Jakarta

Siap-siap! Hujan Meteor Orionid Hiasi Langit Oktober, Cek Waktu Terbaik untuk Memantau

Yusuf Doank | 15 Oktober 2026, 09:08 WIB
Siap-siap! Hujan Meteor Orionid Hiasi Langit Oktober, Cek Waktu Terbaik untuk Memantau
Ilustrasi

AKURAT JAKARTA – Fenomena astronomi spektakuler hujan meteor Orionid kembali menyapa para pencinta langit malam sepanjang Oktober hingga awal November 2026.

Puncak keindahan fenomena langit ini diperkirakan terjadi pada 21–22 Oktober 2026.

Dalam kondisi langit cerah dan minim polusi cahaya, masyarakat dapat menyaksikan sekitar 10 hingga 20 kilatan meteor setiap jamnya.

Baca Juga: Hari Ini Ada Gerhana Matahari Total hingga Puncak Hujan Meteor Perseid

Hujan meteor Orionid terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu dan puing-puing es yang ditinggalkan oleh komet paling populer dalam sejarah, Komet Halley.

Saat masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan mencapai 66 kilometer per detik, partikel-partikel tersebut terbakar dan menciptakan pijar cahaya indah yang melesat cepat di langit.

Tips dan Waktu Terbaik menyaksikan Hujan Meteor Orionid

Hujan meteor ini dinamai Orionid karena titik arah kemunculannya (titik radian) tampak berasal dari rasi bintang Orion.

Karena rasi Orion berada di sekitar garis ekuator langit, fenomena ini dapat disaksikan dari belahan Bumi utara maupun selatan, termasuk Indonesia.

Berikut beberapa panduan bagi Anda yang ingin mengamati fenomena ini secara maksimal:

Waktu Terbaik: NASA menyarankan waktu pengamatan terbaik dilakukan pada beberapa jam sebelum subuh. Pada momen ini, titik radian rasi Orion telah berada cukup tinggi di langit.

Arah Pandangan: Jangan hanya terpaku menatap rasi Orion. Sebaiknya tatap area langit di sekitar rasi bintang tetangganya, sebab meteor yang muncul di dekat titik radian justru memiliki jejak cahaya lebih pendek sehingga lebih sulit terlihat.

Tanpa Alat Bantu: Anda tidak memerlukan teleskop atau teropong. Cukup cari lokasi yang lapang dan minim cahaya lampu kota.

Adaptasi Mata: Luangkan waktu sekitar 30 menit agar mata beradaptasi dengan kegelapan malam sebelum mulai berburu bintang jatuh.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y