Jakarta

Tips Agar Tak Salah Sikap Seperti Senator Bali Arya Wedakarna, Pahami Apa Itu Diskriminasi Rasis, Simak Penjelasannya

Fikri Hidayatulloh | 2 Januari 2024, 21:22 WIB
Tips Agar Tak Salah Sikap Seperti Senator Bali Arya Wedakarna, Pahami Apa Itu Diskriminasi Rasis, Simak Penjelasannya

AKURAT JAKARTA - Senator dari Bali, Arya Wedakarna, mendapat kecaman dari netizen karena dinilai berbuat rasis saat memimpin rapat DPD dengan Kepala Bea Cukai Bali Nusa Tenggara dan Kepala Bea Cukai Bandara I Gusti Ngurah Rai, di Bali pada 29 Desember 2023.

Dari tayangan video amatir yang beredar di media sosial, Arya Wedakarna mengaku tidak suka Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, menempatkan perempuan berjilbab sebagai front line Bandara.

Arya mengatakan Bali bukan Timur Tengah. Arya Wedakarna meminta Bandara I Gusti Ngurah Rai mengganti petugas front line dengan gadis Bali yang menampilkan rambut terurai dan terbuka.

Baca Juga: Setelah Dikecam Natizen, Anggota DPD RI Arya Wedakarna yang Dituding Rasis ke Wanita Berjilbab Akhirnya Beri Klarifikasi: Video itu Dipotong...

Banyak publik menghujat pendapat Arya Wedakarna di media sosial. Mereka menuding Arya Wedakarna telah berlaku diskriminasi rasis.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Surabaya, Hesti Armiwulan, menyatakan berbagai persoalan diskriminasi di Indonesia yang berpotensi sebagai sebab terjadinya konflik, antara lain, diskriminasi rasial atau diskriminasi atas dasar etnis dan diskriminasi berbasis agama dan kepercayaan.

Hesti Armiwulan menuangkan pendapatnya tersebut dalam artikel berjudul Diskriminasi Rasial dan Etnis sebagai Persoalan Hukum dan Hak Asasi Manusia yang terbit di ejournalundip.ac.id.

Hesti Armiwulan mengungkap sejumlah kasus di Tanah Air yang berawal dari isu rasial yang menimbulkan konflik bahkan menjadi sebuah tragedi kemanusiaan. Antara lain, Kasus kerusuhan Mei 1998, kasus di Sambas-Kalimantan Barat 1998–1999, dan kasus di Sampit Kalimantan Tengah pada 2001.

Baca Juga: Anggota DPD RI Arya Wedakarna Dituding Rasis ke Wanita Berjilbab, Begini Komentar Tokoh Bali Ni Luh Djelantik

Geografis Indonesia yang sangat luas dan jumlah penduduk beragam suku atau etnis menyebabkan sangat rentan dengan konflik yang bernuansa ras dan etnis.

Perbedaan suku bangsa ditambah kesenjangan sosial dan ekonomi, kemiskinan, serta diskriminasi ras dan etnis seringkali menyebabkan gesekan-gesekan yang dapat memicu terjadinya kerusuhan sosial di tengah masyarakat.

Menurut Hesti, diskriminasi ras dan etnis di tengah masyarakat ini, antara lain, disebabkan karena stigma yang berkembang di dalam masyarakat terhadap suatu kelompok tertentu.

Hesti Armiwulan juga menyatakan diskriminasi ras dan etnis juga akibat dari kebijakan dari Pemerintah, baik Pemerintah pusat dan atau Pemerintah Daerah, yang bersifat dikriminatif.

Baca Juga: Anggota DPD RI dari Bali Ini Rasis ke Wanita Berjilbab, Netizen Ramai-ramai Mengecam, Ahmad Sahroni DPR: Duh Bapak Gemesin Amat Sih...!

Berdasar hasil pengamat Hesti Armiwulan dan juga merujuk pada hasil penelitian Herdi Sahrasad, mengungkap sejumlah sebab terjadinya konflik antar etnis:

Pertama, kekerasan rasial atau konflik antaretnis adalah masalah yang lebih banyak berhubungan dengan kebijakan pemerintah yang diskriminatif, dan bukan semata-mata masalah sentimen antaretnis itu sendiri.

Kedua, konflik antaretnis terjadi karena masalah yang menyangkut hubungan kekuatan ekonomi-politik.

Orang atau kelompok yang mempunyai kekuatan politik bisa mempertukarkan kekuatan politik dengan keuntungan ekonomi. Sebaliknya, pihak yang mempunyai kekuatan ekonomi dapat mempertukarkan kekuatan ekonomi untuk mendapatkan perlindungan atau fasilitas politik.

Kolusi dan perkoncoan di kalangan kelompok-kelompok dominan ini yang mengorbankan kelompok masyarakat umum menunjukkan adanya praktek diskriminasi.

Ketiga, kemungkinan untuk memakai potensi pertentangan antar etnis sebagai instrumen untuk politik 'devide at impera' kepentingan kekuasan.

Politik memecah belah itu jelas tidak membawa keuntungan apapun bagi negara dan masyarakat, selain keuntungan bagi pemegang kekuasaan dan jelas bertentangan dengan niat para pendiri Republik ini.

Menurut Hesti Armiwulan, dari sudut pandang salad bowl theory, keberagaman antar etnis di Indonesia merupakan sebuah salad bowl yang berisikan etnis-etnis yang berbeda.

Etnis-etnis dianalogikan sebagai potongan-potongan buah dalam sebuah mangkuk Indonesia yang plural.

Potongan buah semangka misalnya tetap menjadi semangka, potongan melon tetap menjadi melon dalam mangkuk Pluralistik Indonesia.


Baca Juga: Bisa Jadi Inspirasi, Ini Rincian Perjalanan Liburan ke Yogyakarta 3 Hari 2 Malam, Lengkap dengan Rekomendasi Penginapan

Namun, menjadi persoalan ketika potongan-potongan yang pluralistik di Indonesia masih terjebak dalam bingkai rasial dan strereotip.

Bisa dilihat bagaimana masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki nilai-nilai yang mengedepankan toleransi, tapi belum bisa lepas dari dominasi mayoritas dan minoritas yang seringkali memicu sikap rasial dan stereotip.

Sejauh stereotip atau prasangka ini hanya berada dalam pikiran dan sikap, bukan pada tindakan nyata, hal tersebut masih belum bisa dikatagorikan sebagai persoalan diskriminasi.

Suatu tindakan baru dikatakan sebagai tindakan diskriminatif, ketika stereotip dan prasangka digunakan untuk menghalangi para anggota kelompok berbeda mendapatkan hak yang sama dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidup. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.