Tanpa Les Mahal, Anak Buruh Tani Ini Justru Lolos UGM dengan Skor SNBT Mengesankan

AKURAT JAKARTA - Banyak siswa menganggap mengikuti les atau bimbingan belajar menjadi syarat utama untuk lolos ke perguruan tinggi negeri favorit.
Namun, kisah Prananingrum Hanondaru Wigaringtyas atau Hanon membuktikan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar.
Siswi SMAN 9 Yogyakarta itu berhasil diterima di Program Studi Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.
Tak hanya lolos di kampus impiannya, Hanon juga memperoleh subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga 100 persen sehingga dapat menempuh pendidikan tanpa terbebani biaya kuliah.
Keberhasilan tersebut lahir dari perjuangan yang tidak sederhana.
Sejak kehilangan ayah pada 2021, kehidupan keluarga Hanon berubah drastis.
Sang ibu, Tri Andayani, menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai buruh tani demi memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.
Kondisi ekonomi membuat Hanon tidak pernah mengikuti bimbingan belajar berbayar seperti banyak peserta SNBT lainnya.
Alih-alih menyerah, ia memilih memanfaatkan semua sumber belajar yang tersedia secara gratis.
Materi dari sekolah dipelajari kembali di rumah, sementara video pembelajaran di YouTube dan latihan soal di internet menjadi teman belajarnya setiap hari.
"Kalau mau les juga kasihan sama ibu, biayanya mahal," ungkap Hanon dalam laman resmi UGM.
Konsistensi belajar tersebut akhirnya membuahkan hasil.
Hanon mencatatkan rata-rata skor SNBT mencapai 730.
Bahkan pada subtes Penalaran Matematika dan Pengetahuan Kuantitatif, ia berhasil meraih nilai sempurna 800.
Prestasi itu menjadi bukti bahwa kualitas belajar tidak selalu ditentukan oleh mahalnya biaya pendidikan tambahan.
Baca Juga: PIK Ubah Cara Pandang Liburan, Wisata Tanpa Harus Mengorbankan Waktu Beribadah
=====
Kemauan untuk terus belajar, disiplin mengatur waktu, serta kemampuan memanfaatkan teknologi justru menjadi modal yang sangat penting dalam menghadapi persaingan masuk perguruan tinggi.
Di balik keberhasilan Hanon, ada pengorbanan besar seorang ibu yang tak pernah berhenti mendukung anaknya.
Tri mengaku hanya mampu mengantar putrinya ke sekolah dan selalu memanjatkan doa ketika melewati kawasan Kampus UGM.
Dalam hati, ia berharap suatu hari nanti anaknya benar-benar menjadi mahasiswa di universitas tersebut.
"Saya tidak bisa membantu dia belajar atau membiayai bimbel di luar. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa," ujar Tri.
Doa itu akhirnya terjawab.
Kabar kelulusan Hanon menjadi momen penuh haru bagi keluarga. Kini, beban biaya kuliah pun ikut berkurang setelah UGM memberikan subsidi UKT penuh.
Tri berharap kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh putrinya.
"UGM sudah memberi kemudahan kepada kami. Sekarang tinggal bagaimana dia membalasnya dengan prestasi. Semoga Hanon bisa memberikan hasil yang terbaik," harapnya.
Kisah Hanon menjadi pengingat bahwa keterbatasan ekonomi bukan akhir dari mimpi.
Di era digital, akses terhadap ilmu pengetahuan semakin terbuka melalui berbagai platform gratis.
Yang membedakan hasil akhirnya sering kali bukan siapa yang memiliki fasilitas paling lengkap, melainkan siapa yang paling tekun memanfaatkan kesempatan yang ada.
Keberhasilan Hanon juga menjadi inspirasi bagi siswa lain yang tengah mempersiapkan diri menghadapi SNBT.
Tidak semua perjuangan harus dimulai dengan fasilitas mewah.
Terkadang, mimpi besar justru lahir dari kesederhanaan, kerja keras, dan keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Getafe vs Rayo Vallecano di La Liga, 20 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Memutus Rekor Buruk?
- 2Prediksi Skor Fenerbahce vs Slavia Praha di UCL, 20 Oktober 2026: Memburu Kemenangan Perdana di Istanbul
- 3Prediksi Skor Sabah FK vs Borussia Dortmund di UCL, 20 Oktober 2026: Mampukah The Owls Memperpanjang Tren Buruk Die Borussen?
- 4Prediksi Skor AC Monza vs Cagliari di Serie A, 19 Oktober 2026: Tuan Rumah Terancam oleh Ketangguhan Rossoblu
- 5Prediksi Skor Parma vs Torino di Serie A, 20 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Tuan Rumah di Tengah Ancaman Granata
- 6Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Coventry City di Premier League, 20 Oktober 2026: Mampukah Spurs Akhiri Paceklik Kemenangan?
- 7Prediksi Skor Lille vs Galatasaray di UCL, 21 Oktober 2026: Duel Dua Tim Tanpa Poin di Pierre Mauroy
- 8Prediksi Skor Napoli vs Bodo/Glimt di UCL, 21 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Partenopei di Tengah Ancaman Kejutan Tim Norwegia
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





