Jakarta

Terungkap Semut Terbesar di Dunia Ada di Indonesia, Kini Jadi Incaran Kolektor

Yusuf Doank | 20 Juni 2026, 14:48 WIB
Terungkap Semut Terbesar di Dunia Ada di Indonesia, Kini Jadi Incaran Kolektor
Terungkap Semut Terbesar di Dunia Ada di Indonesia, Kini Jadi Incaran Kolektor

AKURAT JAKARTA – Kasus penyelundupan lima ekor semut gajah (Dinomyrmex gigas) berhasil digagalkan di Bandara Internasional Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, pada Selasa (16/6/2026).

Serangga berukuran raksasa tersebut diketahui hendak dikirim ke luar Pulau Kalimantan tanpa dokumen resmi karantina, yang memicu kembali perhatian publik terhadap eksistensi satwa unik ini di kalangan kolektor.

Meskipun semut gajah belum masuk dalam daftar satwa yang dilindungi menurut Permen LHK Nomor 106 Tahun 2018 maupun daftar merah IUCN, lintas pengirimannya tetap wajib melewati prosedur perizinan ketat.

Baca Juga: Resmi Dikonfirmasi Rilis Musim Gugur 2026, Mitsubishi Pajero Ralliart Hadirkan Kenyamanan Suspensi Maksimal dan Interior yang Mewah

Semut gajah merupakan salah satu spesies semut terbesar di dunia yang menghuni kawasan hutan hujan tropis Asia Tenggara, termasuk Pulau Kalimantan. Dijuluki "semut gajah" karena ukuran fisiknya yang jauh di atas rata-rata:

Semut pekerja: Memiliki panjang tubuh mencapai 2 sentimeter (cm).

Semut prajurit: Mampu tumbuh hingga hampir 2,8 cm.

Secara fisik, satwa ini mudah dikenali melalui karakteristik tubuhnya yang hitam mengilap dengan bagian perut berwarna kemerahan.

Berdasarkan namanya, Dinomyrmex berasal dari bahasa Yunani yang berarti "semut raksasa yang menakutkan". Meski gigitannya kuat dan menyakitkan, mereka tidak memiliki racun yang mematikan.

Di habitat aslinya, semut gajah umumnya bersarang di lubang pohon atau kayu lapuk mulai dari dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Terlepas dari nilai ekonomisnya di pasar kolektor, serangga ini memegang peran krusial bagi ekosistem hutan Kalimantan.

Koloni semut gajah berfungsi sebagai pengendali populasi serangga kecil, mempercepat proses penguraian bahan organik di lantai hutan, serta membantu penyebaran benih tanaman demi keberlangsungan regenerasi hutan.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y