Ayah Ikut Momong Anak Bukan Sekadar Bantu Ibu, Ada Dampak Psikologis di Baliknya

AKURAT JAKARTA - Selama bertahun-tahun, urusan mengasuh anak dan pekerjaan rumah kerap dianggap sebagai tanggung jawab utama ibu.
Ayah lebih sering ditempatkan sebagai pencari nafkah yang bekerja di luar rumah.
Pandangan tersebut coba diubah Pemerintah Kota Surakarta melalui Gerakan Bapak Seneng Momong Anak Solo (GasMas).
Program ini mendorong para ayah untuk lebih aktif terlibat dalam pengasuhan anak dan kehidupan keluarga.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Arifah Fauzi mengapresiasi gerakan tersebut karena dinilai dapat memperkuat pembagian peran antara ayah dan ibu.
Dalam psikologi perkembangan, hubungan anak dengan orang tua berkaitan dengan pembentukan attachment atau ikatan emosional.
Anak membutuhkan sosok yang hadir, responsif, dan dapat menjadi tempat mencari rasa aman ketika menghadapi berbagai situasi.
Kehadiran tersebut tidak selalu berarti ayah harus melakukan sesuatu yang besar.
Menemani anak bermain, membantu pekerjaan rumah, mendengarkan cerita, atau sekadar meluangkan waktu untuk berbicara dapat menjadi bagian dari proses membangun hubungan.
Ketika interaksi semacam ini terjadi secara konsisten, anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenal ayahnya sebagai sosok yang dapat diajak berkomunikasi.
Baca Juga: Akun WhatsApp Kena Blokir, Jangan Asal Bayar Jasa Pembuka Blokir
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan keterlibatan ayah dalam pengasuhan tidak seharusnya dianggap sebagai sekadar “membantu ibu”.
Arifah menegaskan bahwa pengasuhan dan pekerjaan rumah merupakan tanggung jawab bersama.
“Kesetaraan gender berarti pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan tidak hanya menjadi beban ibu. Pengasuhan anak harus menjadi tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu dalam keluarga,” kata Arifah Fauzi saat memberikan sambutan dalam Peluncuran Program GasMas di Surakarta, Jawa Tengah, Minggu, 23 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perubahan yang ingin dibangun bukan hanya mengenai siapa yang mengerjakan pekerjaan rumah.
Lebih jauh, ada upaya mengubah kebiasaan dalam keluarga agar ayah tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga terlibat dalam kehidupan anak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Raker HAPPI Jatim 2026, Prof Zainul Hidayah Terpilih Jadi Ketua
- 2Legislator Golkar Andri Santosa Ingatkan Peningkatan Modal BUMD Harus Berdampak Nyata bagi Publik
- 3Legislator Golkar Dadiyono Ungkap Warga Mulai Apatis terhadap PTSL, Pilih Urus Sertifikat Sendiri
- 4Keren! Dari Keluarga Prasejahtera ke Kancah Dunia: 7 Mahasiswa Berprestasi Dilepas Bupati Tangerang Kuliah Gratis ke Tiongkok
- 5Hadiri Festival Indonesia 2026 di Korea Selatan, Wagub Rano Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta - Seoul
- 6Meski Sudah Diresmikan, 3 Stasiun LRT Jakarta Fase 1B Belum Bisa Beroperasi, Ini Penjelasan Dishub DKI
- 7RDF Rorotan Belum Maksimal, Legislator Golkar Dimaz Raditya Soroti Efektivitas Anggaran Rp170 Miliar
- 8Putusan MK Terkait Ijazah Gibran, Direktur IPO Sebut DPR Punya Celah Makzulkan Wapres
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





