Jakarta

Peran Ruang Digital Dalam Menjaga Pemilu Damai dengan Hargai Perbedaan Pilihan

Ainun Kusumaningrum | 12 Februari 2024, 15:08 WIB
Peran Ruang Digital Dalam Menjaga Pemilu Damai dengan Hargai Perbedaan Pilihan

AKURAT JAKARTA - Peran ruang digital dalam menjaga pemilu damai dengan hargai perbedaan pilihan di dalam ruang media sosial.

Demikian terungkap saat webinar Kominfo dan DPR RI yang diikuti ratusan peserta dengan tema: "Peran Ruang Digital dalam Menjaga Pemilu Damai" pada Rabu, 7 Februari 2024.

Hadir sebagai nara sumber seminar adalah Anggota Komisi 1 DPR RI Dave Akbarshah Fikarno Laksono, Praktisi Literasi Digital Abi Rekso Panggalih, dan Akademisi Prof. Achmad Faqih.

Baca Juga: 10 Twibbon Keren dan Gratis untuk Anggota KPPS yang Siap Bertugas di Pemilu 2024, Ini Linknya

Dalam kesempatan tersebut, Dave Laksono mengatakan, peran ruang digital dalam menjaga pemilu yang damai harus terus diingatkan kepada semua masyarakat.

"Itu untuk memastikan jangan sampai pemilu menjadi ajang saling menyerang dan menjelekkan sesama, tetapi harus jadi ajang pemersatu," kata Dave Laksono.

Menurut dia, masyarakat sebagai pemilih pada Pilpres dan Pileg 2024 harus pintar saring berita di ruang digital, sehingga akan tercipta pemilu damai.

Baca Juga: 4 Foto Ayu Ting Ting Dilamar Lettu Muhammad Fardana, dari Gandengan Tangan, Pelukan, Hingga...

"Di ruang digital kita pastikan untuk menyampaikan ide visi dan misi dan menjaga ruang digital kita bebas dari perpecahan," katanya.

Lebih lanjut, Dave mengatakan, saat ini warga Indonesia dalam proses untuk menentukan masa depan dengan memilih pemimpin baru baik di Parlemen dan Presiden.

"Saya pribadi untuk presiden memilih Prabowo-Gibran, dan sebagai anggota DPR RI sedang berjuang untuk maju kembali Cirebon dan Indramayu," kata politikus Golkar ini.

Meski demikian, Dave menyerukan kepada masing-masing pendukung paslon untuk tetap menghargai perbedaan pilihan. Perbedaan tidak menjadikan perpecahan, justru menjadi persatuan.

"Jangan sampai momen penting bersejarah di dalam siklus 5 tahunan ini justru menjadi ajang untuk saling menyerang dan menghina tetapi harus menjadi wadah untuk mengkomunikasikan ide dan pikiran kita," katanya.

Sementara itu, Praktisi Literasi Digital, Abi Rekso Panggalih menyatakan, masyarakat memerlukan kesadaran bermedia sosial salah satunya dengan cara mengenali motif dari masing-masing orang atau institusi.

"Artinya hal ini menjadi sangat sensitif karena semua orang memiliki atensi informasi dari medsos," ujarnya.

Dia mengatakan, jika di media sosial tidak memungkinkan ruang yang sifatnya partisipatoris, maka apa yang diharapkan tentang praktek kesadaran literasi digital yang tidak mudah.

"Maka bagaimana membangun kondisi agar lingkungan sosial media ini atau digital menjadi sangat nyaman dan memungkinkan untuk tumbuhnya pikiran-pikiran dan gagasan yang progresif untuk proses bernegara dan berbangsa," katanya.

Di kesempatan yang sama, Akademisi Prof. Achmad Faqih mengingatkan masyarakat untuk pandai menyeleksi informasi atau menyampaikan informasi. Jangan sampai terkena fitnah sehingga ruang digital bermanfaat secara maksimal.

"Informasi di medsos akan berpengaruh pada substansi. Jadi, saat menyampaikan medsos harus data valid, dipercaya, berita baik, membangun kedamaian dan kebersamaan demi bangsa," katanya.

Dia mengingatkan, pengguna digital jangan mudah terima hoaks yang berujung perpecahan.

"Perbedaan pilihan dalam konteks pemalu, jangan jadi perpecahan, habis pemilu harus kembali," ujarnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.