Hari Ini 87 Tahun Lalu, Aktivis di Italia, Antonio Gramsci, Meninggal di Penjara akibat Pendarahan Otak, Siapa Dia?

AKURAT JAKARTA - Pada 1926, seorang aktivis di Italia dijatuhi hukuman 20 tahun penjara oleh Pengadilan di Roma karena aktivitas politiknya yang bertentangan dengan Rezim Fasis, Benito Mussolini.
Setelah sebelas tahun mendekam di balik jeruji penjara, aktivis itu meninggal di usia muda, tepatnya di usia 46 tahun, karena pendarahan otak.
Namun, enam tahun hidup di penjara, ia begitu produktif. Selama periode itu, aktivis muda itu berhasil menyelesaikan 34 catatan harian yang mencapai hampir 3000 halaman.
Baca Juga: Terungkap, Fakta Anggota Satlantas Polresta Manado Ditemukan Tewas Bunuh Diri di Mampang
Sejak mendapatkan izin untuk menulis di penjara pada 1929, ia mulai menuangkan pemikiran-pemikirannya yang brilian, antara lain, tentang hegemoni; negara; dan civil society.
Catatan-catatan pemuda itu kelak diterbitkan dalam buku berjudul The Prison Notebook.
Dialah Antonio Gramsci, aktivis yang sangat terpengaruh dengan pemikiran sosialis Karl Marx yang lahir pada 22 Januari 1891 di Ales, Provinsi Cagliari, Italia.
Baca Juga: Mondok di Lido selama 3 Bulan, Chandrika Chika Jalani Rehabilitasi Narkoba
Menurut artikel berjudul Anatomi Teori Hegemoni Antonio Gramsci yang ditulis Endah Siswati pada 2017 di Jurnal Translitera, Gramsci merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan Francesco Gramsci, seorang pegawai kantor panitera daerah di Ghilarza, dengan Giusppina Marcias.
Saat Gramsci berusia 6 tahun, ayahnya ditangkap dan dipenjara selama lima tahun atas tuduhan korupsi Pada tahun 1897.
Walhasil, keluarga Gramsci jatuh miskin. Ibunya, Giusppina membawa anak-anaknya pindah ke Ghilarza, tempat di mana Antonio Gramsci menyelesaikan Sekolah Dasar.
Baca Juga: Cek Daftar Harga Tiket Konser Sheila On 7 di Medan, Sudah Dijual Simak Syarat dan Ketentuannya di Sini
Kemiskinan ini membuat Gramsci sempat mengalami berhenti sekolah selama dua tahun, sebelum pada 1908 memulai lagi sekolah menegah di Cagliari.
saat berusia 20 tahun, Gramsc menyelesaikan Sekolah Menengah pada 1911 dan mendapat beasiswa di Fakultas Sastra, Universitas Turin.
Di Universitas ini, semangat aktivisme Gramsci kian terasah setelah membangun persahabatan dengan Angelo Tasca, seorang pemimpin muda gerakan Pemuda Sosialis.
Baca Juga: Resep Ayam Woku, Empuk Tampilannya Bikin Ngiler Ingin Makan Banyak
Gramsci memulai kehidupannya sebagai seorang aktivis dengan bekerja sebagai editor, kolumnis dan analis di harian sosialis Il Grido del Papulo dan Avanti!.
Pengalamannya di media ini membuat Gramsci yang waktu itu baru berusia 28 tahun dipercaya memimpin mingguan ternama di Turin, L’Ordine Nuovo, pada 1919.
Perjalanan aktivisme Gramsci banyak dipengaruhi dengan gerakan Komunisme, hingga membuatnya pernah menetap di Moskow pada 1922 sebagai Anggota Eskekutif Komunis Internasional.
Baca Juga: Cara Mudah Bikin Nasi Goreng Jawa, Resep dan Cara Masaknya Praktis, Rasanya Lezat dan Bikin Ketagihan
Namun, 1923, Gramsci berpindah ke Wina dan di sana. Di sana, ia justru melancarkan banyak kritik terhadap perkembangan sosialisme dan komunisme di Uni Soviet yang dinilai sudah mengkhawatirkan.
Pada 1924, Gramsci kembali ke Italia dan diangkat sebagai anggota parlemen mewakili golongan sosialis.
Antonio Gramsci meninggal pada 27 April 1937 di dalam penjara ketika baru menjalani masa hukuman 11 tahun dari vonis 20 tahun, 4 bulan, 15 hari penjara yang dijatuhkan dari Pengadilan.
Baca Juga: Golkar Pastikan Ridwan Kamil Diusung Maju Pilgub Jawa Barat, DKI Jakarta untuk Zaki Iskandar
Sebagai aktivis yang terpengaruh dengan pemikiran sosialisme Karl Marx, pemikiran Gramsci yang paling menonjol, antara lain, teori hegemoni.
Teori hehemoni pada dasarnya merupakan antitesa dari model perubahan sosial dalam teori Marxisme Klasik yang cenderung tekstual dalam memahami pemikiran Karl Marx.*
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Getafe vs Rayo Vallecano di La Liga, 20 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Memutus Rekor Buruk?
- 2Prediksi Skor Fenerbahce vs Slavia Praha di UCL, 20 Oktober 2026: Memburu Kemenangan Perdana di Istanbul
- 3Prediksi Skor Sabah FK vs Borussia Dortmund di UCL, 20 Oktober 2026: Mampukah The Owls Memperpanjang Tren Buruk Die Borussen?
- 4Prediksi Skor AC Monza vs Cagliari di Serie A, 19 Oktober 2026: Tuan Rumah Terancam oleh Ketangguhan Rossoblu
- 5Prediksi Skor Parma vs Torino di Serie A, 20 Oktober 2026: Misi Kebangkitan Tuan Rumah di Tengah Ancaman Granata
- 6Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Coventry City di Premier League, 20 Oktober 2026: Mampukah Spurs Akhiri Paceklik Kemenangan?
- 7Prediksi Skor Lille vs Galatasaray di UCL, 21 Oktober 2026: Duel Dua Tim Tanpa Poin di Pierre Mauroy
- 8Prediksi Skor Club Brugge vs RC Lens di UCL, 22 Oktober 2026: Ujian Konsistensi Usai Kejutan di San Siro
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!

