Jakarta

Google Berencana Lepas 32 Juta Nyamuk Rekayasa Genetik, Apakah Berbahaya bagi Manusia?

M Rahman Akurat | 1 Juni 2026, 08:24 WIB
Google Berencana Lepas 32 Juta Nyamuk Rekayasa Genetik, Apakah Berbahaya bagi Manusia?
Ilustrasi - nyamuk

AKURAT JAKARTA – Raksasa teknologi Google berencana melepaskan hingga 32 juta nyamuk hasil rekayasa genetik ke lingkungan permukiman.

Saat ini, perusahaan sedang menunggu persetujuan resmi dari pemerintah pusat Amerika Serikat, khususnya dari Environmental Protection Agency (EPA) selaku badan perlindungan lingkungan setempat.

Proposal pengajuan izin pelepasan nyamuk rekayasa genetik ini merupakan bagian dari proyek ambisius bernama Inisiatif 'Debug'.

Baca Juga: Honda BeAT 150 Hadir Lebih Canggih dari Vario Ini Fitur Mewah dan Alasan Akan Jadi Raja Skutik Sporty 150cc

Proyek yang belum banyak diketahui publik ini sebenarnya telah diluncurkan oleh Google sejak lebih dari satu dekade lalu.

Fokus utamanya adalah mengembangkan teknologi mutakhir guna menekan populasi nyamuk pembawa sumber penyakit berbahaya.

Jika EPA memberikan lampu hijau, jutaan nyamuk hasil pengembangan laboratorium ini akan dilepaskan secara bertahap di dua negara bagian, yaitu California dan Florida, selama dua tahun ke depan.

Baca Juga: Siklon Tropis Jangmi Mengintai, BMKG Rilis Peringatan Dini Cuaca Ekstrem pada 1 Juni 2026, Ini Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Lebat

Memanfaatkan Bakteri Wolbachia untuk Sterilisasi

Proyek 'Debug' dari Google ini menerapkan teknik sterilisasi alami menggunakan bakteri bernama Wolbachia.

Nyamuk jantan di laboratorium sengaja diinfeksi dengan bakteri ini sebelum dilepaskan ke alam liar.

Bakteri Wolbachia bekerja dengan cara mengunci sistem reproduksi nyamuk. Ketika nyamuk jantan yang membawa Wolbachia kawin dengan nyamuk betina di alam bebas, telur yang dihasilkan tidak akan bisa menetas atau dibuahi.

Melalui proses ini, rantai perkembangbiakan nyamuk akan terputus, sehingga populasi total di ekosistem tersebut akan menurun drastis.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.