Tidak Heran Jika Pasukan Iran Bersiaga Penuh di Selat Hormuz Jalur Vital Ekspor Minyak Dunia, Buntut Serangan Amerika

AKURAT JAKARTA - Tidak heran jika pasukan Iran bersiaga penuh di Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia, usai serangan Amerika Serikat.
Serangan Amerika Serikat ke Iran bisa menjadi lonceng perang yang menyulut krisis regional menjadi konflik global.
Sehingga serangan tersebut, bukan hanya merupakan eskalasi militer.
Sebab, kini Iran berada dalam posisi di mana balasan militer bukan sekadar kemungkinan, melainkan sebuah keniscayaan politik.
"Dalam doktrin strategisnya, serangan terhadap infrastruktur nuklir adalah deklarasi perang," kata Pengamat Timur Tengah dari Universitas Ibnu Chaldun dilansir dari Antara.
Menurut Ezza, kehadiran pangkalan-pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Yordania kini berubah menjadi sasaran potensial.
Maka dari itu, Ezza mengaku tidak heran jika pasukan Iran bersiaga penuh di Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia.
Bila jalur tersebut ditutup, dia menilai bukan hanya Tel Aviv yang akan terbakar.
Namun, seluruh pasar global akan terguncang oleh lonjakan harga energi, inflasi, dan kepanikan finansial.
Di sisi lain, menurut dia, semua pihak juga tidak bisa menutup mata terhadap "arsitektur poros resistensi".
Julukan tersebut banyak diungkapkan analis mengacu pada sebuah tim yang mempertimbangkan dan merespons berbagai jenis tekanan.
Maka, tegas Ezza, kelompok Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak dan Suriah, hingga kelompok Houthi di Yaman akan bersiap menjadi alat pukul Teheran untuk menyerang kepentingan Amerika dan Israel di berbagai posisi.
Dengan demikian, keterlibatan langsung AS terhadap Iran, terutama dengan serangan terhadap situs nuklir, nyaris menjamin eskalasi besar-besaran di Timur Tengah.
"Perang dunia bukan tidak mungkin, tetapi masih berada dalam kerangka skenario terburuk dan akan sangat bergantung pada langkah selanjutnya dari Rusia dan Tiongkok," tuturnya.
Meski begitu jika konflik tidak segera diredam, Ezza berpendapat rantai eskalasi bisa menjalar cepat, apalagi jika Iran betul-betul memblokir Hormuz dan menyerang pangkalan-pangkalan Negeri Paman Sam. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Kepulauan Faroe vs Kazakhstan di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Punya Modal Kandang Kuat
- 2Prediksi Skor Islandia vs Estonia di UNL, 26 September 2026: Tuan Rumah Incar Awal Positif
- 3Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di UNL, 25 September 2026: Duel Perdana yang Sulit Diprediksi
- 4Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di UNL, 25 September 2026: Dapatkah Khvicha Kvaratskhelia Menjadi Pembeda?
- 5Prediksi Skor Armenia vs Latvia di UNL, 25 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Tanpa Kemenangan?
- 6Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UNL, 27 September 2026: Duel Seru di Kaunas!
- 7Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di UNL, 26 September 2026: Mampukah The Brave Falcons Lanjutkan Tren Positif?
- 8Prediksi Skor Andorra vs Malta di UNL, 24 September 2026: Mampukah Tim Tamu Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!


