Jakarta

Belajar dari Kasus OTT Bupati Sukoharjo, Mengenal Slippery Slope Effect dalam Psikologi

Anggerhana Denni Rahmawati | 11 Juli 2026, 15:45 WIB
Belajar dari Kasus OTT Bupati Sukoharjo, Mengenal Slippery Slope Effect dalam Psikologi
Bupati Sukoharjo, Etik Suryani yang terjerat OTT.

AKURAT JAKARTA - Kasus operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat Bupati Sukoharjo membuka ruang untuk memahami satu konsep penting dalam ilmu psikologi, yakni Slippery Slope Effect.

Konsep ini menjelaskan bagaimana pelanggaran kecil yang dibiarkan dapat berkembang menjadi tindakan yang semakin besar hingga akhirnya berujung pada persoalan hukum.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Sukoharjo bersama dua pejabat lainnya sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan terhadap perangkat daerah.

Dalam operasi tersebut, KPK juga menyita uang tunai, valuta asing, dan logam mulia dengan total nilai sekitar Rp21,2 miliar.

Terlepas dari proses hukum yang masih berjalan, kasus ini menjadi contoh bagaimana psikologi memandang perilaku yang berkembang secara bertahap, bukan selalu muncul secara tiba-tiba.

Dalam psikologi, Slippery Slope Effect atau "efek lereng licin" menggambarkan kondisi ketika seseorang mulai melakukan pelanggaran yang dianggap kecil atau dapat ditoleransi.

Karena tidak segera mendapat konsekuensi atau koreksi, batas moral perlahan bergeser sehingga tindakan berikutnya menjadi lebih berani dan lebih serius.

Dengan kata lain, seseorang tidak selalu langsung melakukan pelanggaran besar.

Sering kali perilaku itu berkembang sedikit demi sedikit hingga akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Fenomena ini juga banyak ditemukan dalam psikologi organisasi.

Ketika seseorang memiliki kekuasaan atau wewenang yang besar, ada risiko munculnya pembenaran terhadap tindakan yang sebenarnya menyimpang.

Jika lingkungan tidak memberikan koreksi, perilaku tersebut dapat terus berulang dan meningkat.

Dalam konteks dugaan pemerasan terhadap bawahan, psikologi melihat adanya kemungkinan pengaruh hubungan kekuasaan yang tidak seimbang.

Bawahan mungkin merasa sulit menolak permintaan atasan karena khawatir terhadap konsekuensi yang akan diterima, sementara pihak yang memiliki otoritas dapat semakin merasa tindakannya akan terus ditoleransi apabila tidak ada pengawasan yang efektif.

Karena itu, para ahli psikologi organisasi menilai pencegahan jauh lebih penting daripada sekadar penindakan.

Baca Juga: Prediksi Skor Mjallby vs AIK di Allsvenskan, 11 Juli 2026: Duel Ketat Dua Tim yang Ingin Bangkit

=====

Organisasi perlu membangun budaya yang membuat pelanggaran sekecil apa pun tidak dianggap sebagai hal yang wajar.

Pengawasan yang konsisten, transparansi, perlindungan bagi pelapor (whistleblower), serta budaya berani mengatakan "tidak" terhadap penyalahgunaan wewenang menjadi cara untuk menghentikan efek lereng licin sebelum berkembang menjadi pelanggaran yang lebih besar.

Pelajaran terbesar dari konsep Slippery Slope Effect bukan hanya tentang bagaimana seseorang bisa terjerumus, tetapi juga bagaimana sebuah organisasi dapat mencegahnya sejak awal.

Ketika pelanggaran kecil segera dikoreksi, peluang munculnya pelanggaran yang lebih besar akan semakin kecil.

Karena itu, kasus OTT Bupati Sukoharjo dapat menjadi pengingat bahwa menjaga integritas bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga hasil dari sistem yang sehat, pengawasan yang berjalan, dan budaya organisasi yang tidak memberi ruang bagi penyalahgunaan kekuasaan. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.