Jakarta

Pasar Modal Cetak Rekor, Rupiah Parkir di Level Rp16.865 per Dolar AS

Aisya Nur Aziza | 15 Januari 2026, 18:10 WIB
Pasar Modal Cetak Rekor, Rupiah Parkir di Level Rp16.865 per Dolar AS

 


AKURAT JAKARTA - 
Performa gemilang pasar modal domestik menjadi katalis utama penguatan nilai tukar Rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (14/1).

Mata uang Garuda berhasil menguat tipis 12 poin atau 0,07 persen, menutup hari di posisi Rp16.865 per dolar AS, sedikit lebih perkasa dibanding penutupan sebelumnya di angka Rp16.877.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengungkapkan bahwa "darah segar" yang mengalir ke aset domestik menjadi penopang utama kurs.

Baca Juga: Resmi! Mantan Menkeu Sri Mulyani Masuk Dewan Direksi Gates Foundation

Meskipun nilai tukar Rupiah menunjukkan sedikit penguatan, namun bayang-bayang ketidakpastian global masih menjadi ancaman serius bagi stabilitas mata uang rupiah.

Berdasarkan data terbaru, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat menguat tipis ke level Rp16.871 per dolar AS, bergerak dari posisi sebelumnya di angka Rp16.875.

Penguatan di pasar domestik ini sebenarnya terjadi di tengah kepungan sentimen negatif dari Amerika Serikat.

Baca Juga: 17 Hari Hilang, Pendaki Gunung Slamet Asal Magelang DitemukanDalam Kondisi Tewas

Fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada isu intervensi pemerintah AS yang mulai mengganggu independensi Federal Reserve (The Fed).

Gangguan terhadap kemandirian bank sentral ini menciptakan kekhawatiran baru di pasar keuangan global.

Selain masalah independensi, kebijakan suku bunga The Fed juga menjadi beban tambahan.

Baca Juga: Drama Politik AS dan Tensi Global Memanas, Harga Emas Dunia Cetak Rekor

Meski data ekonomi AS menunjukkan indikator yang mendukung penurunan bunga, The Fed justru memberikan sinyal akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Hal ini membuat dolar AS tetap perkasa dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kondisi ini semakin diperparah oleh memanasnya tensi geopolitik.

Ancaman terbaru dari Presiden AS Donald Trump yang akan memberlakukan tarif impor sebesar 25 persen bagi negara-negara yang nekat berdagang dengan Iran telah memicu kepanikan pasar.

Dampaknya, investor berbondong-bondong mengamankan aset mereka ke dalam dolar AS yang dianggap sebagai aset aman (safe haven), yang pada akhirnya berpotensi membatasi ruang gerak penguatan Rupiah ke depannya. (*)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.