4 Pantangan di Bulan Suro Menurut Kepercayaan Jawa, Jangan Sampai Dilanggar!

AKURAT JAKARTA - Bulan Suro dalam penanggalan Jawa bukanlah bulan biasa.
Bulan pertama dalam kalender Jawa ini dipenuhi dengan muatan spiritual dan budaya yang kental.
Banyak orang Jawa meyakini bahwa selama bulan ini, aktivitas dari dunia gaib meningkat dan batas antara alam nyata serta alam halus menjadi lebih tipis.
Baca Juga: Buru Promo! Tiket Kereta ke Sukabumi Selama Libur Sekolah Cuma Rp31 Ribu
Menurut kanal YouTube Nawi Krama TV, ada empat larangan penting yang sebaiknya tidak dilakukan di bulan Suro, khususnya pada malam satu Suro, agar terhindar dari kesialan yang diyakini bisa menurun hingga tujuh turunan.
1. Tidak Disarankan Keluar Rumah Tanpa Alasan Mendesak
Malam satu Suro dianggap sebagai malam paling sakral.
Diyakini, pada malam ini portal gaib terbuka dan berbagai makhluk halus berkeliaran.
Keluar rumah tanpa kebutuhan penting dipercaya dapat mengundang gangguan.
Tetap di rumah dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang konon datang mengunjungi.
2. Hindari Bicara Sembarangan
Ujaran negatif bisa menjadi bumerang di malam satu Suro.
Masyarakat Jawa percaya bahwa ucapan buruk bisa didengar oleh entitas gaib dan diwujudkan menjadi kenyataan.
Karena itu, menjaga lisan menjadi keharusan, bahkan banyak yang memilih diam dan fokus pada doa.
3. Jangan Bangun atau Pindah Rumah
Menurut primbon, bulan Suro adalah waktu yang tidak baik untuk memulai sesuatu yang besar, seperti pindahan rumah.
Diyakini rumah yang dibangun atau dihuni pada bulan ini akan penuh masalah dan dihantui kesialan jangka panjang.
4. Dilarang Menggelar Pernikahan
Bulan Suro adalah masa untuk tirakat dan refleksi, bukan untuk pesta atau hajatan.
Baca Juga: Termasuk Pilih Detergen yang Tepat, Berikut Ini Cara Simpel Biar Mesin Cuci Awet Bertahun-Tahun
Menikah di bulan ini dipercaya dapat membawa bencana rumah tangga, rezeki seret, bahkan kematian.
Selain aspek mistis, ada pula pertimbangan budaya dari keraton yang sedang menjalankan prosesi spiritual penting.
Kepercayaan ini, meskipun tak semua orang Jawa modern masih mematuhinya, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kearifan lokal.
Baca Juga: TMII Berbenah Sambut Libur Sekolah, Armada Ditambah dan Fasilitas Ditingkatkan
Bagi sebagian masyarakat, menjunjung nilai-nilai leluhur adalah cara menjaga harmoni antara dunia nyata dan spiritual. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di UNL, 25 September 2026: Duel Perdana yang Sulit Diprediksi
- 2Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di UNL, 25 September 2026: Dapatkah Khvicha Kvaratskhelia Menjadi Pembeda?
- 3Prediksi Skor Armenia vs Latvia di UNL, 25 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Tanpa Kemenangan?
- 4Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di UNL, 26 September 2026: Mampukah The Brave Falcons Lanjutkan Tren Positif?
- 5Prediksi Skor Andorra vs Malta di UNL, 24 September 2026: Mampukah Tim Tamu Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan?
- 6Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di UNL, 26 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit?
- 7Prediksi Skor Austria vs Israel di UNL, 25 September 2026: Tuan Rumah Bidik Awal dengan Kemenangan
- 8Prediksi Skor Hungaria vs Ukraina di UNL, 26 September 2026: Duel Ketat di Budapest
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




