Jakarta

Kulit Bawang Merah Tak Lagi Jadi Sampah, Mahasiswa UMM Sulap Jadi Pewarna Batik Jumputan

Anggerhana Denni Rahmawati | 24 September 2026, 20:45 WIB
Kulit Bawang Merah Tak Lagi Jadi Sampah, Mahasiswa UMM Sulap Jadi Pewarna Batik Jumputan
Mahasiswa UMM ubah limbah kulit bawang jadi pewarna batik jumputan. - UMM

AKURAT JAKARTA - Kulit bawang merah biasanya dianggap sebagai limbah dapur yang tidak lagi memiliki manfaat.

Namun, di tangan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), bagian bawang yang kerap berakhir di tempat sampah itu justru diolah menjadi bahan pewarna alami untuk batik jumputan.

Inovasi tersebut dikembangkan mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) pada Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) UMM melalui proyek bernama Allium Dye by Nafuma.

Tidak berhenti sebagai eksperimen, inovasi ini juga dipraktikkan bersama masyarakat agar pemanfaatan limbah tersebut dapat dikembangkan menjadi keterampilan yang memiliki nilai ekonomi.

Sebanyak 25 anggota Kelompok Tani Wanita (KWT) Putri Pandan Wangi di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, mengikuti praktik pengolahan kulit bawang merah pada Rabu (16/9/2026).

Para anggota KWT diperkenalkan pada proses ekstraksi kulit bawang merah hingga menghasilkan pewarna alami yang kemudian diaplikasikan ke kain menggunakan teknik jumputan.

Ketua Kelompok PPG UMM Aminatus Zuhriah menjelaskan, kulit bawang merah memiliki pigmen alami seperti antosianin dan flavonoid.

Kandungan tersebut memungkinkan kulit bawang menghasilkan warna yang dapat dimanfaatkan dalam proses pewarnaan kain.

Antosianin dapat menghasilkan warna merah hingga keunguan dan dipengaruhi tingkat keasaman atau pH.

Sementara itu, flavonoid juga berkontribusi terhadap warna dan memiliki sifat antioksidan.

Baca Juga: Perpusnas Ubah Naskah Kuno Jadi Komik, Biar Sejarah Nusantara Tak Makin Jauh dari Anak

Dari proses ekstraksi, kulit bawang merah dapat menghasilkan warna kecokelatan hingga kemerahan.

Warna tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami untuk membuat motif pada kain jumputan.

Dengan demikian, bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat memiliki fungsi baru dalam proses produksi kerajinan.

Nama Allium Dye by Nafuma sendiri juga berkaitan dengan bahan yang digunakan.

Kata Allium merujuk pada genus tumbuhan bawang-bawangan, sedangkan Dye berarti pewarna.

“Nama ini kami pilih karena ingin menunjukkan bahwa bahan utama produk berasal dari bawang-bawangan dan hasil akhirnya berupa pewarna alami,” jelas Aminatus.

Proyek tersebut dikerjakan bersama sembilan mahasiswa lainnya. Mereka mengembangkan inovasi dengan konsep “From Waste to Art”, yang menempatkan limbah sebagai bahan awal untuk menghasilkan karya kreatif.

Kasus ini menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah tidak selalu membutuhkan bahan yang sulit ditemukan.

Kulit bawang merah yang tersedia dari aktivitas rumah tangga maupun pertanian dapat dikumpulkan dan diolah menjadi bahan pewarna.

Bagi masyarakat, keterampilan tersebut juga berpotensi menjadi pintu masuk untuk mengembangkan produk kerajinan berbasis bahan alami.

Baca Juga: Skor Sains Indonesia 389, Mayoritas Siswa Belum Capai Level Dasar PISA

KWT Putri Pandan Wangi tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai pengolahan limbah, tetapi juga pengalaman mengubahnya menjadi produk tekstil.

Kolaborasi mahasiswa dan masyarakat tersebut diharapkan dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Jika proses pengolahan dapat dilakukan secara konsisten, limbah kulit bawang merah tidak lagi hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai bahan baku untuk produk kreatif yang memiliki nilai guna dan ekonomi. (*)

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.