Jakarta

Kelainan Jantung Bawaan pada Bayi Bisa Tanpa Gejala, Orang Tua Perlu Waspada

Yusuf Doank | 23 Oktober 2026, 18:13 WIB
Kelainan Jantung Bawaan pada Bayi Bisa Tanpa Gejala, Orang Tua Perlu Waspada
Konsultan Jantung Anak BraveHeart Cardiovascular Center Brawijaya Hospital Saharjo, Dr dr Anisa Rahmadhany SpA Subsp Kardio

AKURAT JAKARTA – Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan salah satu masalah kesehatan anak yang membutuhkan perhatian ekstra sejak awal kehidupan. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 50.000 bayi lahir dengan kondisi PJB setiap tahunnya.

Konsultan Jantung Anak BraveHeart Cardiovascular Center Brawijaya Hospital Saharjo, Dr dr Anisa Rahmadhany SpA Subsp Kardio mengingatkan pentingnya orang tua meningkatkan kesadaran terhadap kondisi jantung anak, terutama memahami tanda-tanda awal yang sering tidak disadari.

"Pada beberapa kasus, gejala PJB dapat terlihat sejak bayi dilahirkan. Namun, pada kasus lainnya, tanda-tanda baru muncul beberapa minggu atau bulan kemudian," kata dr Anisa.

Dia menjelaskan, bayi yang mengalami PJB kerap terlihat lebih cepat lelah saat menyusu, bernapas lebih cepat, atau kesulitan mencapai kenaikan berat badan yang ideal sesuai usianya.

Sayangnya, gejala-gejala ini kerap dianggap sebagai bagian dari proses tumbuh kembang normal. Padahal, jika terjadi berulang atau disertai keluhan lain, kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Mengapa PJB Tidak Selalu Terlihat Saat Lahir?

Penyakit jantung bawaan merupakan kelainan pada struktur jantung atau pembuluh darah besar yang terbentuk selama masa perkembangan janin. Kelainan ini beragam, mulai dari adanya lubang pada sekat jantung, gangguan katup jantung, hingga kelainan susunan pembuluh darah besar.

Perbedaan jenis dan tingkat keparahan membuat gejala yang muncul pada setiap bayi tidak selalu sama. Sebagian bayi mengalami gangguan sirkulasi darah berat sejak lahir, sementara yang lain dapat terlihat sehat selama beberapa waktu.

"Pada kondisi tertentu, tubuh bayi masih mampu menyesuaikan diri dengan kelainan yang ada. Namun, seiring bertambahnya usia dan meningkatnya kebutuhan oksigen, gangguan tersebut mulai menimbulkan gejala," jelasnya.

Orang tua diminta mewaspadai sejumlah perubahan pada bayi, antara lain:

  • Mudah lelah dan sering berhenti untuk mengambil napas saat menyusu.

  • Berkeringat berlebihan ketika menyusu.

  • Kenaikan berat badan kurang optimal.

  • Laju napas lebih cepat dari biasanya, terutama jika disertai kebiruan atau perubahan warna kulit.

Meski demikian, dr Anisa menegaskan bahwa tanda-tanda tersebut tidak selalu pasti menunjukkan PJB, sehingga pemeriksaan oleh tenaga medis mutlak diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Bayi Menangis Kuat Belum Tentu Bebas PJB

Salah satu anggapan keliru di masyarakat adalah mempercayai bahwa bayi yang lahir tampak bugar, menangis kuat, dan memiliki skor Apgar normal pasti terbebas dari kelainan jantung.

Skor Apgar hanyalah penilaian awal kondisi umum bayi pada menit-menit pertama kehidupan, bukan alat untuk mendeteksi kelainan struktur organ jantung.

Oleh karena itu, pemeriksaan kondisi bayi baru lahir perlu dilengkapi dengan skrining yang sesuai. Salah satunya adalah pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan alat pulse oximeter pada tangan kanan dan salah satu kaki bayi.

"Skrining sederhana seperti pengukuran saturasi oksigen ini dapat membantu mendeteksi PJB kritis secara dini. Jika dilakukan tepat waktu, hasilnya sangat menentukan kualitas kesehatan anak di masa depan," tambah dr Anisa.

Apabila hasil skrining menunjukkan ketidaknormalan atau ada kecurigaan klinis, dokter akan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan seperti ekokardiografi (USG jantung).

Deteksi Dini Buka Peluang Kesehatan Lebih Baik

Diagnosis PJB sedini mungkin memegang peranan kunci dalam menentukan rencana penanganan serta pemantauan tumbuh kembang anak. Penanganan akan disesuaikan dengan jenis kelainan, tingkat keparahan, serta kondisi masing-masing pasien.

Sebagian kelainan hanya membutuhkan pemantauan berkala. Namun, pada kasus tertentu diperlukan pemberian obat-obatan, tindakan kateterisasi jantung, hingga operasi guna memperbaiki struktur maupun fungsi jantung.

Dr Anisa menekankan bahwa kemajuan teknologi medis dalam dua dekade terakhir berkembang pesat. Jika terdeteksi dan ditangani sejak dini, sebagian besar anak dengan PJB kini dapat tumbuh optimal dan menjalani kehidupan yang jauh lebih baik.

Ia mengimbau orang tua untuk memastikan bayi mendapatkan pemeriksaan kesehatan setelah lahir, termasuk menanyakan opsi skrining PJB kepada dokter atau bidan.

Segera bawa bayi ke fasilitas kesehatan apabila menunjukkan tanda bahaya seperti kesulitan bernapas, bibir atau lidah tampak kebiruan, napas cepat menetap, atau menunjukkan penurunan kondisi umum.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y