Jakarta

5 Dosa Patrick Kluivert yang Menandai Akhir Kiprahnya sebagai Pelatih Timnas Indonesia

Ainun Kusumaningrum | 16 Oktober 2025, 21:13 WIB
5 Dosa Patrick Kluivert yang Menandai Akhir Kiprahnya sebagai Pelatih Timnas Indonesia

AKURAT JAKARTA – Era Patrick Kluivert bersama Timnas Indonesia resmi berakhir setelah dipecat PSSI karena gagal total dalam memenuhi target lolos ke Piala Dunia 2026.

Datang dengan reputasi mentereng sebagai legenda Belanda, Kluivert justru meninggalkan warisan pahit.

Berikut adalah rangkuman lima catatan krusial atau "dosa" fatal yang membuat kursi kepelatihannya harus dicabut:

Baca Juga: PSSI Resmi Pecat Patrick Kluivert dan Staf Kepelatihan Bikin Indonesia Gagal Lolos Piala Dunia

1. Kegagalan Membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026

Ini adalah dosa utama yang tak termaafkan. Target mutlak PSSI adalah minimal menembus babak akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026, yang sayangnya kandas.

Di bawah asuhannya, Timnas Indonesia terlihat tanpa karakter. Pola permainan yang terlalu mengandalkan umpan-umpan pendek ala Eropa gagal diterapkan secara efektif, membuat lini serang tumpul dan mudah dibaca lawan, bahkan saat menghadapi tim yang secara kualitas setara.

Baca Juga: Manajer Timnas Zaki Iskandar Beberkan Konsep Family Entertainment di Piala Dunia U-17 Qatar, Pertandingan Digelar di Lapangan Latihan

2. Minim Adaptasi dengan Karakter Pemain Lokal

Kluivert dinilai terlalu dogmatis dan gagal beradaptasi dengan kondisi sepak bola Indonesia. Ia memaksakan skema Eropa yang menuntut fisik prima dan pemahaman taktik tinggi.

Akibatnya, performa pemain lokal sering drop dan inkonsisten. Sikap kaku ini membuat Kluivert kehilangan empati dan koneksi dengan karakter fighting spirit khas pemain Indonesia.

3. Kemerosotan di Level Usia Muda (U-23 & U-20)

Dampak buruk kepelatihan Kluivert menjalar ke tim usia di bawahnya. Kegagalan yang dialami Gerald Vanenburg (U-23) dan Frank van Kempen (U-20), yang notabene adalah bagian dari gerbong kepelatihan Belanda yang dibawa Kluivert, memperkuat sinyal adanya kegagalan sistemik.

Kinerja mereka dalam turnamen regional dinilai jauh di bawah ekspektasi, menunjukkan buruknya koordinasi pembinaan dari level atas.

4. Konflik Internal dan Kurangnya Keterbukaan

Isu keretakan di internal tim nasional juga menjadi sorotan. Dilaporkan adanya ketegangan antara staf pelatih asing dan staf lokal, terutama terkait metode latihan dan pemilihan pemain.

Sikap Kluivert yang dianggap kurang terbuka terhadap masukan dari pelatih-pelatih domestik memicu kritik publik dan membuat suasana tim menjadi tidak kondusif, yang pada akhirnya memengaruhi performa di lapangan.

5. Hilangnya Jati Diri dan Agresivitas Timnas Garuda

Di bawah komando Kluivert, gaya bermain agresif, cepat, dan penuh pressing yang sebelumnya menjadi ciri khas Indonesia seolah menguap. Timnas Garuda kini terlihat pasif, kehilangan intensitas, dan rapuh mental saat menghadapi tekanan atau tertinggal.

Kehilangan karakter Garuda yang militan ini adalah alarm keras bagi PSSI, menandakan perlunya reset total dalam filosofi pembinaan tim nasional. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.