Jakarta

Manajer Zaki Iskandar Ungkap Perbedaan Mencolok Pembinaan PSSI Era Nurdin Halid dan Erick Thohir

Ainun Kusumaningrum | 4 Desember 2025, 18:36 WIB
Manajer Zaki Iskandar Ungkap Perbedaan Mencolok Pembinaan PSSI Era Nurdin Halid dan Erick Thohir

AKURAT JAKARTA – Manajer Tim Nasional (Timnas) U-17, Zaki Achmad Iskandar, membeberkan transformasi signifikan dalam sistem pembinaan sepak bola nasional. Berdasarkan pengalamannya yang panjang mendampingi tim usia muda sejak tahun 2006,

Mantan Bupati Tangerang dua periode itu menilai terjadi perbedaan mencolok antara era kepemimpinan PSSI di bawah Nurdin Halid dengan era modern di bawah kendali Erick Thohir.

Menurut Zaki, perubahan yang terjadi tidak sekadar menyentuh kebijakan, melainkan juga membahas budaya, metode, dan cara pandang federasi terhadap pengembangan talenta pemain muda Indonesia.

Baca Juga: Zaki Ungkap Pembentukan Mentalitas Garuda Muda di Piala Dunia, Dipagari Dua Psikolog Khusus

Zaki Iskandar mengenang program radikal yang diterapkan PSSI di masa Nurdin Halid, yaitu mengirim satu tim U-23 ke Belanda selama hampir enam bulan untuk persiapan menghadapi Asian Games 2006. Program tersebut dijalankan bekerja sama dengan Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB).

Meski terlihat ambisius, program jangka panjang di Eropa tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Zaki menyoroti minimnya staf pendukung yang menyebabkan pemain mengalami tekanan tinggi, diperparah dengan masalah adaptasi cuaca, jenis makanan, dan rasa rindu terhadap kampung halaman.

"Beban mentalnya besar. Untung saat itu media sosial belum seramai sekarang," kenang Zaki dalam sebuah siniar (podcast), Rabu (3/12).

Baca Juga: Didukung Pemain Luar Negeri, Manajer Timnas Zaki Iskandar Optimistis Garuda Muda Pertahankan Emas SEA Games

Hasil akhir dari pemusatan latihan (TC) tersebut mengecewakan. Timnas U-23 menelan kekalahan telak di kualifikasi Grup B Asian Games 2006.

Pengalaman pahit tersebut mendorong Zaki melaporkan bahwa konsep TC jangka panjang di Eropa belum cocok diterapkan untuk karakter pemain Indonesia.

Zaki menilai, pendekatan PSSI saat ini di bawah Erick Thohir jauh lebih realistis dan terukur. Strategi federasi kini fokus membangun ekosistem pelatihan dalam negeri yang lengkap dan sesuai dengan budaya lokal, alih-alih memaksakan TC panjang di luar negeri.

Pemusatan latihan jangka panjang kini dilakukan di Indonesia, yang diselingi dengan agenda uji coba atau training camp singkat ke luar negeri, seperti ke Bulgaria atau Dubai.

“Metode sekarang lebih menyentuh sisi kemanusiaan pemain. Mental, nutrisi, dan kondisi fisik anak-anak usia 16–17 tahun lebih terjaga,” ungkap Zaki.

Ia menyebut dukungan federasi kini jauh lebih profesional. Setiap tim didampingi staf pendukung lengkap, mulai dari pelatih spesialis, tim dokter, ahli gizi, hingga psikolog, yang menjamin pelatihan dilakukan secara holistik.

Zaki menegaskan bahwa pelatihan sepak bola tidak hanya dapat meniru negara maju tanpa memahami konteks dan karakter pemain Indonesia. Adaptasi dan kesinambungan adalah kunci utama.

“Untuk usia 17–20 tahun, TC panjang di dalam negeri itu ideal. Saat memasuki U-20 atau U-23, barulah pemain yang diproyeksikan mendapat pengalaman internasional secara bertahap,” tegasnya.

Dengan fondasi yang dinilai lebih matang dan pendekatan yang lebih humanis, Zaki optimistis bahwa arah pelatihan sepak bola Indonesia saat ini berada pada jalur yang benar untuk mencapai standar global yang lebih tinggi. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.