suryani Chaniago di Fakultas Kedokteran Undip Semarang pada Jumat (13/9).
Yan Wisnu dalam pertemuannya dengan Komisi IX mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada publik.
Terutama terkait kasus perundungan dalam berbagai bentuk di internal mereka, yang menimpa dokter Aulia Risma.
Baca Juga: Refly Harun Beri Tanggapan Soal Data Fufufafa yang Dibocorkan Anonymous: Sudah Gak Bisa Dibantah!
"Kami mengakui bahwa didalam sistem pendidikan dokter spesialis di internal kami terjadi praktik-praktik atau kasus-kasus perundungan dalam berbagai bentuk, dalam berbagai derajat, dalam berbagai hal" ungkap Yan Wisnu.
Dekan Fakultas Kedokteran Undip juga mengungkapkan permohonan maaf kepada masyarakat atas kegaduhan perundungan yang menimpa mahasiswi PPDS Anestesi Undip yang juga dilakukan oleh peserta didik mereka.
Ia juga memohon maaf kepada Menteri Kesehatan dan Mendikbudristek atas kasus yang belakangan ini terjadi dilingkungan PPDS Undip.
"Dengan demikian kami memohon maaf kepada masyarakat terutama, kepada kementerian kesehatan, kepada kementrian dikbudristek, dan kepada komisi IX DPR RI, Komisi X DPR RI. Kami memohon maaf bila masih ada kekurangan kami dalam kami menjalankan pendidikan khususnya kedokteran spesialis" ungkapnya lagi.
Adapun terkait kasus perundungan yang terjadi pada dokter residen Aulia Risma, Yan Wisnu juga mengakui adanya pungutan diluar pendidikan PPDS Anestesi pada semester pertama.
"Jadi mereka itu disemester kayak dianestesi lah kita ngomong anestesi disemester per satu, semester satu pertama mereka per bulan lebih kurang 20-40 per bulan untuk 6 bulan" katanya.
Lebih lanjut, Yan mengungkapkan bahwa biaya itu diperuntukan sebagai biaya operasional termasuk biaya makan.
"Untuk itu gotong royong mengkonsumsi (biaya konsumsi)" tutur Yan.
"Hasil investigasi terhadap mahasiswa PPDS yang sudah diperiksa, konsepnya gotong royong," katanya lagi. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di UNL, 28 September 2026: Duel Penentu Kemenangan Kedua di Yerevan
- 2Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UNL, 27 September 2026: Duel Seru di Kaunas!
- 3Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UNL, 28 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit di Tbilisi?
- 4Prediksi Skor Belgia vs Prancis di UNL, 29 September 2026: Tanpa Mbappe, Les Bleus Diuji di Brussels
- 5Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe di UNL, 29 September 2026: Duel Ketat Minim Gol di Chisinau
- 6Prediksi Skor Turki vs Italia di UNL, 29 September 2026: Duel Dua Tim yang Sama-Sama Tertekan
- 7Prediksi Skor Irlandia Utara vs Hungaria di UNL, 29 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Lanjutkan Momentum Kemenangan?
- 8Prediksi Skor Latvia vs Siprus di UNL, 28 September 2026: Duel Tim yang Sama-Sama Ingin Bangkit
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






