Jakarta

Teladan! Bupati Tangerang Masak dan Makan Bersama Korban Banjir di Jayanti, Serahkan Bantuan Logistik dan Gelar Dialog dengan Warga

Sastra Yudha | 17 Januari 2026, 09:16 WIB
Teladan! Bupati Tangerang Masak dan Makan Bersama Korban Banjir di Jayanti, Serahkan Bantuan Logistik dan Gelar Dialog dengan Warga

AKURAT JAKARTA - Apa yang dilakukan Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid, ini patut dijadikan teladan bagi kepala daerah lain.

Bupati Maesyal turun langsung ke titik lokasi banjir di Perumahan Taman Cikande, Desa Cikande, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, pada Jumat (16/1/2026).

Tidak hanya menyerahkan bantuan logistik, tetapi juga ikut memasak bersama ibu-ibu di dapur umum serta makan bersama warga terdampak banjir.

Baca Juga: Meriah! Raja dan Sultan se-Nusantara Hadir di Cilongok, Bersama Gubernur dan Bupati Resmikan Masjid Kasepuhan Tangerang Raya

Bupati Tangerang hadir didampingi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, serta Camat Jayanti.

Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Tangerang tersebut disambut hangat oleh masyarakat Kecamatan Jayanti.

“Alhamdulillah, bisa bertemu langsung dengan masyarakat di Perumahan Taman Cikande, Desa Cikande, Kecamatan Jayanti, untuk melihat secara langsung kondisi banjir yang terjadi di wilayah ini,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Maesyal juga menggelar dialog dengan warga, terkait langkah penanganan banjir di Jayanti.

Bupati menyampaikan beberapa Langkah penanganan banjir, di antaranya pembangunan tanggul di Sungai Cidurian serta pembangunan pintu air antara Sungai Cidurian dan Sungai Parung Ceri.

“Tadi sudah disampaikan oleh warga bahwa penanganannya salah satunya adalah pembangunan tanggul di Sungai Cidurian dan pembuatan pintu air antara Sungai Cidurian dengan Sungai Parung Ceri," ujarnya.

Baca Juga: 5 Cara Menjaga Tubuh Tetap Sehat Hingga Usia Lanjut

"Permohonan-permohonan ini akan segera kami bahas dan tindak lanjuti yang terbaik untuk masyarakat,” lanjut bupati yang akrab disapa Rudi Maesyal ini.

Ia menambahkan, pembangunan tanggul dan pintu air tersebut memerlukan ijin dan koordinasikan lebih lanjut dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), mengingat kewenangan sungai besar berada di pemerintah pusat.

Namun demikian, Pemkab Tangerang akan terus berupaya agar pembangunan pintu air dapat direalisasikan lebih cepat.

“Mudah-mudahan ini bisa kita lakukan di tahun 2026, paling lambat 2027. Kami mohon doa dari masyarakat agar upaya ini bisa segera terealisasi sesuai ketentuan yang berlaku,” tambahnya.

Bupati menyampaikan bahwa dalam beberapa hari terakhir pihaknya terus memantau dan turun langsung ke berbagai wilayah terdampak banjir di Kabupaten Tangerang.

“Sudah lima hari ini, kami turun langsung ke lokasi banjir, mulai dari Kosambi, Teluknaga, Kresek, Pakuhaji, dan hari ini di Jayanti," ungkapnya.

Baca Juga: PBB Peringatkan Risiko Perang, Ancaman Serangan Militer ke Iran Bisa Picu Ledakan Konflik

Secara keseluruhan, ungkapnya, banjir melanda 24 kecamatan di Kabupaten Tangerang, mencakup 119 desa dan kelurahan, dengan jumlah terdampak sekitar 14 ribu kepala keluarga atau 62 ribu jiwa.

“Ini menjadi tanggung jawab kita bersama, mulai dari pemerintah daerah, para camat, kepala desa, hingga unsur Muspika dan Muspida. Saya ucapkan terima kasih atas kerja sama dan kerja keras semua pihak,” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, Iwan Firmansyah, menjelaskan bahwa penanganan banjir di Kabupaten Tangerang tidak bisa dilakukan Pemkab Tangerang sendiri.

“Kami selalu berkoordinasi dengan BBWS C3 karena sungai-sungai besar dan anak sungainya merupakan kewenangan pusat dalam hal ini kementrian PU (Pekerjaan Umum)," ujarnya.

"Untuk drainase perumahan dan anak sungai kecil, itu menjadi kewenangan pemerintah daerah dan akan terus kami lakukan,” tambahnya.

Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Tersembunyi di Balik Keinginan Trump Mencaplok Greenland

Ia menambahkan bahwa banjir tidak hanya disebabkan oleh persoalan drainase, tetapi juga alih fungsi lahan dan berkurangnya daerah tangkapan air di wilayah hulu serta perilaku masyarakat yang kurang peduli lingkungan

“Solusi ke depan bukan hanya normalisasi sungai, tetapi juga pembangunan kolam retensi di wilayah hulu dan tengah," pungkasnya. (*)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.