Jakarta

Sejarah Jakarta: Kontroversi Ali Sadikin Melegalkan Perjudian untuk Bangun Kota

aditia | 28 April 2024, 19:05 WIB
Sejarah Jakarta: Kontroversi Ali Sadikin Melegalkan Perjudian untuk Bangun Kota

AKURAT JAKARTA - Dalam catatan sejarah, Ali Sadikin pernah melegalkan praktik perjudian yang jadi kontroversi karena untuk bangun Jakarta.

Ali Sadikin sendiri merupakan Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977.

Meski pernah melegalkan perjudian, Ali Sadikin dikenal warga Jakarta sebagai salah satu gubernur terbaik.

Lantas bagaimana sejarahnya Ali Sadikin melegalkan perjudian untuk membangun Jakarta?

Baca Juga: Sejarah Jakarta: Benarkah Kuliner Asinan Betawi Berasal dari Akulturasi Arab dan Tionghoa?

Judi untuk Jakarta

Ketika mulai menjabat sebagai Gubernur, Jakarta kala itu berada dalam kondisi yang memprihatinkan.

Anggaran yang terbatas membuat Ali Sadikin harus memutar otak dan bekerja keras untuk memulihkannya.

Salah satu idenya kala itu adalah melegalkan perjudian yang mana hasilnya untuk memulihkan kondisi Jakarta.

Ada sekitar 3 juta orang Jakarta yang hidup di pemukiman kumuh. Bahkan 60 persen anak usia sekolah tidak mendapatkan pendidikan.

Baca Juga: Menikmati Masa Lalu Kota Batavia di Museum Sejarah Jakarta: Sejarah, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Selain itu, pegawai pemerintahan yang jumlahnya 20.000-an lebih gajinya di bawah rata-rata, bahkan rendah.

Sedangkan anggaran sebesar Rp 266 juta tidak cukup untuk membangun Jakarta sebagai ibukota negara.

Melegalkan perjudian jadi ide gila yang mau tidak mau diterapkan oleh Ali Sadikin.

Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan hasil pajak judi sebagai salah satu sumber keuangan daerah.

Baca Juga: Simbol Kedekatan Indonesia dan Komunis, Begini Sejarah Pembangunan Stadion Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta

Kewenangan ini diambil dengan langkah-langkah bijaksana dengan preventif maupun represif.

Atas dasar itu, muncul Surat Keputusan (SK) yang melarang perjudian gelap di wilayah Jakarta pada 26 Juli 1967.

Berawal dari situ, gedung Kasino pertama kali dibangun di kawasan Petak Sembilan, Jakarta Barat pada bulan September 1967.

Ali Sadikin juga mengadakan lotto/hwa-hwe (judi) yang khusus untuk kalangan Tionghoa. Tujuannya adalah untuk pendidikan bagi anak-anak terlantar.

Baca Juga: Penduduk Asli Jakarta yang Kini Terpinggirkan, Bagaimana Sejarah Munculnya Orang Betawi?

Kebijakan ini mendapat cercaan dari berbagai pihak. Bahkan Ali Sadikin mendapat julukan 'Gubernur Maksiat' dan istrinya diberi julukan 'Madame Hwa-Hwe'.

Salah satu kecaman berasal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena membuat kebijakan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Meski demikian, judi yang dimaksud oleh Ali Sadikin adalah dikhususkan bagi kalangan Tionghoa.

Hasil pajak dari perjudian ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Ali Sadikin.

Hal itu terbukti Jakarta yang semakin bagus dengan pembangunan Taman Impian Jaya Ancol, Monumen Nasional (Monas), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Fair, Proyek Senen, hingga Proyek Perbaikan Kampung Muhammad Husni Thamrin (MTH).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.