Jakarta

Catat, Waktu Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini, Siang Berubah Gelap

Yusuf Doank | 6 Agustus 2026, 22:41 WIB
Catat, Waktu Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini, Siang Berubah Gelap

AKURAT JAKARTA – Salah satu fenomena astronomi paling langka abad ini diperkirakan bakal terjadi pada 2 Agustus 2027.

Pada hari tersebut, Gerhana Matahari Total (GMT) diprediksi berlangsung selama 6 menit 23 detik.

Ini menjadikannya durasi gerhana total terlama yang dapat diamati dari daratan pada abad ke-21.

Selama puncak fase totalitas, suasana siang hari di wilayah yang dilintasi bayangan Bulan akan berubah gelap gulita layaknya malam hari.

Baca Juga: Kuota Cuma 8.100 Orang, Ini Alasan War Tiket Upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka Selalu Ramai

Pengamat juga berkesempatan menyaksikan korona Matahari, yakni lapisan atmosfer terluar yang biasanya tidak terlihat akibat tertutup piringan cahaya Matahari.

Fenomena langka ini diprediksi menjadi magnet bagi jutaan pengamat, astronom, hingga wisatawan dari berbagai belahan dunia.

Gerhana Matahari Total 2027 bakal melintasi jalur selebar ratusan kilometer dari Eropa, Afrika Utara, hingga Timur Tengah.

Durasi totalitas selama 6 menit 23 detik ini jauh lebih lama dibanding gerhana matahari total pada umumnya yang rata-rata hanya berlangsung 2 hingga 3 menit.

Jalur totalitas fenomena ini diprediksi membentang melalui sejumlah negara, antara lain Spanyol, Gibraltar, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Arab Saudi, Yaman dan Somalia.

Sementara itu, negara-negara di luar jalur utama tetap dapat menyaksikan fenomena ini dalam bentuk Gerhana Matahari Sebagian.

Masyarakat di Indonesia dipastikan tidak dapat menyaksikan fase puncak fenomena ini karena wilayah Nusantara berada di luar jalur totalitas.

Bagi penggemar astronomi domestik yang ingin merasakan pengalaman langka tersebut secara langsung, opsi perjalanan ke negara-negara yang dilintasi bayangan total menjadi pilihan.

Durasi fenomena yang tergolong panjang ini dipengaruhi oleh posisi relatif Bumi, Bulan, dan Matahari.

Pada 2 Agustus 2027, jarak Bulan berada relatif dekat dengan Bumi (perigee) sehingga ukuran piringannya tampak lebih besar di langit.

Di saat bersamaan, Bumi berada di dekat titik aphelion (titik terjauh dari Matahari), yang membuat penampakan piringan Matahari sedikit lebih kecil dari biasanya.

Kombinasi tersebut membuat penutupan Matahari oleh Bulan berlangsung lebih lama. Selain itu, jalur bayangan Bulan melintasi kawasan dekat khatulistiwa, tempat kecepatan rotasi permukaan Bumi paling tinggi yang turut memperpanjang durasi totalitas.

Saat fase totalitas berlangsung, suhu udara di wilayah terdampak biasanya melonjak turun beberapa derajat Celsius. Bintang dan planet terang bakal terlihat di langit siang, sementara perilaku satwa liar juga dapat berubah, seperti burung yang kembali ke sarang dan serangga malam yang mulai aktif.

Bagi kalangan peneliti dan astronom, fenomena ini menjadi momentum emas untuk mengamati atmosfer terluar Matahari, aktivitas medan magnet, serta semburan plasma surya secara lebih mendalam dengan durasi observasi yang jauh lebih panjang dari biasanya.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y