Jakarta

Biarawati Katolik Asal Timor-Leste Kuliah di UNISA Yogyakarta, Suster Dulce Temukan Pengalaman Tak Terduga

Anggerhana Denni Rahmawati | 3 Oktober 2026, 20:15 WIB
Biarawati Katolik Asal Timor-Leste Kuliah di UNISA Yogyakarta, Suster Dulce Temukan Pengalaman Tak Terduga
Suster Dulce, Biarawati Katolik yang menyelesaikan Magister Kebidanan di Kampus Islam.

AKURAT JAKARTA - Keputusan Suster Dulce Maria Guterres FDCC melanjutkan pendidikan ke Indonesia sempat dibayangi kecemasan.

Biarawati Katolik asal Timor-Leste tersebut harus menempuh studi magister Kebidanan di Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, sebuah perguruan tinggi yang berbasis nilai-nilai Islam.

Perbedaan keyakinan bukan satu-satunya hal yang membuatnya khawatir.

Usia dan berbagai keterbatasan pribadi juga sempat membuat Suster Dulce ragu ketika akan memulai perjalanan akademiknya di Yogyakarta.

Ia datang ke Indonesia sebagai utusan Instituto de Ciência de Saúde (ICS) Dili dengan dukungan Yayasan Graça de Deus.

Namun, kekhawatiran tersebut perlahan berubah setelah ia merasakan langsung suasana kampus.

"Namun, kekhawatiran tersebut perlahan pudar oleh ketulusan. Kehangatan, kelembutan, dan keterbukaan dari seluruh civitas academica menyambut kehadiran saya. UNISA bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, melainkan sebuah oase dan rumah rohani yang menghadirkan rasa aman serta kedamaian bagi jiwa," ungkap Suster Dulce, biarawati Katolik lulusan Magister Kebidanan UNISA Yogyakarta.

Pengalaman tersebut membuat perjalanan Suster Dulce bukan sekadar cerita tentang menyelesaikan pendidikan tinggi.

Kehadirannya sebagai biarawati Katolik di lingkungan kampus Islam mempertemukan latar belakang agama dan budaya yang berbeda dalam satu ruang akademik.

Setelah menjalani masa perkuliahan, Suster Dulce akhirnya resmi menyelesaikan pendidikannya.

Baca Juga: Dilantik Jadi Wantimpres Prabowo, Rocky Gerung Lantang Bilang Begini

Kelulusannya dikukuhkan pada Rabu (30/9) lalu.

Bagi Suster Dulce, pengalaman tersebut justru memperkuat pandangannya bahwa pendidikan dan pelayanan kesehatan memiliki ruang yang jauh lebih luas dibandingkan perbedaan identitas.

"Pengalaman hidup ini makin meneguhkan keyakinan saya bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan adalah panggilan universal. Keduanya mampu meruntuhkan setiap sekat perbedaan, baik usia, latar belakang budaya, maupun keyakinan," ungkap Suster Dulce.

Setelah menyelesaikan studi, ia berharap pengalamannya dapat ikut memperkuat kerja sama Indonesia dan Timor-Leste, khususnya dalam bidang kesehatan dan kemanusiaan.

Kisah tersebut juga menjadi bagian dari pesan yang disampaikan Rektor UNISA Yogyakarta kepada para lulusan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.