Jakarta

Diperingati Setiap Tanggal 21 April, Bagaimana Latar Belakang Pendidikan Seorang RA Kartini?

aditia | 21 April 2024, 12:33 WIB
Diperingati Setiap Tanggal 21 April, Bagaimana Latar Belakang Pendidikan Seorang RA Kartini?

AKURAT JAKARTA - Raden Ajeng (RA) Kartini merupakan sosok wanita inspiratif yang selalu diabadikan dalam hari peringatan setiap tanggal 21 April.

Sosok RA Kartini merupakan keturunan dari keluarga yang cukup terpandang di Jawa.

RA Kartini bisa menembus batas patriarki dengan menempuh pendidikan untuk meningkatkan kualitas dari perempuan.

Lantas bagaimana latar belakang pendidikan dari sosok RA Kartini?

Baca Juga: Sejarah Singkat Rumah Dinas DKI Jakarta yang akan Direstorasi dengan Anggaran Rp 22 M

Pendidikan RA Kartini

RA Kartini memiliki nama lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat.

Ia lahir pada 21 April 1879 di Jepara Jawa Tengah dan Meninggal pada 17 September 1903 di Rembang.

RA Kartini merupakan anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.

Salah satu hal yang diwariskan dari keluarga RA Kartini adalah pendidikan.

Baca Juga: Tradisi Lebaran Ketupat di H+7 Hari Raya Idul Fitri, Bagaimana Sejarah dan Makna Filosofisnya?

Ia pernah merasakan bangku sekolah hingga tamat pendidikannya.

Keinginannya untuk terus melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi terhalang oleh izin ayahnya.

Saat itu, Kartini tak boleh keluar rumah hingga sampai waktu ia dipingit atau menikah.

Salam masa itu, Kartini menghabiskan waktunya untuk membaca buku ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Identik dengan Tradisi Lebaran, Bagaimana Sejarah Ketupat yang Selalu ada Saat Idul Fitri?

Hal itu ia lakukan untuk menghilangkan rasa bosan dan suntuk selama berada di dalam rumah.

Rutinitas membaca buku menjadikan sebuah budaya pribadi dari Kartini hingga ia memiliki pengetahuan yang luas.

Selain itu, Kartini juga sangat mengagumi kebebasan wanita Eropa yang bisa terus sekolah.

Rasa kagum tersebut menginspirasinya untuk memajukan wanita Indonesia saat itu.

Baca Juga: Bermula dari Solo, Begini Sejarah Halal Bi Halal Versi Martabak Malabar

Ia menilai wanita tak hanya harus bisa menyelesaikan urusan rumah tangga saja. Lebih dari itu, wanita juga wajib berwawasan ilmu pengetahuan luas.

Kartini mulai tergerak dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk memulai belajar membaca dan menulis.

Bahkan, Kartini sempat meminta kepada temannya dari Belanda Mr. J. H. Abendanon untuk memberikannya beasiswa sekolah di Belanda.

Akan tetapi permintaan tersebut pupus karena Kartini sudah menikah dengan Adipati Rembang bernama Raden Adipati Joyodiningrat.

Baca Juga: Beragam Sejarah Halal Bi Halal, Salah Satu Versinya Bermula dari Pertikaian Politik di awal kemerdekaan Indonesia.

Meski demikian, suaminya mendukung Kartini untuk mendirikan Sekolah Wanita.

Hingga akhir hayatnya, Kartini konsisten menyuarakan perubahan terhadap derajat perempuan.

Segala pemikiran dan suara-suaranya dikumpulkan dalam surat yang kini diterbitkan dalam buku, yakni Habis Gelap Terbit Terang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.