Jakarta

Tak Mau Ditinggalkan Generasi Muda, Museum Kini Mulai Ubah Cara Bercerita

Anggerhana Denni Rahmawati | 20 Agustus 2026, 08:30 WIB
Tak Mau Ditinggalkan Generasi Muda, Museum Kini Mulai Ubah Cara Bercerita
Cara museum Indonesia mendekati generasi muda. - museum.co.id

AKURAT JAKARTA - Museum selama ini identik dengan benda-benda bersejarah yang tersimpan di balik kaca dan ruang pamer yang tenang.

Namun, cara tersebut perlahan mulai berubah.

Sejumlah museum di Indonesia kini mencoba menghadirkan pengalaman yang lebih interaktif agar sejarah tidak terasa jauh bagi generasi muda.

Perubahan itu terlihat di Museum Naskah Proklamasi.

Kisah menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tidak hanya disampaikan melalui koleksi dan film dokumenter, tetapi juga animasi dengan pendekatan visual yang lebih kekinian.

Pengunjung tidak sekadar melihat benda bersejarah, tetapi diajak memahami cerita dan rangkaian peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya Indonesia.

Transformasi museum bukan berarti meninggalkan koleksi asli.

Justru, benda-benda bersejarah tetap menjadi bagian utama yang tidak bisa digantikan.

Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta Paramita Jaya Yiyok T. Herlambang mengatakan kekuatan museum berada pada koleksi dan cara menyampaikannya kepada pengunjung.

"Museum itu kita melihat dari koleksi dan storytelling-nya."

Baca Juga: Status Guru PPPK Mulai Mendapat Titik Terang, Ada Jalan Menuju PNS

Menurutnya, koleksi harus diterjemahkan menjadi pengetahuan dan pemahaman kebangsaan.

Karena itu, teknologi dapat digunakan sebagai pelengkap untuk membuat cerita di balik koleksi lebih mudah dipahami.

Multimedia, virtual reality, hingga immersive room menjadi sejumlah pilihan yang dapat dimanfaatkan museum untuk memberikan pengalaman berbeda kepada pengunjung.

"Museum jangan dipikir sebagai tempat yang mati. Museum harus hidup. Kalau orang dua atau tiga kali datang lalu bosan, berarti ada yang harus diubah," katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan tantangan museum saat ini bukan hanya menjaga benda bersejarah, tetapi juga menjaga agar masyarakat tetap tertarik untuk datang dan belajar dari sejarah.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.