Jakarta

Politisi Golkar Minta Tak Serta Merta Salahkan Game Online, Tekankan Akar Masalah Psikologis

Ainun Kusumaningrum | 12 November 2025, 16:35 WIB
Politisi Golkar Minta Tak Serta Merta Salahkan Game Online, Tekankan Akar Masalah Psikologis

AKURAT JAKARTA – Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Farah Savira, meminta semua pihak menahan diri dan tidak serta-merta menyimpulkan bahwa insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta disebabkan oleh pengaruh game online.

Pihaknya mendesak agar penyelidikan difokuskan pada akar masalah yang lebih mendalam, termasuk kondisi mental dan psikis pelaku.

Insiden ledakan yang diduga dilakukan oleh salah satu siswa SMAN 72 Jakarta pada Jumat (7/11) ini telah menarik perhatian hingga tingkat kepresidenan.

Baca Juga: Pemprov DKI Jakarta Masih Kaji Kenaikan Tarif Transjakarta, Golkar Tekankan Tidak Membebani Warga

Presiden Prabowo Subianto bahkan dilaporkan tengah mengkaji opsi pembatasan game online sebagai respons atas insiden tersebut.

"Kita harus tahu dulu akar permasalahannya. Kenapa dan apa yang melatarbelakangi kejadian ini," kata Farah Savira, Selasa (11/11).

Farah menegaskan bahwa semua pihak harus menunggu proses hukum yang sedang berjalan.

Baca Juga: Anggota DPRD dari Golkar Andri Santosa Serap Empat Aspirasi Krusial Warga Kalideres Jakbar

Dia berharap kepolisian dapat mengungkap kasus ini secara terang benderang dengan mengumpulkan bukti-bukti yang jelas.

Jika benar pelaku adalah siswa SMAN 72, Farah menekankan perlunya pendekatan berbeda untuk mencari akar masalahnya, yang mungkin terkait dengan kondisi internal anak.

"Kita harus tahu kondisi mental dan psikis anak tersebut seperti apa, serta apa yang mendasari tindakannya," terangnya.

Farah juga menyoroti kemungkinan adanya faktor lain, seperti pengaruh dari luar.

"Bisa saja ada faktor brainwashing atau pengaruh dari luar yang belum kita ketahui. Jadi kalau disebut karena game online, saya rasa itu perlu dikaji lagi," jelasnya.

Menanggapi wacana pembatasan game online yang dikaji Presiden Prabowo pasca-laporan insiden tersebut, Farah meminta kebijakan tersebut harus benar-benar didasarkan pada hasil investigasi kasus SMAN 72.

“Kita tidak bisa serta-merta menyalahkan game online. Yang penting sekarang adalah mencari akar masalahnya dulu,” ucap Farah.

Ia menambahkan, pembatasan hanya relevan jika memang ditemukan game tertentu yang secara konkret berpotensi menimbulkan kekerasan atau perilaku agresif.

Farah menggarisbawahi kejanggalan bahwa jika penyebabnya hanya game online, kejadian serupa seharusnya sudah muncul sejak lama, namun baru terjadi saat ini dan bahkan di lingkungan sekolah serta tempat ibadah. (*)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.