Jakarta

Mengabadikan Ismet Iskandar Sebagai Nama Jalan atau Stadion, Aspirasi dari Arus Bawah Kabupaten Tangerang

Sastra Yudha | 21 Oktober 2024, 15:54 WIB
Mengabadikan Ismet Iskandar Sebagai Nama Jalan atau Stadion, Aspirasi dari Arus Bawah Kabupaten Tangerang

AKURAT JAKARTA - Kepergian untuk selamanya mantan Bupati Tangerang, Ismet Iskandar, masih menyisakan duka yang mendalam bagi masyarakat Kabupaten Tangerang.

Tak terkecuali bagi penulis sendiri. Penulis punya banyak kenangan saat berinteraksi langsung dengan ayahanda dari Ketua DPD Golkar Jakarta, Ahmed Zaki Iskandar ini.

Kala itu, tahun 2005 hingga 2007, penulis diberi amanah untuk memimpin redaksi media cetak SN, harian terbesar di Tangerang yang merupakan bagian dari Jawa Pos Grup.

Saat itu, Ismet Iskandar menjabat Bupati Tangerang untuk periode pertamanya. Diketahui, Ismet menjabat bupati dua periode, yaitu periode 2003 - 2008 dan 2008 - 2013.

Baca Juga: Manajer Zaki Iskandar Optimistis Timnas U-17 Indonesia Juara Grup dan Langsung Lolos Piala Asia

Ismet memulai karir birokrat dari bawah. Sebagai camat, kepala dinas, sekretaris daerah, hingga bupati dua priode. Itulah yang membuatnya sangat dekat dengan semua kalangan. Tak terkecuali dengan teman-teman wartawan.

Awal-awal reformasi, di mana kebebasan pers baru saja dibuka, namun Bupati Ismet sudah menerapkan keterbukaan. Ia paling gampang ditemui wartawan.

Bahkan, seringkali beliau sengaja mengumpulkan wartawan untuk sekedar kongkow-kongkow, ngobrol ngalor-ngidul, atau sharing gagasan atau pendapat.

Tak hanya dengan wartawan, Bupati Ismet juga dikenal dekat dengan rekan-rekan aktivis. Semuanya dirangkul, tanpa pandang bulu. Termasuk para aktivis yang sering mengkritiknya.

Meski begitu, sebagai kepala daerah, Ismet juga dikenal sebagai sosok yang tegas. Karena itu, ia cukup disegani oleh kawan maupun lawan politiknya.

Kepada bawahannya, para ASN di Pemkab Tangerang, Ismet Iskandar juga merupakan sosok yang mengayomi.

Karena itu, tak berlebihan jika sejumlah aktivis Tangerang menginginkan agar Pemerintah Kabupaten Tangerang memberikan apresiasi atas jasa-jasa Ismet Iskandar selama menjabat Bupati Tangerang.

Ismet telah banyak menorehkan prestasi dengan membangun infrastruktur jalan penghubung di daerah berjuluk kota seribu industri tersebut.

Baca Juga: Maesyal-Intan Dinilai Paling Menguasai Materi Dibanding Paslon Lain saat Debat Perdana Pilkada Kabupaten Tangerang

Sejumlah jalan yang pernah dibangun dan saat ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, antara lain Jalan Lintas Selatan (JLS), penghubung antar Kabupaten Tangerang dengan Kota Tangerang Selatan, Jalan Lintas Utara (JLU) dan Jalan Lintas Tengah atau Jaliteng.

JLU dan Jaliteng merupakan jalan penghubung yang biasa digunakan warga Pantai Utara dan tengah Tangerang menuju Bandara Soekarno-Hatta serta ke kawasan PIK 2.

Jalan-jalan itu kini fungsinya cukup banyak, termasuk menghidupkan roda perekonomian warga sekitar.

Untuk mengenang jasa-jasa Ismet Iskandar, arus bawah Kabupaten Tangerang mengusulkan agar nama Ismet Iskandar dijadikan nama jalan, nama Stadion Kelapa Dua, dan atau nama alun-alun di Tigaraksa.

Ada beberapa alasan, kenapa penamaan area publik ini pantas disematkan nama Ismet Iskandar.

Pertama, penghormatan atas jasa-jasa H. Ismet Iskandar. Kedua, pemberian atas keteladanan dan menginspirasi. Ketiga, sebagai Simbol prestasi dan dedikasi.

Baca Juga: MERAPAT! Nih Jadwal Konser Sheila On 7 di Surabaya, Catat Tanggal dan Lokasinya di Sini

Pengamat publik dari Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Memet Chumaidi, mendukung pemberian penghargaan kepada almarhum Ismet Iskandar atas jasa-jasanya dalam membangun Kabupaten Tangerang.

"Semasa hidupnya, almarhum mendermakan Waktu dan tenaganya untuk masyarakat kabupaten Tangerang. Semua dilaluinya dengan khidmat. Sehingga Kabupaten Tangerang memiliki nama besar atas racikan tangan dinginnya sebagai birokrat ulung," katanya.

"Sahabat, kolega, rekannya banyak menyaksikan hidupnya bahwa beliau orang baik. Begitupun beliau banyak melahirkan, membentuk dan mengembangkan anak-anak ideologis yang terpukau atas kharisma kepemimpinannya," lanjutnya.

Ketika ada hal baik yang dilontarkan untuk mengenang nama Ismet Iskandar, masyarakat pasti mengapresiasi. Seperti penamaan jalan, gedung, alun-alun atau tempat-tempat publik.

Karena hal itu merupakan bentuk penghargaan terhadap jasa dan kontribusi almarhum dalam pemerintahan atau pelayanan publik.

“Biasanya, penamaan ini diberikan kepada tokoh yang memiliki rekam jejak signifikan dalam reformasi birokrasi, peningkatan kualitas pelayanan publik, atau dedikasi yang tinggi dalam mengabdi pada negara,” ujarnya.

Namun demikian, proses penamaan biasanya memerlukan persetujuan pemerintah daerah atau instansi terkait.

Baca Juga: Detik-detik Mobil travel Elf Tabrak Truk dan Pembatas Jalan, 5 Korban Tewas Kecelakaan Maut di Tol Pasuruan-Probolinggo

Sebagaimana Peraturan Pemerintah (PP) No. 2 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nama Rupabumi.

Disebutkan bahwa penamaan jalan atau unsur rupabumi menggunakan nama tokoh yang telah meninggal dunia dapat dilakukan setelah lima tahun sejak kematian tokoh tersebut.

Ini bertujuan untuk memberikan jarak waktu yang cukup, untuk menilai kontribusi dan pengaruh tokoh tersebut secara objektif dalam sejarah dan kehidupan masyarakat.

“Saya yakin publik akan menerima, jika penamaan jalan atau suatu bangunan gedung atau tempat-tempat publik lainnya disematkan nama beliau,” tegasnya.

Ismet Iskandar meninggal dunia pada hari Selasa (15/10/2024) sekira pukul 22.30 WIB. Pria kelahiran Rangkasbitung 2 Mei 1948 itu wafat di Rumah Sakit Umum (RSU) Kabupaten Tangerang. (*)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.