Perpusnas Ubah Naskah Kuno Jadi Komik, Biar Sejarah Nusantara Tak Makin Jauh dari Anak

AKURAT JAKARTA - Naskah kuno Nusantara selama ini identik dengan dokumen lama yang tersimpan di perpustakaan atau lembaga budaya.
Namun, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mencoba membawa isi naskah tersebut keluar dari kesan sebagai bacaan yang sulit dipahami anak-anak.
Sebanyak 50 karya berupa buku anak dan komik dikembangkan dari sembilan kelompok naskah kuno Nusantara.
Karya tersebut mencakup 38 buku anak bergambar, dua chapter book, dan 10 komik.
Sembilan kelompok naskah yang menjadi sumber adaptasi yakni Desawarnana, Hikayat Aceh, I La Galigo, Peto Syarif, Siksa Kandang Karesian, Sutasoma, Syekh Yusuf, Tuanku Imam Bonjol, dan Panji Kuda Semirang.
Khusus naskah Syekh Yusuf, dikembangkan menjadi delapan judul.
Transformasi ini menjadi upaya untuk menjawab persoalan yang sering muncul dalam pelestarian naskah lama.
Naskah mungkin tetap tersimpan dan terawat secara fisik, tetapi isi dan pengetahuannya berisiko semakin jauh dari generasi yang tidak lagi akrab dengan bahasa, aksara, maupun konteks kehidupan pada masa lalu.
Dosen ITB sekaligus Ketua Tim Produksi Buku Bacaan Anak dan Komik Naskah IKON dan MoW, Riama Maslan Sihombing, mengatakan naskah kuno sebenarnya merekam berbagai sisi kehidupan masyarakat masa lalu, mulai dari kekuasaan hingga spiritualitas.
"Naskah dapat tetap terjaga secara material, sementara hubungan generasi berikutnya dengan pengetahuan di dalamnya perlahan mungkin terputus. Bahasa dan aksaranya mungkin tidak lagi akrab, konteks sosialnya terasa berbeda, dan tokoh-tokohnya tidak selalu mudah dikenali oleh anak-anak hari ini," jelas Riama.
Karena itu, bentuk penyajian menjadi bagian penting dalam pelestarian.
Cerita yang sebelumnya hadir dalam naskah dengan bahasa dan konteks lama diterjemahkan ke dalam format yang lebih visual dan komunikatif.
Kepala Perpusnas E Aminudin Aziz mengatakan kolaborasi dengan ITB, khususnya Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, dilakukan untuk mendekatkan sejarah, budaya, dan kearifan lokal kepada generasi masa kini.
"Tujuan penerbitan ini sangatlah jelas, bahwa kami ingin anak-anak di tanah air lebih mengenal jati diri dan sejarah bangsanya sendiri, sekaligus menjadikan karya ini sebagai jembatan untuk memperkenalkan mahakarya intelektual dan warisan Nusantara kita kepada dunia internasional," ujarnya.
Menurut Aminudin, mengubah naskah menjadi buku anak dan komik bukan berarti menghilangkan nilai yang terkandung di dalamnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Andorra vs Malta di UNL, 24 September 2026: Mampukah Tim Tamu Pertahankan Rekor Tak Terkalahkan?
- 2Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di UNL, 25 September 2026: Duel Perdana yang Sulit Diprediksi
- 3Lowongan Kerja di MRT Jakarta Tahun 2026: Buka 19 Formasi Lulusan SMA/SMK hingga S1, Simak Syarat dan Cara Daftarnya
- 4Prediksi Skor Austria vs Israel di UNL, 25 September 2026: Tuan Rumah Bidik Awal dengan Kemenangan
- 5Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di UNL, 25 September 2026: Erling Haaland Berpeluang Putus Dominasi Tim Tamu
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UNL, 25 September 2026: Duel Sengit di Rajko Mitic
- 7Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di UNL, 25 September 2026: Duel Dua Tim yang Sama-Sama Seret Gol
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman di UNL, 25 September 2026: Duel Xavi dan Klopp Buka Era Baru
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!


