Rupiah Tembus Rp18.000, Menkeu Purbaya Optimis Nilai Fundamental Jauh Lebih Perkasa

AKURAT JAKARTA — Nilai tukar rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS sejak Kamis (4/6).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pastikan pelemahan rupiah belum mengganggu kemampuan pemerintah dalam membayar utang negara.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar kupon surat utang pemerintah menggunakan skema suku bunga tetap (fixed rate).
Di mana struktur ini membuat fluktuasi nilai tukar tidak memberikan dampak signifikan terhadap pokok utang yang harus dibayarkan.
Meski demikian, Menkeu tidak menampik adanya tekanan pada porsi utang tertentu.
Pelemahan mata uang Garuda diakui otomatis meningkatkan beban pembayaran bunga untuk utang yang berdenominasi valuta asing (valas) saat dikonversi ke dalam rupiah.
"Kuponnya sih konstan. Kalau pembayaran utang kan lewat kuponnya. Cuma pada waktu rupiah melemah, ya meningkatkan dalam rupiah pembayarannya," ujar Purbaya.
Baca Juga: Jawab Rumor Reshuffle, Mensesneg Jawab Posisi Menkeu Purbaya
Melampaui Target APBN
Adapun sebelumnya, posisi rupiah saat ini telah melampaui asumsi makro yang ditetapkan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yakni sebesar Rp16.500 per dolar AS.
Menyikapi situasi tersebut Kementerian Keuangan mengklaim telah melakukan berbagai simulasi risiko.
Purbaya optimis bahwa nilai fundamental rupiah sebenarnya jauh lebih kuat daripada kondisi pasar spot saat ini.
“Pada dasarnya, fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang. Lebih kuat dari yang sekarang,” kata Purbaya menambahkan.
BI Pertebal Intervensi Pasar
Merespons tekanan yang terus berlanjut, Bank Indonesia (BI) menyatakan siap mengambil langkah agresif guna menstabilkan nilai tukar.
Bank sentral memastikan bakal meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa selain intervensi langsung, BI juga memperkuat struktur suku bunga pada instrumen moneter yang ramah pasar (pro-market).
Langkah ini diambil guna merangsang kembali aliran modal asing masuk ke aset domestik.
“Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder,” tegas Destry secara terpisah. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor AS Monaco vs RC Lens di Ligue 1, 19 September 2026: Mampukah Les Monegasques Pertahankan Tren Positif?
- 2Prediksi Skor Espanyol vs Elche di La Liga, 19 September 2026: Misi Los Pericos Bangkit di Kandang
- 3Prediksi Skor Monza vs Sassuolo di Serie A, 19 September 2026: Mampukah Biancorossi Hentikan Tren Buruk?
- 4Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Premier League, 19 September 2026: Duel Ketat Dua Tim Papan Tengah di Hill Dickinson
- 5Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Premier League, 19 September 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 6Prediksi Skor Bayern Munich vs Union Berlin di Bundesliga, 19 September 2026: Mampukah Die Eisernen Tahan Gempuran Tuan Rumah?
- 7Prediksi Skor Nottingham Forest vs Coventry City di Premier League, 19 September 2026: Mampukah The Sky Blues Hentikan Tren Buruk?
- 8Prediksi Skor Osasuna vs Rayo Vallecano di La Liga, 19 September 2026: Duel Dua Tim dengan Tujuh Poin di El Sadar
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!

