Jakarta

Hari Jantung Sedunia, Mengenal Aritmia Jantung dan Upaya Pencegahan Komplikasi

Ainun Kusumaningrum | 26 September 2025, 14:02 WIB
Hari Jantung Sedunia, Mengenal Aritmia Jantung dan Upaya Pencegahan Komplikasi

AKURAT JAKARTA — Hari Jantung Sedunia menjadi momentum yang penting untuk menyoroti salah satu gangguan jantung yang sering terabaikan, yaitu aritmia jantung.

Aritmia merupakan gangguan irama jantung yang dapat terjadi pada siapa saja dengan berbagai tingkat keparahan.

Spesialis Jantung & Pembuluh Darah Eka Hospital BSD, dr. Daniel Tanubudi, SpJP-FIHA, mengatakan, untuk mengenali gejala dan faktor risiko aritmia sejak dini dinilai menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serius.

Baca Juga: 175 Jamaah Haji Indonesia Wafat di Tanah Suci, Mayoritas Terkena Serangan Jantung

Aritmia adalah kondisi di mana irama jantung menjadi tidak normal. Kondisi ini bisa berupa detak jantung yang terlalu cepat (takikardia), terlalu lambat (bradikardia), atau tidak beraturan.

"Gangguan ini terjadi karena sinyal listrik yang mengendalikan detak jantung tidak berfungsi dengan baik," saat Media Meet Up di kawasan Tangerang Selatan, Jumat (26/9).

Menurutnya, ada beberapa tipe aritmia. Tipe yang paling umum meliputi Fibrilasi atrium (AFib), yaitu irama jantung yang cepat dan tidak teratur serta dapat meningkatkan risiko stroke.

Baca Juga: Tidak Banyak Orang Tahu, Kapan Operasi Bypass Jantung Perlu Dilakukan

"Ada pula Takikardia supraventrikular (SVT), yakni detak jantung yang sangat cepat dari bilik atas jantung," ujarnya.

Sementara itu, Bradikardia adalah detak jantung yang terlalu lambat, di bawah 60 denyut per menit.

Kondisi darurat medis yang paling serius adalah Ventricular fibrillation (VFib), yaitu irama jantung sangat cepat dari bilik bawah jantung yang dapat menyebabkan henti jantung mendadak.

Gejala dan Faktor Risiko

Gejala awal aritmia sering diabaikan karena dianggap sepele atau hanya dikaitkan dengan kelelahan biasa. Gejala-gejala yang perlu diwaspadai, antara lain: jantung berdebar (palpitasi), pusing atau pingsan (terutama saat jantung berdetak terlalu cepat atau terlalu lambat), nyeri dada, sesak napas, dan kelelahan tanpa alasan yang jelas.

Aritmia dapat dipicu oleh gabungan faktor gaya hidup, genetik, dan penyakit penyerta. Faktor risiko umum termasuk konsumsi kafein berlebihan, alkohol, merokok, dan stres kronis.

Riwayat keluarga dengan penyakit jantung juga meningkatkan risiko. Selain itu, penyakit lain seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes, penyakit tiroid, dan penyakit jantung koroner dapat memicu aritmia.

Pentingnya Gaya Hidup Sehat

Menurut dr. Daniel, pengobatan aritmia tidak bisa hanya bergantung pada obat-obatan. Gaya hidup sehat berperan sangat penting dalam menjaga irama jantung tetap stabil.

Olahraga teratur dapat memperkuat jantung dan meningkatkan sirkulasi darah. Pola makan seimbang (rendah lemak jenuh, gula, dan garam) membantu mengontrol berat badan dan tekanan darah.

Kedua hal ini bekerja sinergis dengan pengobatan medis untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi.

Tidak semua aritmia berbahaya. Aritmia dibagi menjadi ringan atau berat berdasarkan risikonya. Aritmia ringan, seperti beberapa jenis takikardia atau bradikardia, umumnya tidak menimbulkan gejala parah dan tidak berhubungan dengan penyakit jantung struktural.

Sementara aritmia berat, seperti VFib, dapat menyebabkan henti jantung mendadak dan kematian dalam hitungan menit jika tidak ditangani segera. Untuk membedakan tingkat keparahannya, diperlukan pemeriksaan EKG dan tes lainnya.

Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala yang mengkhawatirkan, dr. Daniel menyarankan agar segera berkonsultasi untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat sejak dini. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.