Jakarta

Tuntut Kepastian Hukum, PHRI Jakarta Minta DPRD Sinkronkan Raperda KTR dengan Hasil Fasilitasi Kemendagri

Yasmina Nuha | 29 Desember 2025, 15:23 WIB
Tuntut Kepastian Hukum, PHRI Jakarta Minta DPRD Sinkronkan Raperda KTR dengan Hasil Fasilitasi Kemendagri

AKURAT JAKARTA - Sidang Paripurna DPRD DKI Jakarta pada Selasa (23/12), yang di dalamnya termasuk Penyampaian Laporan Hasil Pembahasan terhadap Rancangan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok (Raperda KTR) DKI Jakarta, menyepakati bahwa rancangan aturan tersebut siap menjadi Perda KTR.

Raperda KTR sebelumnya telah melewati proses fasilitasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai bentuk penyempurnaan dalam teknis penyusunan peraturan perundang-undangan.

Namun, para stakeholder yang terdampak masih menyimpan pertanyaan terutama terkait kesesuaian rancangan yang disahkan dalam paripurna dengan hasil fasilitasi dari Kemendagri.

Baca Juga: Ribuan Buruh Demo Tolak UMP DKI 2026, Gubernur Pramono Tak Bergeming: Sudah Paling Tinggi Dibanding Provinsi Lain

Sebagai salah satu stakeholder tersebut, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) berharap baik eksekutif maupun legislatif dapat mematuhi hasil fasilitasi Kemendagri.

Seperti disampaikan oleh Ketua Badan Pimpinan Daerah PHRI DKI Jakarta, Sutrisno Iwantono, bahwa Perda KTR yang lahir harus benar-benar berimbang, realistis, dan tidak merusak iklim usaha pariwisata, perhotelan, dan restoran yang merupakan sektor strategis dan padat karya di DKI Jakarta.

Pihaknya juga mengapresiasi hasil fasilitasi Kementerian Dalam Negeri, yang dapat diakses publik secara transparan.

"Kami melihat bahwa fasilitasi tersebut telah mengakomodasi aspirasi pelaku usaha, antara lain: penghapusan tempat hiburan malam sebagai kawasan tanpa rokok, pengecualian hotel, restoran, pasar, dan tempat kegiatan ekonomi dari perluasan KTR, serta penghapusan larangan total reklame rokok di ruang fisik," papar Iwantono saat dihubungi via seluler, Selasa (23/12/2025).

"PHRI Jakarta dengan tegas meminta DPRD dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mematuhi hasil fasilitasi tersebut, baik dalam pembahasan maupun implementasinya," sambungnya.

Baca Juga: 30 Tahun Rusak Parah, Revitalisasi Jalan RW 06 Karet Tengsin Baru Diresmikan Gubernur Pramono

PHRI pun memberikan catatan penting terkait Rapat Paripurna yang diselenggarakan oleh DPRD DKI Jakarta.

Iwantono menegaskan bahwa hotel dan restoran bukan ruang publik pasif, melainkan ruang usaha dengan karakter layanan, segmentasi tamu, dan standar internasional.

"Oleh karena itu, sektor ini tidak tepat disamakan dengan fasilitas umum non-komersial. Smoking area di hotel dan restoran tertentu tetap dibutuhkan, khususnya untuk tamu wisatawan dan kegiatan MICE. Pengaturan seharusnya berbasis standar teknis dan pengelolaan, bukan pelarangan total," ujarnya.

Jika Perda KTR yang didorong terlalu restriktif, sebut Iwantono, maka akan berisiko menurunkan daya saing Jakarta dibanding kota tujuan wisata lain seperti Bangkok, Kuala Lumpur, hingga Singapura.

"Pelaku usaha tidak boleh dibebani fungsi penegakan hukum. Pengawasan dan sanksi harus proporsional, bertahap, dan mengedepankan edukasi," harap Iwantono.

Baca Juga: Polda Metro Jaya Kerahkan 1.392 Personel Polisi untuk Kawal Demo Buruh di Istana Merdeka Siang Ini

"Begitu juga dengan ketentuan larangan iklan digital harus jelas definisi dan batasannya, agar tidak menimbulkan ketidakpastian hukum atau berdampak pada promosi event dan kerja sama usaha yang sah," imbuhnya.

Sikap PHRI Jakarta, lanjutnya, tegas menolak setiap bentuk kebijakan KTR yang berpotensi mengganggu operasional hotel dan restoran, menurunkan tingkat hunian dan konsumsi, serta mengancam keberlangsungan usaha dan lapangan kerja.

"Jangan sampai Perda KTR yan disahkan kemudian menciptakan ketidakpastian hukum bagi investor dan pelaku pariwisata," tegasnya.

Maka, PHRI Jakarta mendorong DPRD dan Pemprov DKI Jakarta untuk menetapkan Perda KTR yang selaras dengan hasil fasilitasi Kemendagri.

Baca Juga: Tampak Bersih, Tapi Banyak Kuman: 5 Benda Rumah yang Wajib Kamu Perhatikan Kebersihannya

"Untuk memberikan kepastian dan perlindungan usaha serta menjaga keseimbangan antara kesehatan masyarakat dan ekonomi daerah," tandasnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.