Jakarta

Apa Itu Lebaran Ketupat dan Bagaimana Sejarahnya? Inilah Tradisi Umat Islam di Jawa yang Dilaksanakan pada H+7 Idul Fitri

Sastra Yudha | 4 April 2025, 11:01 WIB
Apa Itu Lebaran Ketupat dan Bagaimana Sejarahnya? Inilah Tradisi Umat Islam di Jawa yang Dilaksanakan pada H+7 Idul Fitri

AKURAT JAKARTA - Perayaan hari raya Idul Fitri tidak lengkap tanpa adanya Lebaran Ketupat. Apakah itu dan bagaimana sejarahnya?

Inilah tradisi yang dilaksanakan umat Islam di Jawa dan di daerah-daerah berpenduduk mayoritas suku Jawa, seperti daerah transmigran.

Lebaran Ketupat biasanya dilaksanakan pada H+7 Idul Fitri atau tanggal 8 Syawal.

Lebaran Ketupat dilaksanakan setelah umat Islam melaksanakan puasa sunnah Sawal selama 6 hari.

Di beberapa daerah, tradisi Lebaran Ketupat ini juga dikenal dengan Riyoyo Kupat, Bakda Kupat, atau Kupatan.

Pada hari Lebaran Ketupat, umat Islam pesta makan ketupat dengan berbagai lauk hidangan, seperti sayur ketupat, opor, rendang, semur dan lainnya.

Baca Juga: Politisi Golkar Andri Santosa Ajak Alumni dan Kader HMI Jakbar Bersinergi Bangun Jakarta

Dipopulerkan Sunan Kalijaga

Banyak yang meyakini jika ketupat bermula dari cara Sunan Kalijaga menyebarkan agama Islam di Jawa.

Ketika menyebarkan agama Islam pada abad ke-15 dan 16, Sunan Kalijaga memakai ketupat sebagai media syiar Islam.

Ketika itu pula setiap perayaan hari raya Islam, khususnya masa pemerintahan Raden Patah pada abad ke-15, ketupat menjadi simbolnya.

Memanfaatkan momentum tersebut, Sunan Kalijaga menggunakannya untuk media dakwah Islam di pesisir utara Jawa.

Ketupat sendiri merupakan akulturasi antara budaya Jawa dan Hindu yang kemudian dimodifikasi untuk kepentingan dakwah Islam.

Daun kelapa yang menjadi identitas masyarakat pesisir menjadi salah satu cara untuk memanfaatkannya sebagai dakwah.

Saat itu menjadi masa di mana Kerajaan Demak menguasai Jawa Tengah.

Meski tak tercatat dalam prasasti atau sumber sejarah lainnya, tercantum jika ketupat merupakan makanan dari beras yang dibungkus daun.

Baca Juga: Gold Medalist Bantah Kontroversi Kim Soo Hyun Soal Paksa Mendiang Sulli Beradegan Ranjang Dalam Film Real: Tidak Ada Paksaan

Ketupat sendiri mirip dengan lontong, hanya saja bentuknya yang kotak.

Bahannya pun bukan dari daun pisang, melainkan dari daun kelapa, nyiur, atau janur.

Janur tersebut digunakan untuk menunjukkan budaya pesisir yang banyak tumbuh pohon kelapa.

Sementara warna kuning dari janur tersebut sebagai bentuk membedakan warna hijau Timur Tengah atau merah Asia Timur.

Berawal dari situ, ketupat menjadi simbol perayaan hari raya Idul Fitri bagi masyarakat Islam di Indonesia.

Makna Filosofi Ketupat

Bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, ketupat menjadi kuliner wajib ketika Idul Fitri.

Selain itu, masyarakat Islam Jawa juga selalu menggunakan ketupat sebagai tradisi.

Masyarakat di Jawa dan Sunda biasanya menyebut ketupat dengan kupat.

Kupat sendiri memiliki makna dan arti yang mendalam, yakni 'ngaku lepat' atau mengakui kesalahan.

Makna lain dari ketupat atau kupat adalah 'laku papat' atau empat laku.

Empat laku ini memiliki lambang atau makna sebagai empat sisi dari ketupat.

Baca Juga: Yamaha Aerox Alpha Tak Berkutik, All New Honda Beat Genesis 2025 Meluncur Penuh Karismatik, Harga Tetap Terjangkau!

Adapun empat sisi dari ketupat tersebut memiliki makna sebagai berikut:

- Lebaran: berasal dari kata lebar yang bermakna pintu maaf selalu terbuka lebar

- Luberan: berasal dari kata luber yang artinya melimpah dan memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan

- Leburan: berasal dari kata lebur yang berarti melebur dosa yang sudah dilalui

- Laburan: berasal dari kata kapur yang bermakna putih atau menyucikan diri

Demikian sejarah, makna filosofi dan waktu pelaksanaan Lebaran Ketupat. Semoga bermanfaat! (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.