Jakarta

Waspada! 5 Sinyal Tubuh Saat Anda Sedang Berada dalam Mode Bertahan Hidup

Aisya Nur Aziza | 29 Agustus 2026, 09:32 WIB
Waspada! 5 Sinyal Tubuh Saat Anda Sedang Berada dalam Mode Bertahan Hidup
Ilustrasi tubuh alami stress

AKURAT JAKARTA - Banyak orang mampu menjalankan aktivitas harian dengan begitu energik dan tampak tenang dari luar.

Namun di balik itu, tak jarang pikiran mereka sebenarnya sedang bekerja ekstra keras menghadapi tekanan besar.

Kondisi psikologis ini populer dikenal sebagai survival mode atau mode bertahan hidup.

Dalam keadaan ini, seseorang secara tidak sadar memusatkan seluruh energinya hanya untuk bertahan melewati hari dan meminimalkan stres tambahan.

Dilansir dari Real Simple, ada lima petunjuk utama yang mengindikasikan seseorang sedang terjebak dalam kondisi ini.

Baca Juga: Bukan WhatsApp Lagi, Gen Z Mulai Beralih ke Aplikasi Chat Nyleneh yang Bisa 'Hilangkan' Pesan

Ciri-Ciri Utama Seseorang Terjebak dalam Survival Mode

1. Sering Lupa dan Sulit Fokus

Pendiri Temperance Psychotherapy, Nicole Ivelevitch, LCSW, memaparkan bahwa penurunan daya ingat menjadi sinyal awal otak yang kelelahan.

Kondisi ini sering ditandai dengan lupa meletakkan benda atau mendadak kehilangan alur pembicaraan.

Saat terancam oleh tekanan, kapasitas otak untuk mengingat, merencanakan, dan fokus akan tergerus karena fokusnya terbagi untuk mengawasi potensi beban mental.

2. Terbangun di Dini Hari dengan Rasa Cemas

Kualitas tidur yang terganggu juga menjadi indikator kuat.

Pakar pemulihan burnout, dr. Archana Shrestha, MD, menyebutkan bahwa terbangun di tengah malam dan sulit tidur kembali bukanlah hal yang wajar.

Meski tubuh beristirahat, pikiran yang terus bekerja akan memicu sistem saraf simpatik, sehingga seseorang terbangun dalam keadaan khawatir atau gelisah.

3. Emosi Mudah Meledak (Sensitif)

Ketika sistem saraf tidak stabil akibat kelelahan parah, amigdala (pusat emosi otak) menjadi jauh lebih sensitif, sementara area otak pengontrol emosi (prefrontal cortex) menurun fungsinya.

Alhasil, masalah sepele yang biasanya tidak mengganggu bisa langsung memancing amarah tinggi dalam waktu singkat.

4. Terjebak dalam Pikiran Negatif

Seseorang dalam mode bertahan hidup cenderung memikirkan dan merenungi perasaan buruk secara berlarut-larut.

Perasaan positif menjadi sangat minim.

Jika dibiarkan tanpa penanganan, kebiasaan memendam emosi negatif ini berisiko memicu stres kronis yang berdampak buruk pada kesehatan fisik.

5. Dorongan Mengontrol Segala Hal secara Berlebihan

Secara tiba-tiba, pribadi yang tadinya santai bisa berubah menjadi sangat perfeksionis.

Menurut Ivelevitch, dorongan untuk mengatur segala hal agar berjalan sesuai rencana bukanlah bentuk keinginan menguasai orang lain, melainkan upaya spontan tubuh untuk menciptakan rasa aman dan kepastian di tengah situasi yang terasa kacau.

Solusi Sederhana Keluar dari Survival Mode

Untuk meredakan tekanan dan mengembalikan ketenangan sistem saraf, dr. Archana Shrestha menyarankan teknik relaksasi mandiri yang praktis:

  1. Ucapkan Afirmasi Positif: Katakan pada diri sendiri, "Semua hal di sekitarku saat ini aman."

  2. Atur Pernapasan: Tarik napas dalam-dalam secara perlahan melalui hidung, lalu hembuskan perlahan lewat mulut.

  3. Teknik Grounding: Amati dan sadari keberadaan sekitar dengan mengaktifkan indra penglihatan, pendengaran, dan perabaan.

  4. Ulangi Afirmasi: Tegaskan kembali pada diri sendiri bahwa kondisi Anda saat ini sudah aman.

Metode ini terbukti efektif menenangkan sistem saraf simpatik (fight or flight) dan mengaktifkan sistem saraf parasimpatik, sehingga tubuh dan pikiran bisa perlahan rileks kembali. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.