Jakarta

Jarang yang Tahu! Penemu Ikan Mujair Ternyata Bukan Ilmuan atau Peneliti, Ini Dia Sosoknya yang Tak Disangka-sangka

Sastra Yudha | 4 Januari 2024, 21:17 WIB
Jarang yang Tahu! Penemu Ikan Mujair Ternyata Bukan Ilmuan atau Peneliti, Ini Dia Sosoknya yang Tak Disangka-sangka

AKURAT JAKARTA - Bagi masyarakat yang suka mengonsumsi ikan, nama ikan mujair pasti sudah tidak asing lagi. Namun jarang yang tahu bahwa ikan mujair dulunya adalah ikan laut.

Ikan yang bentuknya mirip ikan mas atau ikan nila ini, biasa dikonsumsi sebagai lauk makan. Banyak dijual oleh pedagang ikan. Terutama penjual ikan hidup.

Ikan mujair bersisik dan sirip punggungnya berduri tajam. Biasanya digoreng garing. Rasa dagingnya sangat lezat mirip rasa ikan gurame.

Namun tahukah kalian bahwa ikan mujair dulunya hidup di lautan. Adalah sosok Mbah Moedjair yang berhasil memindahkan habitat ikan mujair dari air laut ke air tawar.

Baca Juga: The Sound Project 7: Festival Musik Terbesar di Jakarta Bakal Digelar Agustus 2024, Tersedia Tiket Early Bird, Cek Line Up di Sini

Siapa itu Mbah Moedjair? Dia bukanlah ilmuwan atau peneliti hebat. Mbah Moedjair hanyalah seorang petani kecil yang tinggal di pedesaan.

Namun, berkat penemuan hebatnya itu, kini nama Mujair dikenal hingga mancanegara. Berkat tangannya, ikan yang dulu hidup di laut kini bisa dibudidaya di air tawar.

Dikutip dari akun TikTok @eltha.story, Mbah Moedjair memiliki nama asli Iwan Dalauk Moedjahir. Ia lahir di Desa Kuningan, Blitar, Jawa Timur, pada tahun 1890 dari pasangan Bayan Isman dan Rubiyah.

Awal mula penemuan Ikan Mujair ketika dirinya berkunjung dan mandi di Pantai Serang, Blitar Selatan.

Saat sedang mandi di pantai, Mbah Moedjair melihat seekor ikan unik yang berenang di dekatnya.

Ikan tersebut menyimpan anak-anaknya di mulut, saat ada bahaya yang mengancam anak-anaknya. Setelah situasi aman, ikan tersebut mengeluarkan anak-anaknya dari mulutnya.

Jumlah anak yang "digendong" di mulutnya sangat banyak. Puluhan ekor. Hal itu menarik Mbah Moedjair untuk mengambil dan memeliharanya.

Baca Juga: Heboh Penumpang KRL Sakit Kejang Malah Dibilang Kesurupan, Netizen: Demen Banget Dikit-dikit Mistis

Mbah Moedjair memelihara ikan unik tersebut di sebuah gentong yang berisi air laut. Namun tak lama dipelihara, ikan tersebut mati.

Mbah Moedjair tak putus asa. Ia kembali ke Pantai Serang untuk menangkap dan mengambil ikan unik tersebut.

Padahal, jarak rumah Mbah Moedjair ke Pantai Serang itu sekitar 35 kilometer. Mbah Moedjair harus menempuh waktu 2 hari 2 malam, menembus hutan belantara serta naik turun bukit, untuk sampai ke Pantai Serang dan membawa pulang ikan itu.

Namun semua itu bukan halangan serius bagi Mbah Moedjair. Ia tetap mencoba memelihara ikan tersebut. Sedikit demi sedikit air laut dalam gentong tempat pelihara ikan, dicampur dengan air tawar.

Setelah percobaan yang ke-11 kalinya, ikan tersebut berhasil dibudidayakan di air tawar sepenuhnya.

Pada percobaan yang ke-11 itu, Mbah Moedjair berhasil mendapatkan 4 ekor ikan yang benar-benar bisa bertahan hidup di air tawar.

Baca Juga: Cara Terbaru Membuat Kartu Identitas Anak atau KIA, Cukup Mudah Asalkan Orang Tua Mau Mengurus Langsung ke Dukcapil

Bahkan, ikan itu berkembangbiak di gentong yang berisi air tawar. Percobaan ini berhasil dilakukan Mbah Moedjair pada 25 Maret 1956.

Hasil budidaya tersebut akhirnya disebar ke tetangganya. Sebagian ada juga yang dijual ke pasar. Orang-orang lalu menamai ikan tersebut dengan nama Ikan Mujair, sesuai dengan nama penemnya Mbah Moedjair.

Dari 4 ekor ikan hasil budidaya Mbah Moedjair itulah, sekarang jutaan ikan mujair dibudidayakan di air tawar. Bahkan nyaris sulit ditemukan di lautan.

Berbagai penghargaan telah diberikan kepada Mbah Moedjair. Salah satunya dari Pemeritahan Hindia Belanda melalui asisten resident Kediri.

Penghargaan juga diberikan oleh Pemerintahan Republik Indonesia melalui Kementerian Pertanian pada tahun 1951. Penghargaan Internasional juga diterima dari Konsul Komite Perikanan Indo Pasifik pada tahun 1953.

Baca Juga: Resep Ikan Kuah Asam Khas Manado, Sajikan Saat Masih Panas Agar Sedapnya Benar-benar Meresap di Lidah!

Mbah Moedjair meninggal dunia pada 7 September 1957 akibat penyakit asma yang dideritanya. Mbah Moedjair dimakamkan di Kanigoro, Blitar, Jawa Timur, di sebelah istrinya yaitu Fatimah.

Di gapura makamnya terdapat prasasti yang menyebutkan bahwa Mbah Moedjair adalah penemu ikan mujair di Pantai Serang, Blitar. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.