Gandeng Gibran Jadi Cawapres, Elektabilitas Prabowo Justru Turun, Ini Penyebabnya Menurut Charta Politika

AKURAT JAKARTA - Lembaga survei Charta Politika baru saja merilis hasil survei terbarunya pada Senin (6/11/2023) siang.
Dalam survei kali ini, Charta Politika megangkat tema: 'peta elektoral pasca putusan MK dan pendaftaran capres dan cawapres'.
Survei dilaksanakan pada periode tanggal 26-31 Oktober 2023, dengan melakukan wawancara kepada 2.400 orang responden dari 38 provinsi se-Indonesia
Hasilnya, elektabilitas pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD bersaing ketat dengan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming. Sementara pasangan Anies Baswedan -Muhaimin Iskandar menguntit di belakang.
Baca Juga: Berikut Jadwal Pertandingan Piala Dunia U-17 2023 di Stadion JIS, Catat Tanggalnya
"(Elektabilitasnya) tidak terlalu jauh berbeda, Ganjar-Mahfud ada di angka 36,8 persen, Prabowo-Gibran di angka 34,7 persen, Anies-Muhaimin di angka 24,3 persen," kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya dalam konferensi pers, Senin (6/11/2023).
Menarik untuk dicermati adalah elektabilitas Prabowo yang justru turun setelah mengumumkan Gibran Rakabuming sebagai Cawapresnya.
Bandingkan dengan survei Charta Politika periode sebelumnya, yaitu tanggal 13-17 Oktober 2023. Elektabilitas Prabowo unggul jauh dibanding Ganjar. Prabowo meraih 49,4 persen, sedangkan Ganjar hanya 39,6 persen.
"Kita bisa lihat atau berspekulasi dan membuat hipotesa bahwa masuknya nama Gibran sebagai Cawapres, malah menjadi liabilities, bukan menjadi aset bagi Prabowo," kata Yunarto.
Penyebabnya, mayoritas responden menilai Gibran belum pantas maju ke pentas politik nasional yaitu Pilpres 2024. Majunya putra sulung Presiden Jokowi itu dianggap sebagai upaya politik dinasti.
“Kita tanyakan juga khusus politik dinasti, apakah bapak/ibu/saudara setuju atau tidak setuju dengan praktik politik dinasti? 59,3 persen menjawab tidak setuju dan 19,2 persen menyatakan setuju,” kata Yunarto.
Yunarto menerangkan, mayoritas responden menilai bahwa Gibran adalah produk politik dinasti. “Ketika kita uji di publik, 49,3 persen menyatakan setuju ini bentuk dinasti politik, dan 31,9 persen tidak setuju,” tambahnya.
Yunarto menuturkan, Gibran saat ini dinilai belum pantas menjadi cawapres. Setidaknya ada empat penilaian utama, yaitu:
- Gibran orang yang ambisius dan tidak punya loyalitas terhadap partai politik/organisasi.
- Majunya Gibran sebagai calon Wakil Presiden merupakan bentuk nyata penyalahgunaan kekuasaan oleh Presiden Joko Widodo.
- Majunya Gibran sebagai calon Wakil Presiden merupakan praktik politik dinasti yang sedang dilakukan Presiden Jokowi.
- Masih terlalu muda, dan belum terlalu memiliki pengalaman menjadi pejabat publik. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!

