Timothy Ronald Ungkap Harga Yang Harus Dibayar Untuk Jadi Sukses, Simak Disini Agar Kamu Bisa Meraih Kesuksesan

AKURAT JAKARTA - Timothy Ronald Ungkap Harga yang Harus Dibayar untuk Jadi Sukses. Kita semua sering mendengar pertanyaan klise: "Bagaimana cara menjadi sukses?" Namun, dilansir video YouTube pribadinya, menurut Timothy Ronald, pertanyaan itu adalah akar masalahnya.
Ia menyebutnya "pertanyaan sampah" karena, ketika pertanyaan yang kita ajukan salah, sudah pasti jawaban yang kita terima pun akan salah. Bagi Timothy, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan adalah: "Apa harga yang sudah kamu bayar untuk bisa jadi sukses?" Ini adalah inti dari pemahaman Timothy tentang kesuksesan.
Ia sangat percaya bahwa kesuksesan berbanding lurus dengan setiap pengorbanan yang telah kita keluarkan. Jika kesuksesan yang kita inginkan belum tiba dalam skala besar, itu berarti pengorbanan kita belum cukup besar. Sebaliknya, kesuksesan yang besar selalu didahului oleh pengorbanan yang sangat besar.
Dan jika tidak ada kesuksesan sama sekali, itu mengindikasikan bahwa belum ada pengorbanan yang berarti, mungkin hanya diisi dengan kegiatan santai seperti bermain Mobile Legends.
Untuk memahami lebih jauh tentang pengorbanan yang dimaksud dan bagaimana kita bisa menghadapinya, simak ulasan lengkapnya di sini agar kamu bisa meraih kesuksesan yang selama ini kamu impikan.
Timothy kemudian membagikan gambaran realistis tentang apa saja yang ia korbankan. Menjadi sukses memang bukan untuk semua orang, dan pengorbanan yang dibutuhkan benar-benar luar biasa.
Salah satu yang paling utama adalah waktu dengan teman-teman. Ia menganggap masa itu sudah tidak ada. Masa muda yang mungkin dihabiskan untuk bermain layangan, gundu, atau bahkan sekadar Mobile Legends bersama teman-teman, semua itu harus ia relakan.
Ia lalu menarik benang merah dengan film Netflix "Crypto Boy," yang mengisahkan seorang anak muda dari keluarga menengah ke bawah yang ayahnya berjualan burrito. Anak ini, seperti Timothy, selalu punya ide-ide baru.
Timothy merasakan kemiripan luar biasa karena dulu ia juga berjualan minyak rambut, mirip dengan karakter film yang menjual penumbuh kumis. Ayah karakter itu selalu meremehkannya, bahkan mengejeknya sebagai "dropship boy" atau "anak mau kaya dari dropship," persis seperti yang dialami Timothy ketika barang jualannya menumpuk di kamarnya.
Dalam film dan kehidupannya, Timothy melihat bagaimana orang terdekat, seperti ayah, bisa menjadi peremeh terbesar. Terkadang, orang yang meremehkan kita bukanlah orang jauh, melainkan keluarga sendiri. Ayah di film itu terus mengejek: "Mau jadi miliuner dari dropship? Kripto?
Nanti kena scam!" Sambil menyuruh anaknya fokus bekerja di toko burrito. Padahal, sang anak punya ide modernisasi bisnis, namun tak pernah didengar dan selalu dianggap tidak mampu.
Timothy merasa banyak dari kita mengalami hal serupa: ingin membantu orang tua dalam usaha, tapi dianggap tak punya kapasitas, bahkan ditertawakan saat mencoba hal baru. Inilah esensi dari pengorbanan besar yang Timothy lakukan: membuang omongan orang-orang yang meremehkan.
Harga yang Harus Dibayar untuk Jadi Sukses: Melawan Arus dan Mencari Jalan Sendiri. Ada kutipan yang sangat berarti bagi Timothy: "Kalau lu belum bunuh bokap lu sendiri, lu belum jadi seorang laki." Ini bukan tentang kekerasan fisik, melainkan tentang kemandirian total—tidak lagi bergantung uang, tidak lagi mendengarkan perintah, dan sepenuhnya membangun hidup sendiri.
Ironisnya, seringkali justru orang-orang terdekat—teman, pacar, atau orang tua—yang menarik kita turun. Semua orang yang sinis, pesimis, dan menyebarkan aura negatif harus dipotong dari hidup kita secepatnya.
Ini sulit, dan ini adalah pengorbanan besar yang Timothy lakukan. Ia keluar dari rumah di usia sangat muda, harus membiayai diri sendiri, bahkan ibunya. Di usia 16 tahun, ia memutuskan untuk tidak lagi mendengarkan orang tuanya, karena hidup yang mereka tawarkan bukanlah hidup yang ia inginkan.
Timothy selalu menekankan pentingnya filter dalam menerima nasihat. Banyak yang bicara tentang sukses dari A sampai Z, tapi filternya sederhana: Apakah hidup orang yang memberi nasihat adalah hidup yang kita inginkan?
Jika tidak, jangan dengarkan. Seperti ia melihat hidup ayahnya bukanlah hidup yang ia inginkan, maka ia tidak mendengarkan dan mencari mentor lain. Mana mungkin orang bisa mengajarkan kaya jika tak punya uang, berbisnis jika tak punya bisnis, atau investasi jika tak bisa berinvestasi?
Banyak yang hanya mengajarkan dari teori tanpa praktik, mengandalkan Adsense YouTube. Timothy tidak peduli jika videonya dianggap kasar atau ia kehilangan subscriber. Ia membuat video apa adanya karena ingin membantu dari hati.
Ini perbedaan antara content creator biasa dengan pengikut sejati: pengikut sejati adalah mereka yang hidupnya benar-benar berubah karena menerapkan sarannya, seperti yang sudah cuan dari rekomendasi Bitcoin-nya. Ia membawa impact karena niatnya tulus, bukan karena endorsement atau sponsor. Ia tidak butuh uang dari sana karena sudah menghasilkan dari bisnis-bisnisnya.
Penting untuk dipahami bahwa orang tua kita menyarankan hal-hal konvensional seperti kuliah tinggi atau menjadi PNS, itu bukan salah mereka. Mereka sama seperti "NPC" (Non-Playable Character) atau manusia yang belum "bangun," yang pikirannya sudah terprogram sama.
Mereka percaya itu yang terbaik karena sayang, tapi yang terbaik bagi mereka belum tentu yang terbaik bagi kita. Filternya tetap sama: apakah hidup mereka adalah hidup yang kita mau? Untuk mencapai kesuksesan, selalu ada tembok besar yang harus dilalui.
Tembok ini bisa bermacam-macam: orang tua, teman-teman yang mencela, atau bahkan pacar yang menarik kita ke bawah. Tembok ini menuntut pengorbanan waktu, keringat, darah, bahkan bisa sampai ditipu orang hingga menangis.
Tembok ini akan selalu ada sebagai ujian seberapa kuat kita menginginkan tujuan, seberapa gila kita berani menabraknya, dan seberapa gigih kita tidak pernah menyerah meruntuhkannya. Tembok ini bukan tentang kecerdasan, karena banyak orang pintar yang hidupnya miskin.
Tembok ini menguji hati kita: apakah kita berani menabraknya meski tulang patah, atau mencabut batunya satu per satu dengan kuku hingga tangan berdarah? Jika tidak, jangan harap bisa meraih kesuksesan besar.
Kutipan favorit Timothy dari Kareem Abdul-Jabbar adalah perbedaan antara orang "good" dan "great" terletak pada kemauan untuk berkorban (willingness to sacrifice). Sejauh mana kita bersedia berkorban untuk mencapai level "great"?
Anehnya, orang mengerti bahwa perubahan fisik, seperti menghancurkan otot di gym untuk membentuknya, itu perlu. Tapi untuk mental, mereka tidak mengerti bahwa mental juga harus dilatih, bahkan dihancurkan dulu untuk bisa dibentuk ulang.
Baca Juga: Timothy Ronald Bongkar 3 Rahasia Kunci Sukses di Era Sekarang, Pas Buat Kamu yang Masih Muda!
Inilah mengapa Timothy tidak peduli jika ia dianggap kasar atau diblokir dari platform. Ia ingin merusak mental kita untuk membentuknya kembali. Ia melihat contoh di kantornya: karyawan di pagi hari sudah memikirkan makan malam mahal dengan gaji pas-pasan.
Sementara Timothy, pemilik kantor, pagi-pagi sudah memikirkan pekerjaan, meeting, dan strategi. Ini adalah masalah mindset. Orang yang menganggap kesuksesan adalah hoki atau karena warisan, otaknya tidak akan sampai pada pemahaman ini.
Jika bertemu teman seperti itu di kantor, segera hindari. Ada juga yang membicarakan zodiak di pagi hari, menunjukkan pola pikir "NPC." Apakah kita ingin menjadi NPC seumur hidup, bangun, bekerja, dan mati tanpa menjadi siapa-siapa?
Jika tidak, kita harus mengubah cara berpikir. Kita harus berhenti memikirkan hal-hal sepele seperti "mau ke kafe mana siang ini." Jika ingin sukses, kita harus punya pemikiran bahwa kita akan menjadi yang terbaik di bidang kita. Jika pemikiran kita masih seperti itu, kita sudah kalah duluan.
Pengorbanan itu sangat banyak. Mungkin ada pilihan sulit antara menghadiri lomba anak atau meeting bisnis yang krusial. Kita tidak bisa memilih keduanya sekaligus, terutama di awal. Pilihan harus dibuat. Jadi, apakah sukses adalah jalan yang ingin kalian tempuh? Siapkah kamu "membuang" orang tua (dalam artian mandiri sepenuhnya)?
Siapkah kamu mengorbankan segalanya? Siapkah kamu mengambil risiko gila? Siapkah kamu menabrak tembok itu, atau memecahkannya bata per bata? Jika siap, ikuti perjalanan ini, tidak ada kata mundur.
Siapkah kamu keluar dari sekolah jika itu tidak membuatmu maju? Jika tidak siap, jadilah "NPC" tadi yang membicarakan zodiak dan gaji pas-pasan. Hidup itu pilihan. Kita mau menjadi yang kiri atau yang kanan, NPC atau orang dengan pemikiran mandiri dan independen. Pilihan ada di tanganmu.**
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







