Tanpa Operasi, Benjolan Tiroid Dapat Dihilangkan Melalui Ablasi Radiofrekuensi

AKURAT JAKARTA – Kabar gembira bagi penderita benjolan tiroid karena terdapat metode inovatif Radiofrequency Ablation (RFA) sebagai alternatif non-bedah untuk mengatasi nodul tiroid jinak.
Prosedur ini memungkinkan pasien terhindar dari sayatan besar dan mempercepat masa pemulihan.
Spesialis Penyakit Dalam dan Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes dari Eka Hospital BSD, dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp. PD-KEMD, PhD, FINASIM, mengatakan bahwa RFA adalah harapan baru bagi banyak pasien.
Baca Juga: Penting Mengetahui Gejala CVI dan Varises, Berikut Faktor Risiko dan Penyebabnya
"Kelenjar tiroid, yang terletak di bagian depan leher, memegang peranan vital dalam tubuh," kata Dicky dalam acara Media Meet Up di Senen, Jakarta Pusat, Senin (28/7/2025),
Menurutnya, kelenjar berbentuk kupu-kupu ini menghasilkan hormon (tiroksin/T4 dan triiodothyronine/T3) yang mengatur berbagai fungsi penting, seperti metabolisme, pertumbuhan, suhu tubuh, fungsi jantung, sistem saraf, serta kesehatan kulit, rambut dan kuku.
"Gangguan pada kelenjar ini dapat bermanifestasi dalam bentuk benjolan atau nodul," ujarnya.
Baca Juga: Waspada Radang Usus Buntu, Berikut Ini Gejala, Penyebab dan Pengobatannya
Mengenal Ablasi Radiofrekuensi (RFA) dan Mekanismenya
Ablasi Radiofrekuensi (RFA) adalah prosedur medis minimal invasif yang memanfaatkan energi panas dari gelombang radiofrekuensi untuk mengecilkan atau menghilangkan benjolan tiroid jinak.
Prosesnya melibatkan pemasangan jarum kecil ke dalam nodul tiroid dengan panduan ultrasonografi (USG). Ujung jarum ini kemudian memancarkan energi panas yang secara selektif menghancurkan sel-sel abnormal pada nodul tanpa merusak jaringan tiroid sehat di sekitarnya.
Secara ilmiah, teknologi RFA bekerja dengan mengubah energi listrik menjadi gelombang radiofrekuensi. Gelombang ini, yang dialirkan melalui elektroda pada ujung jarum, memicu getaran molekul air di dalam sel target, menghasilkan panas.
Panas inilah yang menyebabkan koagulasi protein dan kematian sel (nekrosis) pada nodul. Seluruh proses dilakukan dengan cermat dan terukur di bawah panduan USG untuk memastikan akurasi penargetan.
Perbandingan dengan Operasi: Keunggulan RFA
Sebelum RFA populer, tiroidektomi (operasi pengangkatan sebagian atau seluruh kelenjar tiroid) adalah standar penanganan benjolan, terutama untuk kasus ganas atau ukuran besar yang menimbulkan gejala.
Namun, operasi memiliki kekurangan seperti sayatan besar di leher, masa pemulihan yang lebih lama, serta potensi kebutuhan penyesuaian hormon seumur hidup.
RFA menawarkan beberapa keunggulan signifikan dibandingkan pembedahan:
Target Spesifik: Energi RFA dihantarkan langsung ke nodul di bawah panduan USG dengan kontrol suhu akurat, meminimalkan risiko kerusakan jaringan di luar target.
Minimal Invasif: Prosedur hanya memerlukan tusukan kecil, bukan sayatan besar.
Bekas Luka Minimal: Hanya meninggalkan bekas tusukan kecil yang tidak terlalu terlihat.
Waktu Pemulihan Cepat: Pasien umumnya dapat pulang pada hari yang sama atau keesokan harinya dan segera kembali beraktivitas normal.
Mempertahankan Fungsi Tiroid: Karena hanya nodul yang ditangani, sebagian besar fungsi kelenjar tiroid tetap terjaga, sehingga risiko kekurangan hormon tiroid (hipotiroidisme) lebih rendah.
Dapat Diulang: Jika nodul tumbuh kembali, prosedur RFA dapat diulang.
Meskipun relatif aman, RFA memiliki risiko minimal seperti nyeri lokal sementara, memar kecil, atau perubahan suara sementara. Komplikasi serius sangat jarang terjadi jika prosedur dilakukan oleh dokter yang berpengalaman.
Kriteria Pasien yang Memerlukan RFA
Tidak semua benjolan tiroid dapat ditangani dengan RFA. Prosedur ini umumnya direkomendasikan untuk kriteria berikut:
Benjolan Tiroid Jinak (Non-Kanker): Harus terkonfirmasi jinak melalui biopsi (Fine Needle Aspiration Biopsy/FNAB). RFA paling efektif untuk benjolan padat.
Benjolan yang Menimbulkan Gejala atau Masalah Estetika: Seperti kesulitan menelan, sesak napas, rasa tertekan di leher, atau benjolan yang terlihat jelas mengganggu penampilan.
Nodul Tiroid yang Hiperaktif (Autonomously Functioning Thyroid Nodules/AFTN atau "Hot Nodule"): Untuk mengurangi produksi hormon berlebihan oleh nodul ini.
Pasien yang Menolak atau Tidak Cocok untuk Operasi: Karena kekhawatiran risiko bedah, bekas luka, efek samping, atau kondisi medis yang tidak memungkinkan anestesi umum.
Kasus Kanker Tiroid Tertentu (dengan Pertimbangan Khusus): Seperti mikrokarsinoma yang sangat kecil pada pasien yang menolak operasi atau memiliki risiko bedah tinggi, atau kanker yang kambuh di area sulit dijangkau operasi. Keputusan ini bersifat sangat individual dan harus didiskusikan mendalam dengan tim dokter spesialis.
Beberapa kriteria lain yang perlu diperhatikan meliputi: ukuran nodul (umumnya efektif untuk nodul tidak terlalu besar), lokasi nodul (tidak terlalu dekat dengan struktur vital), tidak sedang hamil, tidak ada infeksi akut di leher, dan tidak ada gangguan pembekuan darah parah.
Prosedur RFA yang Cepat dan Efisien
Prosedur Ablasi RFA umumnya berlangsung singkat, sekitar 30-60 menit, dan dilakukan sebagai rawat jalan. Tahapannya meliputi:
- Persiapan: Area leher dibersihkan dan diberikan anestesi lokal.
- Panduan USG: Dokter memvisualisasikan nodul secara real-time dengan USG.
- Insersi Jarum: Jarum elektroda dimasukkan ke dalam nodul dengan panduan USG.
- Ablasi: Energi radiofrekuensi dialirkan untuk menghancurkan sel nodul di bawah pantauan USG.
- Penarikan Jarum: Jarum ditarik, area tusukan ditutup perban kecil.
- Pemulihan: Pasien diobservasi sebentar sebelum diperbolehkan pulang.
RFA menawarkan solusi menarik bagi pasien benjolan tiroid jinak yang menginginkan penanganan non-bedah dengan pemulihan cepat.
Namun, penting untuk melakukan konsultasi mendalam dengan dokter berpengalaman untuk menentukan apakah kondisi nodul Anda sesuai untuk tindakan RFA, karena tidak semua kasus dapat ditangani dengan metode ini. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di UNL, 25 September 2026: Duel Perdana yang Sulit Diprediksi
- 2Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di UNL, 25 September 2026: Dapatkah Khvicha Kvaratskhelia Menjadi Pembeda?
- 3Prediksi Skor Armenia vs Latvia di UNL, 25 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Tanpa Kemenangan?
- 4Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di UNL, 26 September 2026: Mampukah The Brave Falcons Lanjutkan Tren Positif?
- 5Prediksi Skor Andorra vs Malta di UNL, 24 September 2026: Mampukah Tim Tamu Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan?
- 6Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di UNL, 26 September 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit?
- 7Prediksi Skor Austria vs Israel di UNL, 25 September 2026: Tuan Rumah Bidik Awal dengan Kemenangan
- 8Prediksi Skor Hungaria vs Ukraina di UNL, 26 September 2026: Duel Ketat di Budapest
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






