Jakarta

Bukan Sekadar Rompi, Teknologi Buatan Mahasiswa UB Ini Coba Tahu Kapan Anak dengan ASD Mulai Tantrum

Anggerhana Denni Rahmawati | 27 Agustus 2026, 16:15 WIB
Bukan Sekadar Rompi, Teknologi Buatan Mahasiswa UB Ini Coba Tahu Kapan Anak dengan ASD Mulai Tantrum
Sebelum tantrum meledak, rompi pintar buatan mahasiswa UB coba membacanya lebih dulu. - prasetya.ub.ac.id

AKURAT JAKARTA - Tantrum pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) tidak selalu mudah diprediksi.

Ketika rangsangan sensorik terasa berlebihan, respons yang muncul dapat berupa menangis, berteriak, menendang hingga perilaku agresif.

Kondisi inilah yang coba diantisipasi lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melalui sebuah rompi pintar bernama ADAPT-V.

Alih-alih menunggu anak memasuki kondisi tantrum, ADAPT-V dirancang untuk mengenali tanda-tanda perubahan kondisi anak secara otomatis.

Teknologi wearable tersebut memanfaatkan sensor, kecerdasan buatan, hingga sistem tekanan udara untuk memberikan respons menenangkan ketika indikator tantrum mulai terdeteksi.

Inovasi ini dikembangkan mahasiswa dari lintas bidang, yakni Psikologi dan Teknik Elektro UB.

Mereka menggabungkan pemahaman mengenai kondisi emosional anak dengan teknologi untuk menghasilkan perangkat yang diharapkan dapat membantu orang tua maupun terapis menghadapi situasi tantrum.

Salah satu persoalan dalam menangani tantrum adalah respons sering kali baru diberikan ketika anak sudah berada dalam kondisi emosional yang sulit dikendalikan.

ADAPT-V mencoba mengambil pendekatan berbeda dengan mendeteksi perubahan kondisi anak secara real-time.

Anggota tim dari Program Studi Psikologi UB, Muhammad Nafis Khilmi, menjelaskan bahwa anak dengan ASD dapat mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan sensorik.

Baca Juga: Pendaki Merbabu Harus Menunggu, Ada Pembenahan di Jalur Menuju Kenteng Songo

Kondisi tersebut kemudian dapat memicu respons emosional yang intens.

"Anak dengan ASD sering kali mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan sensorik, yang dampaknya bisa memunculkan perilaku menangis, berteriak, menendang, hingga tindakan agresif yang membahayakan dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar," kata Muhammad Nafis Khilmi, dikutip melalui keterangan UB, ditulis Rabu (26/8/2026).

Dari persoalan tersebut, tim mengembangkan ADAPT-V dengan pendekatan Deep Pressure Therapy (DPT).

Metode ini memberikan tekanan terkontrol pada tubuh yang diharapkan dapat menghadirkan sensasi nyaman menyerupai pelukan.

Tekanan tersebut tidak diberikan secara sembarangan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.