Jakarta

Selama 14 Tahun Digelar Siang, Gandrung Sewu Banyuwangi Kini Tampil di Bawah Cahaya Malam

Anggerhana Denni Rahmawati | 4 Oktober 2026, 18:15 WIB
Selama 14 Tahun Digelar Siang, Gandrung Sewu Banyuwangi Kini Tampil di Bawah Cahaya Malam
Untuk pertama kalinya, Gandrung Sewu digelar malam hari. - kemenpar.go.id

AKURAT JAKARTA - Selama 14 tahun, pertunjukan Gandrung Sewu di Banyuwangi selalu hadir dengan suasana siang atau sore hari.

Namun, tradisi tersebut akan mengalami perubahan besar pada penyelenggaraan 2026.

Untuk pertama kalinya, ribuan penari Gandrung Sewu akan tampil pada malam hari.

Pertunjukan kolosal ini dijadwalkan berlangsung di Pantai Marina Boom Banyuwangi pada Sabtu (24/10/2026), dengan puncak acara sekitar pukul 20.00 WIB.

Perubahan waktu ini bukan sekadar memindahkan jadwal pertunjukan.

Malam hari justru dimanfaatkan untuk menghadirkan pengalaman visual yang berbeda.

Lebih dari 1.000 penari akan tampil dengan dukungan tata cahaya, teknologi pertunjukan, serta elemen fosfor yang dirancang menghasilkan efek visual di tengah suasana malam.

Bagi Gandrung Sewu, perubahan tersebut menjadi eksperimen besar.

Pertunjukan yang selama ini identik dengan panorama pantai pada siang hari akan memiliki suasana yang jauh berbeda ketika panggungnya diterangi cahaya pada malam hari.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan perubahan konsep tersebut dilakukan untuk memberikan pengalaman baru kepada penonton dan wisatawan.

Baca Juga: Jalur Khusus SMA Unggul Garuda ke IUP Unpad Dibuka, Cek Dulu Syarat Berikut Ini

“Setiap tahun kami berupaya menghadirkan sesuatu yang baru dalam Gandrung Sewu. Tahun ini untuk pertama kalinya kita hadirkan pada malam hari. Ini bukan sekadar perubahan waktu pelaksanaan, tetapi kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda kepada penonton dan wisatawan,” kata Ipuk saat konferensi pers Gandrung Sewu 2026, Rabu (30/9/2026).

Meski menggunakan teknologi pertunjukan, perubahan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengubah identitas Gandrung Sewu.

Unsur utama berupa gerak tari, irama, ekspresi, dan nilai budaya tetap menjadi bagian penting dalam pertunjukan.

“Tradisi tidak harus diam di tempat. Tradisi bisa terus bergerak, beradaptasi, dan berkembang mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya. Esensi utama Gandrung Sewu tetap seni tari Gandrung itu sendiri, dengan gerak, irama, ekspresi, dan nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur kita,” kata Ipuk.

Konsep baru tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan InJourney.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.