Jakarta

Ojol Bakal Demo Besar-besaran pada 20 Mei 2025 Besok, Ini 4 Dampak Serius Terhadap Perekonomian Indonesia

Sastra Yudha | 19 Mei 2025, 21:13 WIB
Ojol Bakal Demo Besar-besaran pada 20 Mei 2025 Besok, Ini 4 Dampak Serius Terhadap Perekonomian Indonesia

AKURAT JAKARTA - Ribuan ojek online atau Ojol berencana menggelar unjukrasa besar-besaran pada Selasa, 20 Mei 2025, besok.

Unjukrasa Ojol ini digelar bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Diprediksi, akan menjadi hari yang cukup menantang bagi perekonomian Indonesia, khususnya di sektor transportasi, logistik, dan layanan digital.

Unjukrasa digelar secara serentak di berbagai daerah, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan tarif dan sistem kemitraan yang dinilai merugikan mereka.

Baca Juga: Info Musik! Konser Xdinary Heroes di Jakarta dan Surabaya Ditunda, Simak Informasi Lengkapnya di Sini

Menurut pengamat ekonomi politik yang juga Dosen Pascasarjana Universitas Pamulang (Unpam), Dr. Suripto, fenomena ini bukan sekadar soal relasi antara aplikator dan mitra pengemudi.

"Karena ini menyentuh langsung pada denyut nadi ekonomi urban yang semakin tergantung pada layanan transportasi daring," katanya kepada Akurat, Senin (19/5/2025).

Lebih dari itu, lanjut Suripto, unjukrasa ini berpotensi memberikan efek domino terhadap kegiatan ekonomi sehari-hari.

Berikut ini 4 dampak serius dari aksi unjukrasa para driver Ojol tersebut terhadap perekonomian Indonesia:

Baca Juga: Tak Hanya Tambah CCTV, Begini Berbagai Upaya Pemprov DKI Tangani Juru Parkir Liar yang Makin Marak

 

1. Transportasi Lumpuh, Aktivitas Ekonomi Terganggu

Ojek online kini bukan hanya moda transportasi, tetapi juga tulang punggung penggerak ekonomi informal.

Jutaan masyarakat baik sebagai pengguna jasa transportasi maupun layanan pesan-antar makanan dan barang bergantung pada mereka untuk mobilitas dan logistik harian.

Ketika layanan ini berhenti massal selama satu hari, dampaknya bisa langsung terasa: keterlambatan pengiriman, anjloknya transaksi UMKM berbasis daring, hingga terhambatnya mobilitas pekerja sektor informal.

"Bayangkan Jakarta, Surabaya, atau Medan tanpa ribuan armada ojek online dalam sehari penuh," kata pria yang puluhan tahun berkecimpung di dunia pers ini.

Bagi warga yang selama ini mengandalkan kepraktisan dan kecepatan layanan ini, ketidakhadiran mereka akan menciptakan disrupsi nyata baik secara sosial maupun ekonomi.

Baca Juga: 6 Tempat Wisata Paling Keren untuk Pecinta Buku: Dari Pantai hingga Tengah Hutan

2. UMKM dan Platform Digital Terpukul

Layanan pesan antar yang dikelola oleh para pengemudi ojol telah menjadi katalis pertumbuhan UMKM digital. Mereka adalah penghubung antara pelaku usaha kecil dan konsumen.

Aksi mogok besar-besaran berpotensi menurunkan omzet pelaku UMKM secara drastis, khususnya yang tidak memiliki opsi pengiriman alternatif.

Platform digital pun akan merasakan imbas langsung. Lonjakan komplain pelanggan, penurunan trafik, serta potensi kehilangan kepercayaan konsumen dapat merusak reputasi dan stabilitas operasional dalam jangka pendek.

"Belum lagi, investor akan mencermati dengan seksama reaksi aplikator terhadap krisis ini," tambah Kepala Prodi Akuntansi Unpam ini.

3.Tuntutan yang Perlu Didengar

Rencana demo ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Sudah lama para pengemudi menyuarakan keresahan soal insentif yang terus menurun, ketidakpastian status kemitraan, dan beban operasional yang tinggi.

Suripto berpendapat, pemerintah perlu hadir sebagai penengah yang adil antara kepentingan korporasi dan kesejahteraan mitra pengemudi.

"Ketimbang merespons secara reaktif saat demo telah berlangsung, lebih bijak jika pemerintah dan aplikator membuka ruang dialog yang sejajar," tegasnya.

Transparansi algoritma penentuan tarif, regulasi yang melindungi mitra pengemudi, serta sistem pengaduan yang berpihak adalah langkah konkret yang dapat meredam konflik struktural ini.

Baca Juga: Normalisasi Kali Ciliwung, Dinas SDA Pemprov DKI Jakarta Ajukan Tambahan Anggaran di APBD Perubahan 2025, Segini Jumlahnya!

4. Momentum Evaluasi Ekonomi GIG

Rencana aksi tanggal 20 Mei besok ini seharusnya menjadi momentum refleksi nasional atas ketergantungan kita pada ekonomi GIG.

Apakah kita telah menciptakan ekosistem yang berkelanjutan bagi para pekerja digital ini?

Ataukah kita hanya menikmati kemudahan layanan tanpa peduli pada kondisi para penggeraknya?

"Demo ini bukan sekadar bentuk perlawanan, tetapi juga panggilan untuk membangun sistem yang lebih adil dan manusiawi," ujarnya.

Baca Juga: Lengkap! Prapendaftaran SPMB Jakarta 2025 Mulai Dibuka Termasuk dari Luar Daerah, Simak Syarat dan Cara Daftarnya di Sini

"Di tengah semangat Hari Kebangkitan Nasional, mari kita anggap ini sebagai sinyal kebangkitan kesadaran bersama akan pentingnya keadilan sosial dalam lanskap ekonomi digital Indonesia," pungkasnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.