Jakarta

Lulus S1 ITS di Usia 19 Tahun, Hasna Nur Shadrina Hadapi Tantangan Berat di Balik Kelulusannya

Anggerhana Denni Rahmawati | 12 Oktober 2026, 09:30 WIB
Lulus S1 ITS di Usia 19 Tahun, Hasna Nur Shadrina Hadapi Tantangan Berat di Balik Kelulusannya
Hasna Nur Shadrina menjadi wisudawan termuda ITS. - ITS

AKURAT JAKARTA - Meraih gelar sarjana sebelum menginjak usia 20 tahun menjadi pencapaian yang tidak biasa.

Hal itu berhasil dilakukan Hasna Nur Shadrina yang resmi menjadi wisudawan termuda Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada wisuda ke-134, saat usianya baru 19 tahun 7 bulan.

Namun, perjalanan Hasna bukan sekadar cerita tentang kuliah yang selesai lebih cepat.

Di balik prestasinya, ia harus menghadapi tantangan akademik, beradaptasi dengan kehidupan perantauan, hingga menyelesaikan penelitian yang menyoroti persoalan pencemaran lingkungan.

Hasna telah menempuh jalur pendidikan lebih cepat sejak kecil.

Ia mulai masuk taman kanak-kanak pada usia 3 tahun, melanjutkan sekolah dasar pada usia 5 tahun, kemudian mengikuti program akselerasi di jenjang SD dan SMP.

Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa beradaptasi dengan lingkungan baru.

Meski demikian, kehidupan sebagai mahasiswa perantauan di Surabaya tetap menghadirkan tantangan tersendiri.

"Proses saya untuk beradaptasi terbantu banget karena punya teman-teman yang sama-sama merantau, jadi terasa lebih mudah," ungkapnya.

Tugas Akhir Jadi Ujian Terberat

Baca Juga: Avenged Sevenfold Ingin Jelajahi Kota Lain di Indonesia, Tak Mau Hanya Manggung di Jakarta

Tantangan terbesar Hasna justru muncul saat mengerjakan tugas akhir di Departemen Teknik Lingkungan ITS.

Penelitian yang dijalaninya tidak hanya membutuhkan ketekunan akademik, tetapi juga pengujian laboratorium dan tiga tahapan sidang, mulai dari seminar proposal, seminar progres, hingga seminar hasil.

Dalam penelitian tersebut, Hasna mengangkat persoalan mikroplastik di Sungai Kalimas, Surabaya.

Mikroplastik menjadi perhatian karena termasuk emerging pollutant atau polutan yang mendapat perhatian seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampaknya bagi lingkungan.

Ia juga menyoroti belum adanya regulasi resmi untuk menangani persoalan lingkungan di lokasi wisata tersebut.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.