Jakarta

Bahaya Mengonsumsi Roti Berjamur yang Sering Dianggap Sepele

Zainal Abidin | 23 Januari 2026, 14:15 WIB
Bahaya Mengonsumsi Roti Berjamur yang Sering Dianggap Sepele

AKURAT JAKARTA - Banyak orang masih menganggap roti berjamur aman dikonsumsi dengan cara memotong bagian yang tampak rusak dan memakan sisanya.

Anggapan tersebut keliru karena jamur pada roti tidak hanya tumbuh di permukaan, tetapi juga menyebar ke bagian dalam yang tak terlihat.

Struktur roti yang lembut dan berpori membuat akar jamur mudah menembus ke seluruh bagian roti tanpa bisa dikenali secara kasat mata.

Baca Juga: Pantai Oetune, Pesona Gurun Laut di Timur Nusantara

Jamur roti memiliki akar mikroskopis yang disebut miselium, yang dapat menghasilkan mikotoksin berbahaya bagi kesehatan manusia.

Mikotoksin adalah zat beracun yang tetap bertahan meskipun bagian roti yang tampak berjamur telah dibuang atau dipotong.

Paparan mikotoksin dalam jangka pendek dapat memicu mual, muntah, dan gangguan pencernaan pada sebagian orang yang sensitif.

Baca Juga: Sempat Alami Panic Attack Pasca-Melahirkan, Meghan Trainor Kini Sambut Anak Ketiga Lewat 'Surrogate'

Jika dikonsumsi terus-menerus, mikotoksin berisiko menyebabkan gangguan kesehatan jangka panjang yang tidak boleh dianggap remeh.

Jamur yang paling sering tumbuh pada roti memiliki nama ilmiah Rhizopus stolonifer, yang juga dikenal sebagai black bread mold.

Jamur ini biasanya terlihat sebagai bercak biru kehijauan yang kemudian menghitam di bagian tengah saat sudah matang.

Baca Juga: Waspada Bahaya Air Saat Badai Petir, Ancaman Listrik yang Sering Diabaikan di Rumah

Warna hitam tersebut menandakan jamur telah siap berkembang biak dan melepaskan spora ke udara sekitar.

Spora jamur bersifat sangat kecil dan tidak terlihat oleh mata, namun dapat menyebar luas dan mencemari seluruh roti.

Jamur roti tersusun atas hifa dan sporangium yang berperan penting dalam proses pertumbuhan dan penyebaran spora.

Baca Juga: Keraton Surakarta Hadiningrat, Pesona Wisata Budaya Kota Solo

Bagian jamur yang terlihat oleh mata hanyalah sporangium, sementara hifa terutama rizoid telah menembus jauh ke dalam roti.

Inilah alasan utama mengapa roti berjamur sebaiknya dibuang seluruhnya, bukan hanya bagian yang tampak rusak saja.

Baca Juga: Gastritis: Radang Lambung yang Sering Diabaikan, Tapi Bisa Berujung Serius

Jamur roti dapat tumbuh optimal pada suhu antara 15 hingga 30 derajat Celsius, yang umum terjadi di suhu ruang tropis.

Menyimpan roti terlalu lama di suhu ruang meningkatkan risiko pertumbuhan jamur meskipun roti masih terlihat baik.

Untuk penyimpanan lebih lama, roti sebaiknya disimpan di lemari pendingin atau dibekukan agar pertumbuhan jamur terhambat.

Baca Juga: Menghabiskan Antibiotik Bukan Sekadar Aturan, Ini Alasan Medis di Baliknya

Saat akan dikonsumsi kembali, roti beku dapat dihangatkan tanpa mengurangi keamanan selama tidak ada tanda jamur.

Membiasakan diri memeriksa makanan sebelum dikonsumsi merupakan langkah sederhana namun penting untuk menjaga kesehatan keluarga.

Periksa kemasan roti, tanggal produksi, serta tanggal kedaluwarsa untuk memastikan produk masih layak dikonsumsi.

Baca Juga: Kelas! Pariwisata Indonesia Raih Puluhan Penghargaan Internasional Bergengsi

Selain itu, perhatikan perubahan warna, aroma, dan tekstur karena tanda tersebut sering muncul sebelum jamur terlihat jelas.

Jika ditemukan bercak jamur sekecil apa pun, sebaiknya roti langsung dibuang demi menghindari risiko kesehatan tersembunyi. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.