Jakarta

Legislator Golkar Dorong Budidaya Maggot, Sebut Mampu Kurangi Pengiriman 8.000 Ton Sampah Harian

Yasmina Nuha | 11 November 2025, 07:10 WIB
Legislator Golkar Dorong Budidaya Maggot, Sebut Mampu Kurangi Pengiriman 8.000 Ton Sampah Harian

AKURAT JAKARTA - Anggota Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Dimaz Raditya, menilai bahwa pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot adalah metode yang sangat efektif untuk meringankan beban pengiriman sampah Jakarta ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi.

Hal tersebut ia sampaikan usai melakukan peninjauan ke Bank Sampah Sirkular Nusantara di Kelurahan Tugu Selatan, Jakarta Utara, pada Senin (10/11/2025).

Dimaz menyoroti bahwa setiap tahunnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI harus mengalokasikan sekitar Rp300-an miliar sebagai biaya kompensasi kepada Pemerintah Kota Bekasi terkait pembuangan sampah harian yang mencapai 7.000 hingga 8.000 ton.

Baca Juga: Larangan Jual Rokok 200 Meter dari Sekolah Tetap Dipertahankan, Ketua Pansus KTR dari Golkar Farah: Ada Landasan Hukumnya

Ia berkeyakinan bahwa volume sampah yang dikirim ke Bekasi dapat dikurangi secara signifikan apabila seluruh wilayah Jakarta melaksanakan pengelolaan sampah organik dengan basis budidaya maggot.

Menurutnya, satu titik fasilitas pengelolaan maggot memiliki kemampuan mengolah 30 hingga 50 ton sampah per hari dan bahkan bisa mencakup wilayah-wilayah di sekitarnya.

"Artinya, pengolahan sampah dari sumber bisa membantu mengurangi tekanan volume sampah di tingkat kota," kata Dimaz.

Baca Juga: Dukung Pembangunan RS Tipe A di Lahan Sumber Waras, Legislator Golkar Dorong Skema Creative Financing

Selain manfaat lingkungan, Ketua Komisi C itu menambahkan bahwa inisiatif warga dalam pengolahan maggot juga membuka peluang lapangan kerja baru di tengah masyarakat.

"Budidaya maggot bukan hanya menjaga kebersihan, tapi juga menyerap tenaga kerja lokal dan menciptakan sumber pendapatan baru," tukasnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua RW 07 Tugu Selatan, Suaib Sulaiman, menjelaskan bahwa kapasitas pengolahan sampah organik di wilayahnya saat ini telah mencapai 15 ton setiap hari.

Suaib melihat potensi untuk meningkatkan kapasitas olahan tersebut hingga 50 ton, khususnya jika proses pemilahan sampah yang dimulai dari rumah tangga dapat berjalan optimal.

"Kalau semua kelurahan bisa mengelola seperti ini, persoalan sampah organik di Jakarta sebenarnya bisa selesai," tandasnya. (*)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yasmina Nuha
Y