Jakarta

Orang Tua Murid SDIP Kecam Tindakan Anarkis di Sekolah, Tolak Anak Diajar Pihak UIN

Yusuf Doank | 27 Agustus 2026, 14:59 WIB
Orang Tua Murid SDIP Kecam Tindakan Anarkis di Sekolah, Tolak Anak Diajar Pihak UIN
Ilustrasi

AKURAT JAKARTA — Orang Tua Murid (OTM) SD Islam Pembangunan (SDIP) Pamulang mengecam keras tindakan anarkis yang terjadi di lingkungan sekolah. Mereka menilai kejadian tersebut telah merusak rasa aman serta mengganggu proses pendidikan anak-anak.

Dalam tiga bulan terakhir, lingkungan TK Islam Pembangunan (TKIP) dan SDIP Pamulang tercatat tiga kali mengalami kericuhan yang melibatkan massa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Peristiwa terbesar terjadi pada Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 02.00 WIB, ketika ratusan orang utusan UIN berpakaian preman memasuki lingkungan sekolah dan menguasai area tersebut selama hampir 20 jam.

Baca Juga: Nasaruddin Umar Mundur dari Menteri Agama Hoaks

Bagi orang tua, persoalan ini bukan lagi semata sengketa antara pihak yayasan dan UIN. Mereka mempertanyakan bagaimana anak-anak dapat memperoleh pendidikan dan keteladanan dari pihak yang dinilai membiarkan, bahkan melanggengkan tindakan anarkis di lingkungan pendidikan.

"Kami tidak ridho anak-anak kami diajar pihak UIN yang melanggengkan tindakan anarkis," ujar perwakilan OTM, Bryan Wiryo Sentono, dalam keterangan tertulisnya.

"Kami menyekolahkan anak bukan hanya untuk jadi pintar, tetapi juga beradab, memiliki sopan santun, dan beretika. Kami sebagai orang tua tidak ingin lingkungan pendidikan anak-anak justru memberikan contoh seperti itu. Cara anarkis UIN ini sangat tidak mencerminkan akhlak mulia," tambahnya.

Dampak kericuhan tersebut dirasakan langsung oleh para siswa. Hernawati, salah satu OTM yang dua anaknya berada di sekolah saat kericuhan pada 4 Juni 2026 lalu, mengungkapkan bahwa anaknya mengalami trauma berat hingga tidak berani bersekolah selama beberapa hari.

"Anak saya trauma dan ketakutan melihat tindakan anarkis yang terjadi, sampai beberapa hari tidak bisa sekolah," ungkap Hernawati usai menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi II DPRD Kota Tangerang Selatan, Rabu (26/8/2026).

Perwakilan OTM lainnya, Mia, menegaskan bahwa para orang tua tidak ingin terseret dalam sengketa kepemilikan aset. Fokus utama mereka adalah menjamin keselamatan anak-anak serta keberlangsungan kegiatan belajar-mengajar (KBM).

"Kami tidak fokus pada konflik yayasan atau hal lainnya karena itu bukan ranah kami. Fokus kami adalah memastikan proses belajar-mengajar anak-anak tidak terganggu, baik dari sisi siswa maupun guru-guru. Bagi kami, kenyamanan anak-anak dalam belajar adalah prioritas utama," tegas Mia.

Kekhawatiran orang tua semakin memuncak setelah ditemukannya sejumlah barang bukti sisa aktivitas massa di beberapa ruang kelas pascapenggerudukan 22 Agustus tersebut.

OTM menemukan puntung rokok, kartu domino (gaple), hingga sobekan pengikat uang kertas pecahan Rp100.000 dengan nilai total yang tertera mencapai sekitar Rp10 juta.

Temuan tersebut telah didokumentasikan dan menurut OTM memerlukan penjelasan serta investigasi lebih lanjut dari pihak pengelola dan penanggung jawab keamanan sekolah.

Bagi OTM, keberadaan puntung rokok dan kartu permainan di dalam ruang kelas merupakan pelanggaran etika yang serius di area steril pendidikan anak.

Selain itu, OTM menyoroti pencopotan perangkat server CCTV serta jaringan internet sekolah. Padahal, fasilitas tersebut merupakan instrumen vital untuk mendukung KBM berbasis daring sekaligus memantau sistem keamanan sekolah secara real-time.

Kesepakatan Melibatkan UIN Dilanggar

Pascapenggerudukan tersebut, pada Senin (24/8/2026) pukul 00.15 WIB, pihak UIN, Yayasan Syarif Hidayatullah (YSH), dan perwakilan OTM sejatinya telah menandatangani kesepakatan bersama.

Kesepakatan tersebut menegaskan bahwa KBM harus tetap berjalan kondusif tanpa ada intimidasi terhadap siswa maupun guru. Selain itu, struktur kepala sekolah, guru, kurikulum, tim keamanan, serta tenaga kependidikan YSH disepakati tetap bertugas seperti biasa selama proses hukum berjalan.

Namun, beberapa jam kemudian, kesepakatan itu dilanggar oleh Kepala Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Abdul Halim Mahmudi. Halim kembali membawa massa dan merobohkan pagar sekolah pada Senin (24/8/2026) pukul 09.00 WIB.

Tiga Bulan, Dua Kali Kericuhan Besar

OTM menegaskan bahwa penggerudukan pada Agustus 2026 bukanlah kali pertama. Pada 4 Juni 2026, kericuhan serupa terjadi di tengah berlangsungnya KBM.

Massa dalam jumlah besar yang dipimpin langsung oleh Rektor UIN, Asep Saepudin Jahar, mendatangi sekolah hingga terjadi aksi saling dorong dan perobohan pagar yang mengakibatkan korban luka hingga dilarikan ke rumah sakit.

Melihat eskalasi yang kian memanas, OTM mendesak aparat kepolisian bertindak tegas dan netral dalam mengawal kasus ini.

"Kami meminta garansi dari kepolisian untuk netral dan berani menindak tegas secara pidana siapapun pihak yang melakukan aksi kekerasan di lingkungan sekolah," ujar Bryan.

Para orang tua berharap seluruh pihak dapat menahan diri, menghentikan eskalasi konflik, dan mengembalikan fungsi TKIP-SDIP Pamulang sebagai ruang aman bagi anak-anak.

Sengketa hukum antar-lembaga diharapkan dapat diselesaikan sepenuhnya melalui jalur hukum tanpa mengorbankan hak-hak pendidikan anak. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y