Jakarta

Mahasiswa Prasetiya Mulya Ubah Limbah Sawit Jadi Bahan Bakar Pesawat

Anggerhana Denni Rahmawati | 29 September 2026, 18:15 WIB
Mahasiswa Prasetiya Mulya Ubah Limbah Sawit Jadi Bahan Bakar Pesawat
Limbah sawit jadi bahan bakar pesawat, mahasiswa Prasetya Mulya kembangkan katalis berdaya konversi 99%. - Universitas Prasetiya Mulya

AKURAT JAKARTA - Produk samping industri kelapa sawit berpotensi memiliki nilai lebih dari sekadar limbah.

Melalui pengolahan dengan teknologi katalis, material tersebut dapat dikonversi menjadi bahan bakar pesawat atau bioavtur.

Inovasi ini dikembangkan oleh Gizky Dwi Andana, mahasiswa Universitas Prasetiya Mulya, yang kini membawa risetnya menuju tahap pengajuan paten.

Gizky, mahasiswa Program Studi Renewable Energy Engineering angkatan 2021, memanfaatkan Palm Fatty Acid Distillate (PFAD), produk samping industri kelapa sawit, sebagai bahan baku bioavtur.

Penelitiannya menggunakan katalis berbasis metal-organic framework (MOF) ZIF-67 untuk mempercepat proses konversi.

Hasil pengujian laboratorium menunjukkan tingkat konversi PFAD melebihi 99 persen.

Sementara itu, selektivitas pembentukan bioavtur mendekati 80 persen.

Angka tersebut menunjukkan potensi katalis dalam mengolah bahan baku menjadi produk yang dituju.

Mengubah Produk Samping Sawit Menjadi Energi

Pemanfaatan PFAD menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai guna produk samping industri kelapa sawit.

Baca Juga: Inovasi Uiversitas Brawijaya Ubah Eceng Gondok Jadi Probiotik untuk Ikan Lele

Indonesia sebagai salah satu produsen sawit terbesar memiliki sumber bahan baku yang berpotensi dikembangkan untuk mendukung energi alternatif.

Gizky melihat masih banyak produk samping sawit yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Padahal, melalui teknologi yang tepat, material tersebut dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

"Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Saya melihat masih banyak produk samping yang belum dimanfaatkan secara optimal. Saya percaya limbah bukan berarti tidak berguna. Tantangannya adalah menemukan cara agar limbah itu memiliki nilai dan memberi manfaat yang lebih besar," kata Gizky dalam keterangan tertulis, Senin (28/9/2026).

Pengembangan bioavtur dari PFAD menawarkan peluang untuk memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.