Jakarta

Apa Itu Kurikulum Deep Learning? Simak 3 Fakta Terkait Model Pembelajaran Baru yang Digagas Menteri Dikdasmen Abdul Mu'ti

Sastra Yudha | 8 November 2024, 15:53 WIB
Apa Itu Kurikulum Deep Learning? Simak 3 Fakta Terkait Model Pembelajaran Baru yang Digagas Menteri Dikdasmen Abdul Mu'ti

AKURAT JAKARTA - Akhir-akhir ini, ramai wacana perubahan kurikulum baru di Indonesia. Namanya kurikulum deep learning atau pembelajaran mendalam.

Wacana ini ramai diperbincangkan, setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengunggah di akun media sosialnya belum lama ini.

Dalam unggahan yang beredar di media sosial, Abdul Mu'ti kedapatan membocorkan tentang kurikulum deep learning.

Abdul Mu'ti menilai, materi belajar bagi siswa di Indonesia saat ini masih cenderung banyak.

Baca Juga: Pesta Bergoyang 2024 Siap Guncang Surabaya, Menghadirkan Guyon Waton, Setia Band, Lala Widy, Masdddho, dan Fakedopp, Cek Tanggalnya

Menteri Dikdasmen menyebut, kurikulum materi belajar di Indonesia dapat dikurangi namun tetap mendalam, seperti kurikulum deep learning yang diterapkan di Australia.

"Materi pelajaran mungkin ringan, tetapi cara menjelaskannya mendalam," ujarnya yang tampak dalam video yang diunggah akun X @BarisanPemudaRI, pada Selasa, 5 November 2024.

"Sehingga dengan cara itu, guru bisa berimprovisasi dan murid bisa berkembang keinginannya," tambahnya.

Cuitan itu pun menjadi viral dan telah ditonton oleh sebanyak 207,8 ribu pengguna di media sosial X, berdasarkan peninjauan per tanggal 8 November 2024.

Adapun beragam komentar warganet yang menilai tentang masalah kurikulum deep learning hingga saran terkait kurikulum baru di Indonesia.

"Mindful, meaningful bagus, tapi masalahnya: mayoritas guru masih mengajar dengan textbook atau tekstual kesulitan improve," ujar warganet dengan akun X @washeeps.

"Apapun kurikulumnya tanamkan pada anak bisa baca tulis dan berhitung dulu. Pendidikan akhlak tidak kalah pentingnya ditanamkan pada anak didik," ungkap warganet melalui akun @mulyono3056.

Berkaca dari hal itu, berikut ini penjelasan terkait kurikulum deep learning yang disebut Mendikdasmen dapat diterapkan di Indonesia.

Baca Juga: Kapan Puasa Ramadhan dan Idul Fitri Tahun 2025? Ini Jadwal Berdasarkan Kalender Hijriah yang Diterbitkan Kemenag dan PP Muhammadiyah

Apa Itu Kurikulum Deep Learning?

Abdul Mu'ti mengungkapkan kurikulum deep learning dapat membantu siswa memahami materi secara lebih baik melalui metode pembelajaran yang membangun pemikiran kritis.

Selain itu, elemen yang dirancang dalam kurikulum deep learning bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang tidak hanya mengedepankan pengetahuan namun juga pengalaman bermakna bagi siswa.

"Kita arahkan dengan pembelajaran mindful, meaningful, dan joyful," sebut Mendikdasmen Abdul Mu'ti.

Model Belajar di Australia Sejak Tahun 1995

Dalam kesempatan yang sama, Abdul Mu'ti menjelaskan model pembelajaran dari kurikulum deep learning sudah ada sejak 1995.

Mendikdasmen RI itu menceritakan pengalamannya belajar kurikulum deep learning saat menjalani perkuliahan gelar Master of Education di Flinders University, Adelaide, Australia.

Terkait hal tersebut, Abdul Mu'ti ingin siswa di Indonesia juga dapat diarahkan untuk mendapatkan pembelajaran serupa.

Ia pun mencontohkan, pembelajaran dengan prinsip mindful dapat dilakukan oleh guru untuk menyadari setiap murid memiliki karakteristik yang berbeda.

Kemudian, prinsip mindful itu diterapkan agar para siswa didorong untuk berpikir kritis dan terlibat aktif selama proses belajar.

"Tiba-tiba ada yang bertanya di tengah pelajaran, jangan dihentikan," tandasnya.

Baca Juga: Beauty and The Beast: Pertunjukan Tari Balet Klasik dan Kontemporer di TIM Jakarta pada 7-8 Desember 2024, Segini Harga Tiketnya 

Tiga Elemen dalam Kurikulum Deep Learning

Seperti diketahui, Mendikdasmen RI telah membuat gagasan terkait kurikulum deep learning sebagai kurikulum baru di Indonesia dengan pendekatan pembelajaran yang lebih mendalam.

Dikutip dari Teacher Magazine, berikut ini tiga elemen dalam kurikulum deep learning yang menjadi metode pembelajaran yang disebut Mukti telah diterapkan di Australia:

1. Mindful Learning

Elemen ini berarti para guru dapat menghargai keunikan dan keterlibatan siswa yang bertujuan untuk memberikan ruang bagi siswa untuk aktif terlibat dalam proses belajar.

Mindful learning akan lebih memperhatikan perbedaan kebutuhan dan potensi setiap siswa selama proses belajar berlangsung.

Melalui pendekatan ini, siswa diharapkan dapat terlibat langsung melalui diskusi, eksperimen, dan eksplorasi terhadap materi yang diajarkan oleh sang guru.

2. Meaningful Learning

Pada elemen meaningful learning, siswa diajak untuk memahami alasan di balik setiap pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya.

Pendekatan ini memposisikan guru sebagai fasilitator yang membantu siswa mengaitkan pelajaran dengan penerapan di dunia nyata.

Contohnya, guru dapat menjelaskan tentang konsep-konsep tertentu akan bermanfaat dalam mengelola keuangan pribadi. Melalui pemahaman ini, siswa diharapkan lebih termotivasi dan antusias dalam belajar.

Baca Juga: Ridwan Kamil-Suswono Bakal Lanjutkan Program Jokowi Semasa Jadi Gubernur DKI Jakarta, Zaki Iskandar: Semua Program Baik Akan Dilanjutkan

3. Joyful Learning

Elemen ini berarti menciptakan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan bagi para siswa, sehingga menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Joyful Learning akan siswa tidak hanya merasa senang, namun juga benar-benar memahami materi yang dipelajari.

Contoh dalam pelajaran sejarah, guru bisa mengadakan simulasi atau diskusi yang membuat siswa lebih aktif terlibat.

Melalui cara ini, siswa tidak hanya belajar sejarah sebagai hafalan, namun juga bisa memahami konteks historis secara lebih mendalam. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.