Mengapa Setiap Tanggal 14 Agustus Diperingati Sebagai Hari Pramuka? Apakah Ada Hubungannya dengan Robert Baden Powell? Begini Sejarahnya!

AKURAT JAKARTA - Pelajar Indonesia wajib tahu, mengapa setiap tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka.
Apakah ada hubungannya dengan Robert Baden Powell, yang dijuluki sebagai bapak kepanduan dunia?
Ya, hari ini Rabu 14 Agustus 2024, semua pelajar di Indonesia, mulai SD hingga SMA, memperingati Hari Pramuka.
Menurut situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), tanggal 14 Agustus dipilih sebagai Hari Pramuka berdasarkan momentum diresmikannya Gerakan Pramuka di Indonesia.
Gerakan Pramuka pertama kali diresmikan pada tanggal 14 Agustus 1961. Orang yang pertama kali mengenalkan nama Pramuka adalah Sultan Hamengkubuwono IX.
Istilah Pramuka berasal dari kata "Poromoko" yang artinya pasukan terdepan dalam perang. Namun, kata Pramuka dimanifestasikan menjadi Praja Muda Karana, yang artinya jiwa muda yang gemar berkarya.
Peresmian Gerakan Pramuka ditandai dengan penyerahan panji-panji Pramuka oleh Presiden Soekarno kepada tokoh-tokoh Pramuka.
Acara tersebut juga dihadiri oleh ribuan anggota Pramuka dari berbagai organisasi kepanduan di Indonesia.
Peristiwa peresmian Gerakan Pramuka Indonesia pertama kali pada tanggal 14 Agustus 1961 itulah yang kemudian dijadikan tonggak sejarah lahirnya Pramuka di Indonesia.
Baca Juga: 120 Rumah Terbakar Di Penjaringan, Damkar DKI Duga Akibat Konsleting Listrik
Namun sejatinya, dasar-dasar gerakan Pramuka sudah ada sejak zaman kolonialisme Belanda. Kala itu lebih dikenal dengan istilah kepanduan.
Adalah Robert Baden Powell yang memiliki gagasan gerakan kepanduan. Gagasan Robert Baden Powell inilah yang kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Belanda.
Penjajah Belanda kemudian membawa gagasan soal kepanduan itu ke Indonesia. Kemudian didirikan organisasi kepanduan di Indonesia dengan nama Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO).
Meski demikian, warga Indonesia awalnya tak diperbolehkan bergabung karena pihak Belanda takut organisasi dijadikan tempat menampung aspirasi.
Pada tahun 1916, Pangeran Mangkunegara VII menggagas berdirinya organisasi kepanduan bernama Javanese Padvinders Organisatie (JPO).
Namun, dalam perkembangannya pemerintah Hindia Belanda melarang penggunaan istilah padvindery. Sehingga K.H. Agus Salim memberikan nama organisasi yang dimiliki bangsa Indonesia dengan sebutan Pandu atau Kepanduan.
Baca Juga: Jangan Kelewatan! Jakarta Job Fair di ITC Permata Hijau, Ada 2.744 Lowongan untuk Para Pencari Kerja
Setelah peristiwa Sumpah Pemuda, kesadaran nasional semakin meningkat. Pada tahun 1930, berbagai organisasi kepanduan bergabung menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).
Ketika Belanda digantikan Jepang, gerakan kepanduan di Indonesia dilarang. Sehingga banyak tokoh pandu masuk ke berbagai gerakan yang dibentuk Jepang seperti Keibodan, Seinendan, dan Pembela Tanah Air (PETA).
Hingga akhirnya Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Pasca kemerdekaan, dibentuklah Pandu Rakyat Indonesia pada 28 Desember 1945 di Solo sebagai satu-satunya organisasi kepanduan.
Tetapi pada akhirnya organisasi itu terus berkembang hingga pada tahun 1961 kepanduan Indonesia terpecah menjadi 100 organisasi.
Seluruh organisasi ini terpecah pada 3 federasi yakni Ikatan Pandu Indonesia (Ipindo), Persatuan Pandu Puteri Indonesia (Poppindo), dan Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia (PKPI).
Menyadari kelemahan yang ada, maka pada tahun 1961, ketiga federasi melebur menjadi satu dengan nama Persatuan Kepanduan Indonesia (Perkindo).
Lalu pada tanggal 14 Agustus 1961, Presiden Soekarno mengumpulkan sekitar 10 ribu anggota Perkindo untuk mengadakan apel besar di Jakarta.
Baca Juga: Gempa Megathrust Hantui Wilayah Indonesia, Berpotensi Terjadi Tsunami Besar Melebihi Aceh
Sebelum apel, Presiden Soekarno menggelar rapat MAPINAS (Majelis Pimpinan Nasional). Rapat diketuai Presiden Soekarno, wakil ketua Sultan Hamengkubuwono IX dan Brigjen TNI Dr. A. Azis Saleh.
Presiden Soekarno menyatakan pembubaran semua organisasi kepanduan di Indonesia dan kemudian meleburnya menjadi organisasi baru bernama Gerakan Pramuka dengan lambang Tunas Kelapa.
Presiden juga menyampaikan anugerah tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia yang diterima kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Pramuka. Dan sejak saat itu, setiap tahun tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!


