Fenomena Pagar Besi di Mal, Ini Penjelasan Psikologi Mengapa Rumor Mudah Dipercaya

AKURAT JAKARTA - Kemunculan pagar besi di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta belakangan menjadi perbincangan di media sosial.
Sebelum ada penjelasan resmi dari pihak pengelola, berbagai spekulasi bermunculan dan mengaitkannya dengan isu keamanan maupun rencana aksi unjuk rasa.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana informasi yang belum lengkap sering kali memunculkan asumsi yang berkembang lebih cepat daripada fakta.
Dari sudut pandang psikologi, kondisi tersebut dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme yang memengaruhi cara manusia memproses informasi.
Salah satunya adalah availability heuristic, yaitu kecenderungan seseorang mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang paling mudah diingat atau yang sedang ramai dibicarakan.
Ketika foto pagar besi beredar luas di media sosial, sebagian orang dapat langsung menghubungkannya dengan kemungkinan adanya situasi darurat, meskipun belum ada bukti yang mendukung.
Fenomena lain adalah confirmation bias, yaitu kecenderungan mencari atau mempercayai informasi yang sesuai dengan dugaan awal.
Jika seseorang sejak awal meyakini bahwa pemasangan pagar berkaitan dengan isu keamanan, ia bisa lebih mudah menerima unggahan yang menguatkan keyakinan tersebut dan mengabaikan informasi yang bertentangan.
Di media sosial, kondisi ini diperkuat oleh social contagion atau penularan sosial.
Saat banyak akun membagikan narasi yang sama, persepsi tersebut dapat terasa semakin benar hanya karena diulang berkali-kali, bukan karena telah diverifikasi.
Baca Juga: Perbedaan Agama Tak Jadi Penghalang Zikir Bersama di Monas, Psikologi Ungkap Alasannya
Melihat berkembangnya spekulasi tersebut, Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat dan penggiat media sosial agar tidak menyebarkan disinformasi, provokasi, maupun fitnah terkait pemasangan pagar besi di sejumlah mal.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan bahwa media sosial merupakan ruang publik untuk menyampaikan kritik, ide, dan pendapat.
Namun, setiap pengguna juga memiliki tanggung jawab untuk menyaring informasi sebelum membagikannya.
"Kita memberi ruang kepada seluruh masyarakat untuk menyampaikan kritik, menyampaikan informasi, ide, dan gagasan di media-media sosial. Ini merupakan ruang publik. Tapi tinggal bagaimana kita untuk memfilter informasi itu," kata Budi kepada wartawan, Sabtu (1/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini kepolisian belum menerima surat pemberitahuan terkait aksi unjuk rasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor AS Monaco vs RC Lens di Ligue 1, 19 September 2026: Mampukah Les Monegasques Pertahankan Tren Positif?
- 2Prediksi Skor Espanyol vs Elche di La Liga, 19 September 2026: Misi Los Pericos Bangkit di Kandang
- 3Prediksi Skor Monza vs Sassuolo di Serie A, 19 September 2026: Mampukah Biancorossi Hentikan Tren Buruk?
- 4Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Premier League, 19 September 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 5Prediksi Skor Bayern Munich vs Union Berlin di Bundesliga, 19 September 2026: Mampukah Die Eisernen Tahan Gempuran Tuan Rumah?
- 6Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Premier League, 19 September 2026: Duel Ketat Dua Tim Papan Tengah di Hill Dickinson
- 7Prediksi Skor Osasuna vs Rayo Vallecano di La Liga, 19 September 2026: Duel Dua Tim dengan Tujuh Poin di El Sadar
- 8Prediksi Skor Udinese vs Cagliari di Serie A, 19 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Hentikan Tren Positif Tim Tamu?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





