Jakarta

Kasus Mycoplasma Pneumonia Terdeteksi di DKI Jakarta, Ini Gejala dan Cara Mengatasinya

Mohammad Tegar Tsabitul Azmi | 6 Desember 2023, 14:05 WIB
Kasus Mycoplasma Pneumonia Terdeteksi di DKI Jakarta, Ini Gejala dan Cara Mengatasinya

AKURAT JAKARTA - Kasus mycoplasma pneumonia sudah terdeteksi menyerang sejumlah balita di wilayah DKI Jakarta. Saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah mendalami penyakit itu.

Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ngabila Salama mengimbau, masyarakat jangan panik terhadap pneumonia bakteri mycoplasma (walking pneumonia) akan tetapi perlu waspada.

Ia menambahkan, bakteri mycoplasma penyebab infeksi saluran nafas yang cukup sering ditemukan sejak lama dan bisa menular melalui droplet.

Baca Juga: Profil Dimaz Raditya Caleg Dapil 2 DPRD DKI Jakarta, Siap Tingkatkan Ekonomi dan SDM

"Bukan sesuatu yang baru, menular secara droplet dari percikan dahak dan batuk, dan kontak dengan jarak yang cukup erat dan lama," katanya di dalam keterangannya, Rabu (5/12).

Lanjutnya, massa inkubasi dari terpapar hingga sembuh dari paparan mycoplasma pneumonia bisa selama 1-4 minggu.

"Masa inkubasi dari terpapar bakteri sampai muncul gejala pertama kali berkisar 1-4 minggu dengan tersering 2-3 minggu," ujar Ngabila.

Baca Juga: Daftar Caleg Golkar DPRD DKI yang Bertarung di Dapil DKI Jakarta 1, Perebutkan 12 Kursi

"Dari muncul gejala pertama sampai bisa berpotensi sesak nafas / perburukan sekitar 3-7 hari," lanjutnya.

Maka dari itu, Ngabila menghimbau untuk orang tua segera membawa ke fasilitas kesehatan atau rumah sakit jika kondisi anak yang sakit tidak membaik setelah beberapa hari.

"Sehingga dihimbau kepada orang tua jika anak sakit dan sudah coba diobati sendiri, tidak membaik dalam 2-3 hari, segera bawa ke dokter dan fasilitas kesehatan untuk diobati lebih baik," paparnya.

Baca Juga: Lokasi dan Jadwal Samsat Keliling Jakarta, Rabu 6 Desember 2023

Dikatakan Ngabila, gejala seseorang yang terpapar mycoplasma bisa ringan dan sembuh sendiri kecuali imunitas tubuh sedang rendah.

"Gejala yang muncul, seperti demam cenderung tidak tinggi (kecuali mix infection dengan virus dapat dijumpai demam tinggi di atas 40 derajat), batuk, pilek, sakit tenggorokan, mual, muntah, sesak nafas, mudah lelah, dan sakit kepala," ujar Ngabila.

"Komplikasi yang tidak diharapkan radang pada otak, jantung, sendi, ginjal (menyebabkan gagal ginjal), dan lain-lain," sambungnya.

Lebih lanjut, ia mengimbau kepada masyarakat untuk mencegah keparahan dengan deteksi dini.

"Jika ada gejala segera ke fasilitas kesehatan terdekat untuk diobati segera, pemeriksaan antigen dan PCR COVID-19 gratis di puskesmas untuk semua yang bergejala," imbuhnya.

Ia menuturkan, jika ada indikasi pemeriksaan jenis kuman oleh dokter akan dilakukan PCR multiplex untuk mendeteksi beberapa jenis virus dan bakteri termasuk Mycoplasma agar terapi lebih spesifik sesuai jenis kuman penyebab.

Lanjutnya, pemeriksaan swab rapid test antigen sudah tersedia untuk mendeteksi cepat COVID-19 dan influenzae.

Terutama jika ada riwayat perjalanan ke negara dengan kasus yg sedang tinggi tersebut, seperti China, India, Belanda, Singapore, dan Malaysia. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.