Jakarta

Perpusnas Ubah Naskah Kuno Jadi Komik, Biar Sejarah Nusantara Tak Makin Jauh dari Anak

Anggerhana Denni Rahmawati | 24 September 2026, 18:30 WIB
Perpusnas Ubah Naskah Kuno Jadi Komik, Biar Sejarah Nusantara Tak Makin Jauh dari Anak
Ilustrasi naskah kuno. - ANTARA

AKURAT JAKARTA - Naskah kuno Nusantara selama ini identik dengan dokumen lama yang tersimpan di perpustakaan atau lembaga budaya.

Namun, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mencoba membawa isi naskah tersebut keluar dari kesan sebagai bacaan yang sulit dipahami anak-anak.

Sebanyak 50 karya berupa buku anak dan komik dikembangkan dari sembilan kelompok naskah kuno Nusantara.

Karya tersebut mencakup 38 buku anak bergambar, dua chapter book, dan 10 komik.

Sembilan kelompok naskah yang menjadi sumber adaptasi yakni Desawarnana, Hikayat Aceh, I La Galigo, Peto Syarif, Siksa Kandang Karesian, Sutasoma, Syekh Yusuf, Tuanku Imam Bonjol, dan Panji Kuda Semirang.

Khusus naskah Syekh Yusuf, dikembangkan menjadi delapan judul.

Transformasi ini menjadi upaya untuk menjawab persoalan yang sering muncul dalam pelestarian naskah lama.

Naskah mungkin tetap tersimpan dan terawat secara fisik, tetapi isi dan pengetahuannya berisiko semakin jauh dari generasi yang tidak lagi akrab dengan bahasa, aksara, maupun konteks kehidupan pada masa lalu.

Dosen ITB sekaligus Ketua Tim Produksi Buku Bacaan Anak dan Komik Naskah IKON dan MoW, Riama Maslan Sihombing, mengatakan naskah kuno sebenarnya merekam berbagai sisi kehidupan masyarakat masa lalu, mulai dari kekuasaan hingga spiritualitas.

"Naskah dapat tetap terjaga secara material, sementara hubungan generasi berikutnya dengan pengetahuan di dalamnya perlahan mungkin terputus. Bahasa dan aksaranya mungkin tidak lagi akrab, konteks sosialnya terasa berbeda, dan tokoh-tokohnya tidak selalu mudah dikenali oleh anak-anak hari ini," jelas Riama.

Baca Juga: Jalur Torean Rinjani Ditutup Mulai 23 September, Pendaki Tak Perlu Batalkan Perjalanan, Ini Solusinya

Karena itu, bentuk penyajian menjadi bagian penting dalam pelestarian.

Cerita yang sebelumnya hadir dalam naskah dengan bahasa dan konteks lama diterjemahkan ke dalam format yang lebih visual dan komunikatif.

Kepala Perpusnas E Aminudin Aziz mengatakan kolaborasi dengan ITB, khususnya Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, dilakukan untuk mendekatkan sejarah, budaya, dan kearifan lokal kepada generasi masa kini.

"Tujuan penerbitan ini sangatlah jelas, bahwa kami ingin anak-anak di tanah air lebih mengenal jati diri dan sejarah bangsanya sendiri, sekaligus menjadikan karya ini sebagai jembatan untuk memperkenalkan mahakarya intelektual dan warisan Nusantara kita kepada dunia internasional," ujarnya.

Menurut Aminudin, mengubah naskah menjadi buku anak dan komik bukan berarti menghilangkan nilai yang terkandung di dalamnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.