Jakarta

Solusi Atasi Banjir yang Sering Landa Wilayah Cikupa, Pemkab Tangerang Mulai Bangun Polder Cibadak Seluas 2.847 Meter, Ini Fungsinya!

Sastra Yudha | 18 Juni 2025, 09:45 WIB
Solusi Atasi Banjir yang Sering Landa Wilayah Cikupa, Pemkab Tangerang Mulai Bangun Polder Cibadak Seluas 2.847 Meter, Ini Fungsinya!

AKURAT JAKARTA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang resmi memulai pembangunan kolam retensi atau Polder Cibadak di Kecamatan Cikupa.

Polder seluas 2.847 meter persegi ini sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi banjir yang telah melanda wilayah tersebut selama lebih dari satu dekade.

Polder Cibadak diproyeksikan memiliki daya tampung hingga 7.762 meter kubik air, dan berfungsi sebagai penampung air hujan dari tujuh desa sekitar.

Baca Juga: Resmi Dibuka Bupati Maesyal, Pekan Olahraga Pelajar Tingkat Kabupaten Tangerang Diikuti 1.674 Peserta, Berikut Cabor yang Dipertandingkan

Selanjutnya, air hujan yang telah tertampung itu akan dialirkan ke saluran pembuangan atau kanal irigasi, setelah kondisi normal.

Peletakan batu pertama pembangunan Polder Cibadak telah dilakukan oleh Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, pada Selasa (17/6/2025).

Dalam sambutannya, Bupati Maesyal Rasyid mengatakan bahwa pembangunan Polder Cibadak ini merupakan salah satu prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Tangerang.

Pembangunan Polder dikhususkan untuk penanganan air di wilayah dengan topografi rendah, yang tidak memungkinkan untuk membuang air langsung ke sungai.

“Wilayah ini sudah terlalu lama menjadi langganan banjir, karena kondisinya berada di cekungan, lebih rendah dari jalan maupun saluran air," ungkapnya.

"Maka satu-satunya solusi adalah dengan membangun tandon air atau kolam retensi yang bisa menampung air dari tujuh desa sekitar,” sambungnya.

Baca Juga: Pembangunan Tanggul Rob Muara Angke, Legislator Golkar Sebut Sejalan dengan Visi-Misi Presiden Prabowo

Tandon atau Polder yang akan dibangun memiliki kedalaman sekitar enam meter dan berfungsi sebagai tempat penampungan sementara saat debit air tinggi, terutama saat musim hujan.

Air yang tertampung di kolam retensi ini nantinya akan dialirkan secara bertahap ke saluran pembuangan air di wilayah Cimane, setelah muka air sungai kembali normal.

Infrastruktur ini dirancang khusus untuk menampung limpahan air hujan dan mencegah meluapnya aliran air ke permukiman warga.

Selain mengurangi risiko banjir, infrastruktur ini juga dirancang sebagai ruang terbuka hijau dan sumber air baku alternatif.

Proyek Polder Cibadak ini ditargetkan rampung dalam enam bulan, atau hingga November 2025.

"Proses pembangunan direncanakan membutuhkan waktu selama 6 bulan, dimulai sejak bulan ini hingga bulan November 2025 mendatang," jelasnya.

Baca Juga: Tanggal Berapa Konser Souljah dan Feel Koplo di Jakarta Fair Kemayoran, Simak Jadwal Lengkap PRJ 2025 di Sini

Sementara Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kabupaten Tangerang, Iwan Firmansah Effendi, menjelaskan bahwa pembangunan Polder Cibadak ini bukan hanya untuk menanggulangi banjir.

Tetapi juga bagian dari konservasi air di wilayah yang telah mengalami alih fungsi lahan dari pertanian menjadi permukiman dan industri.

“Kolam ini menjadi tempat ‘parkir’ air sementara, karena air dari permukiman sekitar tidak bisa langsung dibuang ke sungai. Jarak dari kolam ke saluran pembuangan sekitar 600 meter, dan ini tentu memerlukan dukungan dari semua pihak,” jelas Iwan.

Pemkab Tangerang juga akan menggandeng para pemilik lahan, pengembang, serta pemerintah desa dan kecamatan untuk bersama-sama membuka jalur air menuju saluran pembuangan.

Hal ini dilakukan agar penanganan banjir dapat dilakukan secara menyeluruh dan tidak bersifat parsial, yang hanya akan memindahkan genangan ke wilayah lain.

Baca Juga: Pandangan Umum Fraksi Golkar DKI Jakarta atas Pengelolaan APBD 2024, Pengawasan Harus Diperketat

"Harapan kami kepada masyarakat, perlu disadari bahwa banjir itu memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya. Namun setidaknya, kita bisa kurangi durasi banjirnya, kita turunkan ketinggian genangannya," tegasnya.

Dengan begitu, lanjutnya, aktivitas masyarakat tetap bisa berjalan dan pelayanan publik dari pemerintah tetap bisa diberikan secara optimal. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.