Jakarta

Sulit Cari Kerja Formal, Mayoritas Pengemudi Ojol Pilih Sektor Gig Demi Sambung Hidup

Yusuf Doank | 6 Oktober 2026, 01:57 WIB
Sulit Cari Kerja Formal, Mayoritas Pengemudi Ojol Pilih Sektor Gig Demi Sambung Hidup

AKURAT JAKARTA – Tingginya hambatan masuk ke sektor kerja formal menjadi alasan utama masyarakat beralih ke pekerjaan berbasis platform digital (gig economy), termasuk pengemudi ojek online (ojol).

Hasil survei Segara Research Institute pada Agustus–September 2026 mengungkapkan, sebanyak 73,8% pengemudi ojol memutuskan bergabung dengan platform digital karena tidak mendapatkan pekerjaan di sektor formal.

Survei yang melibatkan 506 pekerja gig di lima kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar) tersebut juga mencatat bahwa 57,3% responden sama sekali belum pernah mencicipi pekerjaan di sektor formal. Sementara itu, 22,1% pengemudi ojol mengaku terpaksa narik akibat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Baca Juga: Golkar DKI Gelar Nobar Final Timnas Indonesia vs Thailand, Ratusan Warga Antusias Nonton Hingga Bawa Drum

Selain dorongan kebutuhan ekonomi, faktor fleksibilitas waktu menjadi daya tarik utama. Sebanyak 95% mitra ojol menilai fleksibilitas jam kerja sebagai keunggulan utama pekerjaan ini. Dari sisi pendapatan, 81,6% responden menjadikan pekerjaan gig sebagai sumber penghasilan utama keluarga.

Tingginya angka partisipasi juga dipengaruhi oleh batasan usia di pasar kerja formal. Survei mencatat 23,3% mitra ojol telah berusia 45 tahun ke atas, kelompok umur yang dinilai sangat rentan dan sulit bersaing di sektor formal.

Menanggapi temuan ini, Ekonom Segara Research Institute YB Kadarusman menekankan agar pemerintah berhati-hati dalam merumuskan kebijakan perlindungan bagi pekerja gig.

Regulasi yang dibuat diharapkan tidak malah membatasi akses masyarakat untuk memperoleh penghasilan.

"Kita ingin memberikan perlindungan, tetapi kalau desain perlindungannya membuat jumlah orang yang bisa mendapatkan pekerjaan menjadi jauh lebih sedikit, dampaknya terhadap masyarakat harus dihitung secara matang," ujar Kadarusman.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y